Umar bin Khattab, Snouck Hurgronje dan Deddy Corbuzier

Ketika mendengar Deddy Corbuzier masuk Islam, saya anggap biasa-biasa saja. Karena sudah banyak non-muslim yang juga masuk Islam. Tapi, apa yang unik dari Deddy?! Adalah pertanyaan menarik yang butuh jawaban serius.

Di Amerika dan hampir seluruh negara, siapa yang tidak kenal Mike Tyson,  petinju legendaris,  waktu itu menjadi tranding topic setelah dirinya memeluk agama Islam. Jauh sebelum Tyson atau Deddy, Umar bin Khattab juga pernah menjadi viral di Makkah setelah dirinya mengenal agama Islam. Bahkan para sahabat terdekatnya tidak percaya dengan keislaman Umar. Yang mereka tahu,  Umar adalah lelaki pemabuk dengan wataknya yang keras kepala. Tapi,  kok bisa Umar masuk Islam?! Lantas apa yang unik dari Islam masa itu dan saat ini?!  

Baca Juga: Fitnah Wahabi terhadap Nabi

Pada awal abad 19, di Indonesia dan juga di negeri Belanda, siapa yang tidak kenal Snouck Hurgronje. Laki-laki berperawakan Eropa itu pernah mengunyah ajaran Islam.  Dia rela masuk Islam demi mencari tahu apa kelemahan dari Islam.

Jika kita cermati pengalaman individual dari keempat orang itu, Umar, Hurgronje, Tyson, dan Deddy,  maka kita akan menemukan bahwa keislaman mereka didasari oleh motif tertentu. Lantas,  apa yang membedakan keislaman di antara keempat orang tersebut?

Sekilas tentang Umar bin Khattab, adalah sahabat nabi yang paling terkenal. Beliau adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar As-Shiddiq. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai laki-laki pemabuk dan suka bertarung. Orang-orang Makkah sangat segan dan takut padanya. Sebab beberapa kali Umar ikut gulat dia selalu menang.

Di samping itu, Umar dikenal sebagai sahabat yang sangat rasional. Terlihat saat beliau menolak untuk salat di Gereja Makam Kudus di Palestina setelah kota al-quds itu dibebaskan oleh umat Islam dari dominasi kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Umar mengatakan kepada Uskup Sophronius bahwa, “Jika saya mendirikan salat di gereja ini,  saya khawatir orang-orang nantinya akan menduduki gereja ini dan menjadikannya sebagai masjid”. Inilah wujud kerasionalan Umar bin Khattab.

Karena beberapa kelebihan dari Umar itulah, sampai-sampai Nabi Muhammad SAW selalu mendoakan Umar agar masuk Islam, dan alhamdulillah tenyata benar, Umar pun masuk Islam. Keislaman Umar waktu itu didasari ketika ia mendengar adik perempuannya sedang membaca Alquran. Dia begitu kagum dengan kandungan yang ada di dalam Alquran. Ayat-ayat yang di lantunkan adiknya itu seolah menampar dirinya, jauh dari apa yang pernah di rasakan sebelumnya, terkait ketidakadilan yang merajalela di seputar Makkah. Dia merasa ada titik-temu antara apa yang dirasakannya dengan kandungan Alquran, karena itulah dia memilih untuk bersyahadat. Sejak Umar masuk Islam, maka kekuatan Islam waktu itu kian bertambah.

Baca Juga: Barakallahu fi Umrik Nahdlatul Ulama

Berikutnya marilah kita tengok keislaman Hurgronje. Laki-laki bergelar doktor bahasa dan sastra oriental ini pernah di kirim ke Makkah untuk mengamati kehidupan jamaah haji di sana. Dia di kirim oleh Johan Kruyt -konsul Belanda di Jeddah- ke Makkah karena tertarik dengan tulisan Hurgronje. Padahal Makkah yang diketahui banyak orang adalah kota yang haram bagi orang “kafir”  kecuali menjadi muslim terlebih dahulu.

Oleh karena Makkah haram bagi orang non-muslim maka Hurgronje memilih untuk disunat agar dirinya bisa masuk ke kota suci itu. Setelah disunat, Hurgronje merubah namanya menjadi Abdul Ghaffar. Sejak itulah dia mulai mengembara sebagai peneliti etnografi termasyhur di Makkah dan sekitarnya. Ghaffar sangat lihai saat bergaul. Dia memilih tokoh-tokoh kunci untuk dijadikan subjek penelitian. Sohib Ghaffar yang cukup terkenal yakni Raden Abu Bakar Djajadiningrat.  Bersamaan dengan Abu Bakar,  Ghaffar akhirnya sampai di lembah Makkah.

