Categories: SimponiWarganet

Ukhuwah Basyariyah : Ekspresi Cinta Dalam Islam

Share

Sebuah penggambaran dan penalaran, kalau kita mau kamping 100 orang. Kemudian masuk ke Hutan dari Solo ke Jakarta misalnya, kita pasti membutuhkan panduan bersama, butuh gaidens atau pendamping yang menunjukkan jalan. Ini loh kita lewat sini, ini kita yang gak boleh lewat, ini yang dianjurkan dan seterusnya. Sekarang kita ini sedang berjalan bersama 250 juta lebih manusia yang hampir 80% dari semua itu adalah umat Islam, dan itu dinamakan manusia Indonesia. Mereka ratusan suku, lebih dari 714 suku, mereka bicara dengan sangat banyak bahasa daerah, mereka tersebar di ribuan pulau. Punya latar belakang, cara hidup, budaya, adat istiadat dan pengetahuan yang semuanya berbeda. Kita butuh sesuatu nih yang membuat kita kompak dari sebuah umat Islam dan bangsa Indonesia, hal yang membuat kita kompak menjadi sebuah bangsa sudah ada dalam diri kita sejak ratusan tahun silam, apakah itu? ukhuwah basyariyah.

Ketuhanan, kita sudah jadi orang Indonesia yang berketuhanan semua, kita semua orang indonesia berkemanusiaan, kita senang dengan persatuan, kita senang dengan kerakyatan musyawarah mufakat, dan kita senang dengan cita – cita kita mewujudkan keadilan sosial. Maka pendiri bangsa dan negara kita menyepakati rasa kebersamaan yang pada dasarnya merupakan sari pati dari syariat dan ajaran Islam dengan berbagai keterangannya. Jadi kebersamaan sudah ada pada kita, menjadi penting untuk bikin kompak. Seluruh rakyat indonesia yang jumlahnya lebih dari 250 juta tadi itu agar supaya bisa kompak bersatu, kalau tidak kompak ya gimana gitu lah.

Baca Juga : Dosakah Menjadi Indonesia?

Etika Hidup Berbangsa dan Bernegara

Kita itu sering membicarakan etika hidup berbangsa dan bernegara ya, di manapun kita selalu dihormati ketika kita punya etika. Etika itu mata uang yang laku, etika itu tidak perlu kita jaga, tapi kita dijaga oleh etika. Ada 10 hal yang penting tentang etika. Yang pertama sadar hidup berbangsa dan bernegara. Yang kedua tolong menolong dalam kebaikan, karena manusia itu terjaga baik dalam kebersamaan dan keteraturan.

Yang ketiga adalah jadilah berprestasi. Kuliner? silahkan! Musik? silahkan! Lukis? silahkan! tidak apa–apa, broadcasting? silahkan! Yang keempat patuhi hukum. Yang kelima adalah kita dimanapun berada haruslah bergembira, hidup dalam keberagaman bangsa kita ini. Yang keenam adalah cintai negara Indonesia, warga negaranya dicintai, budayanya dicintai, produknya dicintai, peranannya dicintai, pemerintahannya dicintai, cintai indonesia apa adanya.

Yang ketujuh adalah ambil tanggung jawab. Hari ini tanggung jawab kita kepada bangsa dan negara apa? 25 tahun yang akan datang, akan ambil tanggung jawab apa? Kalau kita tua nanti akan ambil tanggung jawab apa? dan ketika meninggal dunia kita ini ingin dicatat kita pernah mengambil tanggung jawab apa? Yang kedelapan adalah mengembangkan bakat, kalau tidak tahu bakat kita apa, tanya dong ke psikolog, ikut tes kemampuan dasar, kembangkan bakat itu.

Yang kesembilan adalah lihat negara lain. Jadikan keunggulan mereka sebagai pemacu semangat kita. Jangan diam karena negara itu terus berjalan dan berkembang, kita jangan diam kalau diam kita tertinggal, kalau diam gak enak banget di-bully tetangga. Yang kesepuluh adalah pilih lingkungan yang baik. Lingkungan pergaulan, lingkungan pengembangan bakat, lingkungan untuk memupuk dan belajar mengambil tanggung jawab yang baik, mau masuk ke kelompok organisasi yang baik di manapun, tapi yang penting pilih lingkungan pengembangan diri yang baik.

Terkhusus untuk anak muda dan semua elemen muslim di Indonesia harus mulai mau memandang yang lebih terang tentang bangsa ini. Jangan kita menjadi korban tipuan media massa, ada siaran keagamaan yang dimanipulasi menjadi kegiatan politik praktis, dan kita manut saja diperlakukan seperti itu, karena kita tidak punya identitas, jati diri, kita tidak punya alat untuk melakukan semua itu. Maka ayo jangan ragu – ragu datang diskusi dan mendapatkan posisi yang benar, yakinkan dirimu kamu berdiri di tempat yang tepat dimana kamu berdiri. Jadilah dirimu sendiri, be your self, kun anta.

Perihal Kehidupan Manusia

Manusia itu hidup di dalam enam hal, pertama adalah selalu tidak pernah menyakiti hati walaupun saudara muslim kita tidak menyukai kita. Yang kedua adalah tentang sumber daya, setiap manusia itu hidup di dalam sumber daya tertentu, ada yang miskin pendapatannya di bawah satu juta per orang misalnya. Oleh karena itu gerak kan sedekah, habis pengajian bawakan sesuatu, anaknya boleh diajak dan dapat konsumsi juga.

Yang ketiga. Manusia hidup dalam struktur tertentu, maka mengadvokasi orang untuk memiliki keberartian seseorang itu sangat penting, misalkan ada teman yang tidak suka dengan kita, ternyata punya warung makan dan warungnya di pinggir jalan terancam digusur karena tidak cocok dengan peraturan daerah, maka harus ada yang mendampingi beliau itu untuk mendapatkan keberartian strukturalnya.

Yang keempat manusia hidup dalam kepentingan, tiap manusia punya kepentingan, pertanyaannya kepentingannya itu dipenuhi secara sehat apa tidak?! maka oleh sebab itu dampingi tiap orang di dalam meritrokrasi yang baik. Memacu prestasinya untuk berlari, kawal ke sana, temani. Ini akan muter terus sampai akhirnya hingga informasi, berkaitan dengan nilai–nilai manusia akan hidup di dalamnya. Mulai dari informasi, nilai, sumberdaya, struktur, dan interest. Jangan lepaskan orang hanya kita dekati dari segi diskusi terus menerus saja, bosen. Suatu saat ditraktir juga gitu juga boleh ya.


Fadhel Moubharok – IPNU Sukoharjo