Categories: opiniSimponi

Toleransi Level Sudra

Share

Toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri. (W.J.S Purwadarminta).

Untungnya saya orang islam. Tidak tahu bagaimana nasib jika saya non-islam. Hidup di lingkungan yang mayoritas beragama islam. Bebas mengucapkan, “Assalamu’alaikum”, Kalau kaget ngucap istighfar, kalau batuk teriak hamdalah. Nuansa islami. Tiap dusun ada masjid, tiap lebaran ada diskon baju koko, banyak tanggal merah (libur nasional) karena merayakan hari besar islam. Nama-nama serba islami, mulai dari lembaga pendidikan, rumah sakit, kios, warung makan, sampai snack 500-an.

Semoga tidak ada lagi kedunguan yang mengatakan Indonesia negara taghut. Kecuali orang-orang yang merindukan kegaduhan dan kehancuran di Indonesia. Niat menjaga persatuan malah dituduh liberal. Mencoba berlaku toleransi dikira anti-islam. Menghalangi khilafah di Indonesia disangka anti kalimat tauhid. Begitulah kelakuan kaum Brahma yang dicemooh kaum Sudra.

Karena belum saatnya bertoleransi di level Ksatria atau Brahma. Mari saya ajak untuk bertoleransi level Sudra. Kalau kalian pernah melihat drama sinetron, atau mungkin mengalami sendiri seorang wanita bilang kepada pasangannya, “Kamu itu mbok sedikit ngertiin aku?! Dasar lelaki tidak peka!”. Ups, maaf saya berimajinasi percakapan lebay. Ah, mana mungkin logika dan perasaan dipersatukan? Kalau mau langgeng dan penuh cinta ya mestinya harus disatukan. Caranya? SALING MENGHARGAI!

Gaes, kalian yang mayoritas beragama islam akan biasa saja melihat bertebarannya akun islam. Bagaimana perasaan teman dekat kalian yang beragama non-muslim? Sedangkan kalian selalu menyuguhi hidangan yang sarat dengan nuansa keislaman? Tiap posting IG, diberi caption hadis yang memojokan non-muslim. Buat instastory dengan qoute tokoh muslim yang boleh membunuh orang kafir. Bikin status di Facebook dan Line dengan argumen yang egois tentang dakwah yang mengesankan perang melawan non-muslim.

Ah, untung saya orang islam. Dan lebih untung lagi mereka yang non-muslim tidak melakukan tindakan yang representatif. Mereka legowo dan lapang dada. Menerima kenyataan berada di lingkungan muslim. Untung lagi mereka tidak melakukan ucapan-ucapan yang terkesan negatif sejenis persekusi, pelecehan agama, meneriakan perang badar dan lain sebagainya. Mereka hanya segerombolan kaum minoritas yang menerima keadaan dan bersyukur masih bisa tinggal di Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim.

Ah, temanku baik-baik saja kok meskipun aku sering bikin status tentang Indonesia Bertauhid”

Dan merekalah temanmu yang lebih mementingkan persatuan dari pada melecut perpecahan. Temanmu yang menghargai agamamu, meskipun kamu tidak menghargai agamanya. “Kamu itu mbok sedikit ngertiin aku?! Dasar lelaki tidak peka!”


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU