Ulama di Balik Kemerdekaan Indonesia

Ikhtiar dan doa itu ibarat pinang dibelah dua. Orang bijak selalu bilang, “usaha tanpa doa adalah sombong, doa tanpa usaha adalah bohong.” Prinsip manusia sebagai pemeluk agama, khususnya agama samawi. Begitupun dengan kemerdekaan Indonesia yang diikhtiari oleh para pahlawan (pejuang) dan organisasi atau partai yang silih berganti menyusun strategi untuk memerdekakan Indonesia dari para penjajah.

Oleh karena masyarakat Indonesia yang sudah sangat agamis sejak dulu, maka selain ikhtiar, juga dibarengi dengan berbagai bentuk doa, wirid, hizib, dan suwuk dari para alim ulama atau tokoh masyarakat sekitar. Mereka mungkin tidak tampil terdepan dalam catatan-catatan tebal buku sejarah. Namun kita perlu mengenang sosok mereka yang berdoa siang malam tanpa niat untuk terkenal dan dikenal oleh masyarakat luas. Kalau Soekarno memekikan Jas Merah (Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah), maka para santri diingatkan tentang slogan Jas Hijau (Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama)

Sayangnya kurang arsip untuk menghimpun betapa banyaknya ulama yang turut berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Hanya beberapa yang tercatat di media sebagai ulama yang memberi sumbangsih atas kedaulatan negara Indonesia. Berikut kami sajikan beberapa tokoh ulama yang berperan di balik kemerdekaan Indonesia.

  • Hadratussyekh KH. Hasyim As’ary

Pentolan ulama Indonesia yang juga merupakan pendiri organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama. Salah satu ulama yang dimintai saran oleh Ir. Soekarno soal teks pancasila. Ulama yang menggerakan barisan santri menggempur penjajah dalam semangat Revolusi Jihad. Sebagai orang yang dituakan, banyak pahlawan negara yang selalu meminta pendapat beliau sebelum bertempur ke medan perang, seperti halnya Jendral Soedirman.

  • KH. Abdul Wahab Chasbullah

Menjadi pengiring kemerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno. Sering memberikan petuah tentang bagaimana masyarakat dan umat muslim harus dan wajib mencintai negerinya. “Nasionalisme ditambah bismillah itulah Islam. Kalau Islam dilaksanakan dengan benar pasti umat Islam akan nasionalis.

  • KH. Nawawi

Ulama asal Mojokerto ini menjadi pemimpin perang melawan Belanda di Surabaya. Beliau mempunyai kesaktian menangkis peluru dengan sorbannya. Kemudian juga membekali santrinya dengan 7 batu kerikil yang semuanya bisa meledak ketika dilemparkan ke penjajah.

  • KH. As’ad Syamsul Arifin

Ulama ini merupakan keturunan Sunan Ampel dan Sunan Kudus, sehingga perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia juga tidak terlepas dari nilai agama. Menjadi pejuang di garda terdepan dalam pertempuran gelora 10 November di Surabaya.

  • Syekh Musa Sukanegara dan KH. Abdul Mu’thi

Turut andil dalam perancangan naskah Undang-Undang Dasar ‘45. Menjadi rujukan bagi presiden Ir. Soekarno dalam menyusun dan merawat kebhinekaan di Indonesia.

Sebenarnya masih banyak lagi ulama yang begitu berperan dalam proses kemerdekaan Indonesia. Termasuk barisan santri dan habaib yang selalu terjaga menjaga kedaulatan negara Indonesia.

Baca Juga: Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Hari Kemerdekaan

Masih tentang gairah alim ulama dalam sandaran kemerdekaan Republik Indonesia. Kali ini adalah tausiyah Simbah Maimun Zubair yang membedah makna di balik hari kemerdekaan. Dirangkum dari artikel di NU Online, bahwa mbah Maimun menjelaskan arti 17 Agustus 1945 sebagai angka sembahyang atau salat. Kalau tidak paham dengan 17-8-45 berarti salatnya tidak sah.

Beliau mengatakan, bahwa dalam lambang garuda pancasila terdapat dua sayap dengan jumlah bulu 17 di kanan, dan 17 di sebelah kiri. Dijelaskan bahwa lambang angka 17 ini merupakan jumlah rukunnya salat.

Rukun tersebut adalah (1) niat (2) takbiratul ihram (3) berdiri (4) membaca al-fatihah (5) rukuk (6) thumakninah dalam rukuk (7) iktidal (berdiri bangun dari rukuk) (8) thumakninah dalam iktidal (9) sujud dua kali (10) thumakninah dalam sujud (11) duduk diantara dua sujud (12) thunakninah dalam duduk diantara dua sujud (13) membaca tasyahud akhir (14) duduk (ketika membaca) tasyahud akhir (15) membaca selawat kepada Nabi Muhammad Saw. dalam duduk tasyahud akhir (16) (membaca) salam (17) tertib (mengerjakan secara berurutan).

Tujuh belas yang kedua merupakan jumlah rakaat salat sehari-semalam. Yakni Mahgrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, Zuhur empat rakaat, dan Ashar empat rakaat.

Sedangkan angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka dan sebabnya masuk surga. Mbah Maimun menjelaskan tentang tujuh penolak neraka yang ada dalam anggota sujud meliputi: jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki.

Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada tujuh. Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah pintu surga.

Terakhir beliau menjelaskan tentang angka empat lima, bahwa setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Subuh, Zuhur, dan Ashar. Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!