Categories: SimponiWarganet

Umat Islam yang Satu dengan yang Lain Adalah Cermin

Share

Pribadi yang santun dan penuh keluhuran itu kapanpun dan di manapun sebenarnya nyambung dengan urat akar yang ada di dalam diri kita, yaitu ciri khas umat Islam. Maka itu sajalah yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Maka apapun yang kita lakukan akan menjadi bagian pahala atau tidaknya. Yang kedua adalah kehidupan sosial kita ini dilaksanakan penuh dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak usah membuat pernyataan yang menyinggung perasaan menyakiti apalagi yang membawa sara.

Yang ketiga, kehidupan yang indah ini juga harus berlangsung dengan suasana persatuan indonesia. Yang keempat, menjadi muslim yang penuh keluhuran ini adalah perwujudan dari kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan. Untuk apa?! Menjangkau keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Banyak hal yang jika kita kembalikan kepada ajaran Islam yang santun dan baik. Kita justru akan memperoleh kesadaran diri sebagai umat bangsa dan warga negara yang baik. Selama kita masih kembalikan itu kepada dasar ajaran agama Islam yang baik, sopan, dan santun, itu akan sangat indah dan menyenangkan.

Teladan Umat Islam

Sebagai umat Islam yang baik, memberikan contoh yang baik dan teladan bagi generasi penerus adalah wajib hukumnya. Gunakanlah kesempatan bagi anak–anak untuk mengambil pelajaran. Kalau ditingkat usia anak SD ke bawah adalah olah fakta, ada dua hal yang penting bagi anak–anak untuk tidak melakukan akhlak yang tidak baik berkaitan tentang olah fakta. Yang pertama adalah urutan kejadian, kadang anak tidak merasa bahwa pukulan tangannya itu mengakibatkan temannya menangis, maka beri tahu anak–anak. Kalau urutan kejadiannya baik, maka menimbulkan manfaat yang baik, tapi coba kalau Anda memukul, mengatai temanmu, hal yang berikutnya yang akan terjadi apa?!

Lihat pak tani itu bekerja, menanam, memanen, mengumpulan ke penggilingan, ke pasar, bisa kamu makan. Akhlak mazmumah atau akhlak yang tidak baik sering memutus kejadian di dalam pikiran, seolah apa yang dia pikirkan bisa langsung terjadi dalam kenyataan. Maka ciri dari akhlak mazmumah adalah ketegaan, karena tidak tahu-menahu dalam perasaan dirinya tentang urutan kejadian. Segala sesuatu butuh proses sampai dengan kita menikmatinya dan hati–hati sampai dengan tindakan kita akan berbuah sesuatu dikemudian hari.

Kalau untuk anak–anak pada level SMP/MTS, maka naluri belajar mereka adalah olah-faktor, maka kita senang sekali dulu ketika masih di SMP suka menulis. Faktor keberanian itu apa? Tanyakan ke anak SMP itu apa, karena mereka sudah mulai belajar faktor fotosintesis dan lain sebagainya.

Nah, faktor keberanian itu apa saja?!

Berikutnya faktor kesalehan itu apa saja?! Itu yang ditingkat apa saja?! Faktor pahala itu apa saja?! Faktor pahala itu apa saja?! Faktor kemerdekaan itu apa saja?! Faktor kehormatan bangsa itu apa saja?! Anak–anak akan asing sekali. Nanti kalau ditingkat SMA/ Aliyah, anak–anak sudah mulai belajar olah-fungsi. Fungsi nasi untuk apa?! Untuk makan misalnya, untuk dibagikan kepada sesama misalnya. Fungsi keberanian untuk apa?! Untuk nakali orang lain?! Atau untuk melindungi sesama manusia?! Atau untuk meraih prestasi dibidang olahraga?! Atau melakukan uji eksperimental daun yang ada di sekitar kita?!

Anak-anak ini kalau belajar sesuai dengan naluri belajarnya, mereka akan terjauhkan dari akhlak–akhlak yang tidak baik, karena akhlak mazmumah itu pola pikir yang berisi tentang potongan–potongan yang masing-masing tidak sesuai dengan tabiat kemanusiaan. Kita percaya bahwa akhlaq yang tidak baik itu mudah masuk dan diterpakn karena anak muda dalam suasana yang tidak nyaman dalam belajar. Maka marilah kita ciptakan habitat belajar yang nyaman di madrasah sekolah tempat kursus termasuk di pelosok–pelosok, agar anak merasakan sekolah sebagai habitat yang baik untuk menumbuhkan akhlaqul karimah, akhlaqul mahmudah, akhlak yang baik, keindonesiaan, menggapai cita-cita mereka, dan kegembiraan semasa mereka belajar.

Memenuhi manusia dengan keluhuran, ada dalam dialog sufi yang bernama Rabiah Al Adawiyah ketika dia ditanya kamu mencintai Allah? Iya, saya mencintai Allah dan kebaikan, berarti kamu sangat membenci setan. Saking penuhnya kebaikan dalam hatiku dari Allah hingga tidak ada ruang bagi setan untuk menempati. Penuhi mereka dengan keluhuran, bisa dengan filsafat sederhana tentang kebaikan dari segi kognitif. Atau yang kedua, tentang apa itu kebaikan? Ya apa yang diberikan oleh alam dan di atas namakan itu kepada karunia Allah. Kalau mereka dipenuhi dengan keluhuran, maka hati akan sangat penuh dengan kebaikan sampai tidak ada ruang untuk ditempati oleh kebencian. Kalau itu terjadi maka insyaallah akan tercipta keindahan–keindahan yang diciptakan oleh budi pekerti dan akhlak yang luhur oleh umat Islam di Indonesia.

Namun perlu di ingat untuk mewujudkan dari itu sebaiknya kita harus sanggup sabar, melakukan refleksi sosial, melakukan konsolidasi sosial dan resolusi sosial untuk kembali memperkuat iman, akhlak, dan jati diri bangsa Indonesia.


Fadhel Moubharok – IPNU Sukoharjo