Setibanya di Makkah, dia menjumpai bangunan kotak yang berada di tengah masjidil haram. Dia hanya mengamati bangunan unik tersebut. Selepas itu dia mengambil sebotol air zam-zam dan mengirimkannya ke Leiden, kepada sahabat karibnya ahli Kimia yakni Pieter van Romburgh untuk di teliti kandungan air khasiat itu.

Ghaffar juga sempat bertemu dengan rektor universitas Makkah yakni Sayyid bin Ahmad Zaini Dahlan. Dia menjamu Sayyid ke rumahnya, dan berhasil menarik lawan bicaranya itu untuk mengenal Islam lebih dalam. Selang beberapa lama di Makkah, Ghaffar lalu kembali ke Leiden,  dan menerbitkan buku yang paling terkenal berjudul Makka. Buku itu kian mendunia, sampai nama Snouck Hurgronje menjadi buah bibir saat konferensi orientalis di Wina.

Kegemilangan Ghaffar (Hurgronje) ini menarik perhatian pemerintah Den Haag yang risau dengan perlawanan Aceh waktu itu. Atas permintaan Den Hag, Ghaffar lagi-lagi mendapat kepercayaan untuk berkelana ke Aceh. Dia tertarik dengan Aceh karena masyarakatnya sangat fanatik dengan Islam. Sesampainya di Aceh, Ghafar lalu mengatur siasat bersama pemerintah kolonial untuk membasmi pemberontakan rakyat Aceh dibawah kepemimpinan Umar dan Cut Nyak Dien,  dan dia berhasil melakukannya.

Itulah sepenggal kisah tentang Snouck Hurgronje atau Abdul Ghaffar. Jika kita cermati kisah keberislaman antara Umar bin Khattab dan Hurgronje maka kita akan temukan bahwa kedua orang ini punya motif (niat) yang sangat berbeda-beda. Umar masuk Islam disebabkan oleh sentuhan dari ayat-ayat Alquran. Akhirnya umar masuk Islam. Berbeda dari Umar, Snouck Hurgronje masuk Islam didasarkan oleh rasa ingin tahunya tentang orang-orang Islam.

Pendekatan yang digunakan Snouck yakni etnografi, ialah menggali apa yang mendasari setiap muslim berperilaku alih-alih struktur berpikir kalangan muslim waktu itu. Sedangkan pendekatan Umar ialah pendekatan rasa, ialah menyelaraskan antara masalah kehidupan yang dirasakan terjadi di Makkah dengan tujuan Islam. Jadi,  pendekatan kedua orang ini dalam mengenal Islam sangatlah berbeda.

Baca Juga: وليتلطف

Sekarang mari kita tengok keberislaman Deddy Corbuzier. Apa yang unik dari keislamannya Deddy?! Deddy, awalnya dikenal sebagai pesulap, berambut panjang dengan model shaolin. Namanya mulai melejit ketika menjadi presenter di salah-satu acara televisi yang paling terkenal,  yakni Hitam-Putih.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan banyak orang, Deddy akhirnya memeluk agama Islam. Deddy mengucap kalimat syahadat dipandu Gus Miftah di masjid al-Mbejaji Sleman. Alasan Deddy memeluk Islam ialah karena dirinya merasa tenang setelah mengenal Islam melalui dialog dengan gus Miftah. Dari hal itu terlihat bahwa pendekatan Deddy saat mengenal Islam ialah melalui pendekatan rasa, seperti juga yang dialami Umar. Dialog Deddy dengan gus Miftah juga dapat dikatakan dialog rasa.

Jadi ada perbedaan yang tajam antara keislaman Umar dan Deddy dengan Snouck. Jika Umar dan Deddy mengenal Islam melalui rasa, maka Snouck lebih menggunakan akal untuk mengetahui dunia Islam. Dampak dari keislaman ketiga orang ini juga sangat berbeda. Islamnya Umar dan Deddy sangat memberi warna positif bagi dunia Islam, sedangkan Snouck malah menghancurkan Islam dari dalam.

Itulah sekilas tentang keberislaman dari ketiga tokoh penting tersebut. Semoga keislaman Deddy dapat memberi warna positif dalam dunia Islam, sehingga membuatnya naik pangkat menjadi orang alim yang bersahaja terhadap sesama umat manusia. Sebagai pelajaran, semoga kepribadian Snouck tidak bereinkarnasi di era modern saat ini, yang berupaya menggerogoti tubuh Islam dari dalam serta memporak-porandakan bangunan Islam Indonesia.


Muh Kashai Ramdhani Pelupessy S2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!