Categories: opiniSimponi

Wanita Adalah Tiang

Share

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw menyatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”. Pundak berat rasanya tatkala diingatkan kalimat tersebut. Betapa diri menyadari bahwa tugas kita sebagai seorang wanita tidaklah ringan. Bahkan negara menjadi taruhannya. Di sisi lain, bangga menjadi wanita karena kami dianggap penting. Hehehe….

Dari hadis tersebut, dapat kita fahami bahwa Islam datang bukan untuk mendiskreditkan wanita seperti kaum-kaum terdahulu sebelum datangnya Islam, yang menganggap wanita tidak ada nilainya. Sehingga kaum wanita boleh diperlakukan bagaimanapun oleh kaum pria. Nampak dari bagaimana budaya kaum Arab sebelum kelahiran Rasulullah. Mereka akan mengubur hidup-hidup anak perempuan yang lahir.

Islam datang untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Wanita diberi kedudukan istimewa dalam Islam. Bukan hanya sebagai orang yang melahirkan anak manusia. Namun juga sebagai tonggak tatanan masyarakat. Kelembutan perilaku tidak lantas menjadikan kedudukan wanita diabaikan. Justru menjadi potensi yang menjadikan wanita menduduki garda terdepan dalam perjuangan.

Dari para wanita lah akan terlahir ilmuan-ilmuan cerdas, pemimpin-pemimpin besar dunia, ulama-ulama alim, dan para generasi hebat yang bermanfaat untuk orang lain, agama, dan bangsanya. Nasib bangsa ini tidak semata bergantung pada seperti apa pemimpin/ penguasa negaranya, tetapi lebih pada bagaimana keadaan kaum wanitanya.

Rasulullah Saw mengumpamakan wanita sebagai sebuah “tiang”. Bukan pintu, dinding, atap atau jendela. Betapa tiang adalah bagian terpenting bagi berdiri tegaknya sebuah bangunan. Kokoh tidaknya sebuah bangunan ditentukan oleh tiangnya. Jika tiang tersebut rapuh, ambruklah bangunan itu.

Rasulullah memberikan perumpamaan wanita sebagai tiang, karena wanita lah yang akan menjadi penopang kehidupan. Jangan hanya difahami bahwa kegiatan wanita hanya sebatas mengurus pekerjaan rumah tangga saja. Atau lebih parah lagi jangan dianggap hanya seputar dapur, kasur, dan sumur. Sadarilah, keberlangsungan sebuah peradaban berawal dari dalam “Rumah”. Rumah menjadi tempat pertama tumbuh kembang bibit-bibit penerus bangsa.

Baca Juga: Mengenal Muslimat NU

Saya sangat mengapresiasi mereka (kaum lelaki) yang dapat memahami betul hakikat seorang wanita. Mereka tak akan menganggap apa yang dilakukan seorang istri/ ibu (wanita) di dalam rumah hanya sebatas “aktivitas” yang tak menghasilkan uang. Karena pengabdian seorang wanita di dalam rumah tak akan bisa dibayar dengan harga berapa pun.

Berawal dari kehidupan sebuah keluarga, wanita berperan sebagai sandaran bagi keluarganya. Maka wanita harus mempunyai hati yang kuat, tidak mudah rapuh diterjang problematika kehidupan. Layaknya sebuah bangunan, tiangnya tak perlu terlalu tampak dari luar, namun ia tetap ada untuk menopang bangunan tersebut dari dalam. Begitu juga seorang wanita, tak perlu ia memperlihatkan kekuatannya pada orang lain. Ia berada di belakang sebagai sumber kekuatan bagi keluarganya.

Sebagai sebuah tiang, yang paling penting adalah kekuatannya. Wanita tidak harus menyibukkan dirinya dengan memoles tampilan luarnya, tetapi harusnya ia lebih memperhatikan kondisi dalam hatinya, sudah seberapa kuat kah ia untuk menopang?!

Wanita harus diberi ruang seluas-luasnya untuk bisa menuntut ilmu dan memperbaiki diri. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Menuntut ilmu itu wajib bagi kaum muslimin dan muslimah.”

Banyak hal positif yang tercipta dengan membina kaum wanita, karena seorang “Ibu” berasal dari kaum wanita. Apalagi Ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya. Apabila ibunya sudah baik maka keluarganya akan baik. Apabila satu keluarga baik, maka akan memberi manfaat dan menularkan kebaikan bagi orang di sekitarnya. Virus kebaikan itu akan terus menyebar, tidak hanya di satu benua namun satu dunia akan terbina dengan mendidik wanita.

Kata-kata bijak menyatakan “Senakal-nakalnya seorang anak, tetap bisa menjadi baik selama pernah diasuh oleh wanita yang baik. Tapi wanita yang rusak, hanya akan melahirkan generasi yang rusak juga”.

Maka dari itu, wanita dituntut untuk cerdas dan berakhlak yang baik. Dengan terus berusaha memperbaiki kualitas diri, sejatinya kita, wanita adalah tiang dan berjuang untuk membangun bangsa.


RNC – Seni tablig Seniman NU