Categories: SimponiWarganet

Tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus

Share

Istilah dandangan bagi masyarakat Kabupaten Kudus mungkin sesuatu yang tak asing. Namun bagi masyarakat luar Kudus, istilah ini bisa jadi sesuatu yang sangat asing, bahkan tidak pernah mereka dengar. Istilah “dandangan” merupakan salah satu tradisi khas Indonesia untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang hanya bisa didapati di Kabupaten Kudus. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun yang turun temurun dari zaman Kanjeng Sunan Kudus hingga sekarang.

Sejak dulu Dandhangan berada di sekitar Alun- alun Simpang 7 sampai Menara ( Ngalap Barokahipun Kanjeng Sunan). Dandhangan merupakan salah satu media dakwah dari Sunan Kudus.” – Dawuh Kiai Sepuh Kudus Simbah Romo KH. Sya’roni Ahmadi.

Tradisi dandangan adalah suatu festival dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang pertama kali digaungkan oleh Kanjeng Sunan Kudus pada tahun 1459 H (454 M). Awalnya tradisi ini merupakan tanda atau pengumuman awal masuknya bulan suci Ramadan yang ditandai dengan pemukulan bedhug oleh Kanjeng Sunan Kudus.

Kala itu, di depan Masjid Menara Kudus para masyarakat, khususnya para santri berkumpul untuk menunggu maklumat masuknya awal puasa Ramadan dari Kanjeng Raden Ja’far Shodiq atau biasa disebut Sunan Kudus. Pengumuman itu disampaikan melalui pemukulan Bedug Masjid Menara yang berbunyi ‘dang ….dang…dang’. Bunyi inilah yang menjadi awal munculnya istilah dandangan di Kota Kudus.

Seiring berjalanya waktu, semakin banyaknya masyarakat yang berkumpul di Masjid Menara. Maka hal itu mengundang sejumlah pedagang untuk berjualan di sekitar masjid Menara Kudus. Masyarakat tidak hanya berkumpul untuk menunggu pengumuman awal masuknya bulan suci Ramadan, tetapi digunakan juga untuk mengais rezeki dengan berjualan berbagai macam barang atauapun makanan.

Kini tradisi dandangan sudah tidak lagi digunakan hanya untuk menunggu ditabuhnya bedug sebagai pertanda awal masuknya bulan suci Ramadan. Namun kini dandangan sudah menjadi tradisi yang tidak hanya dimiliki oleh kaum muslim saja. Tetapi masyarakat non-muslim juga turut suka cita dalam menyambut tradisi ini.

Setiap tahun tradisi dandangan digelar, kini dandangan sudah menjelma menjadi pasar rakyat yang biasanya digelar dua pekan sebelum datangnya Ramadan. Masyarakat berduyun-duyun memadati pasar rakyat tersebut. Tidak hanya dari masyarakat Kudus saja, tetapi juga banyak masyarakat luar Kudus yang ikut meramaikan tradisi ini. Baik itu dari kota tetangga seperti Demak, Pati dan Jepara. Berbagai wahana bermain rakyat turut juga merayakan dandangan ini. Selain itu, beberapa pedagang ikut serta meramaikan dengan menjajakan berbagai jenis kuliner daerah, permainan tradisional, dan kerajinan lainya.

Baca Juga: Ikon dan Kesenian Budaya Alat Memungut Harta di Jalanan

Perayaan tradisi dandangan juga diisi oleh berbagai kegiatan kirab budaya yang menampilkan berbagai potensi-potensi setiap desa yang ada di Kabupaten Kudus. Mulai dari batik, batil (merapikan rokok), rumah adat kudus, diorama Sunan Kudus dan Kiai Telingsing, hingga seni hadrah Rebana, bahkan hasil bumi dari Masyarakat Kudus.

Keberkahan adanya tradisi dandangan ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat muslim saja, tetapi masyarakat non-muslim pun juga ikut merasakan keberkahan dari adanya tradisi dandangan ini. Masyarakat non-muslim banyak yang ikut serta dalam meramaikan tradisi dandangan ini. Hal itu menunjukkan keberagamaan agama tidak menjadi penghalang untuk bersatu dalam merawat tradisi dari para leluhur–leluhur kita. Selain itu juga menunjukkan keharmonisan serta kerukunan umat beragama di Kabupaten Kudus.

Tradisi dandangan kini sudah menjadi hajat tahunan Pemda Kabupaten Kudus. Karena dinilai perayaan ini bisa dibuat ajang untuk menyatukan masyarakat Kudus, tanpa membeda-bedakan agama. Tradisi ini akan terus berjalan jika masyarakat terus ikut serta dalam merawat dan melestarikan tradisi leluhur yang sudah turun temurun ini. Dan tradisi ini juga perlu dibuat sebagai refleksi untuk mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.


Muhammad Alvin Jauhari – MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya