Categories: opiniSimponi

Persekusi Karya

Share

Berkarya kok dipersekusi?

Pada intinya persekusi adalah tindakan semena-mena terhadap suatu hal atau seseorang. Seperti kasus seorang anak yang menghina agama, langsung dihakimi oleh ormas tertentu. Seorang wanita paruh baya yang menuangkan kegelisahannya di media sosial mengenai komunitas tertentu langsung dituntut meminta maaf dan menulis pernyataan bersalah. Yang lebih fatal adalah bully di media sosial dan berakhir dengan pengeroyokan hingga meninggal.

Bagaimana persekusi itu terjadi?

Ketidaksetujuan perilaku atau perbuatan seseorang, menyebabkan terjadinya tindakan balasan yang lebih parah. Melupakan aspek kemanusiaan, hukum dan adat setempat. Tidak ada lagi istilah “kejahatan dibalas dengan kebaikan”, yang ada “kejahatan dibalas tindakan yang lebih jahat”. Dalam perspektif agama dan sosial, tindakan tersebut jelas dilarang. Selain tidak mencerminkan akhlak terpuji, persekusi juga merupakan wujud manusia yang tidak terpelajar karena tidak pernah berpikir jauh ke depan.

Persekusi adalah wujud amarah, dendam dan dengki. Tidak menghargai sesama, tidak toleran dan mengakui kebenaran sendiri. Persekusi juga sebuah alat untuk meluapkan kedigdayaan seseorang atau kelompok untuk menjatuhkan atau menghancurkan seseorang atau kelompok lain. Tindakan intimidasi tersebut mencermikan karakter seseorang dalam menanggapi sebuah permasalahan.

Apa dampak persekusi?

Selain krisis kebebasan berpendapat, persekusi juga megakibatkan trauma kepada korban. Minder dan keluar dari lingkungan sosialnya. Interaksi yang minim. Bahkan dampak terburuk adalah ganguan jiwa atau mungkin bunuh diri. Sedangkan dampak bagi pelaku adalah ancaman hukum, seperti penjara atau denda. Ada pun ancaman lainnya adalah norma yang berlaku di lingkungan sekitar, seperti dikucilkan atau dijauhi masyarakat.

Cara mengatasi persekusi?

Pendidikan karakter sejak dini. Dimulai dari keluarga yang mengajari tentang kaidah benar-salah, baik-buruk, dan indah-jelek. Kemudian lingkungan pendidikan dalam wujud penanaman kedislinan, toleransi dan wawasan. Terakhir adalah pemerintah dengan berbagai hukum yang mengikat tentang tindakan persekusi. Meski sebenarnya semua tetap akan kembali kepada diri pelaku persekusi sendiri.

Baca Juga: Menangkal Reklamasi Samudera Kesabaran

Bukan negara persekusi

Landasan negara Indonesia adalah pancasila yang di dalamnya memuat prinsip berdemokrasi. Banyaknya tindakan persekusi menjadikan sebuah tanda tanya, dimana peran cita-cita negara yang berdaulat adil dan makmur? Tindakan sewenang-wenang melahirkan paradigma dalam masyarakat tentang hukum negara. Sebuah kepercayaan atau degradasi peraturan terhadap pelaku persekusi. Pemberitaan mucul satu persatu tentang persekusi. Dari anak hingga orang tua, dari ulama hingga pelacur, dari petani hingga anggota dewan. Semua elemen masyarakat bebas menjadi pelaku dan korban persekusi.

Kurangnya perhatian dan tindakan tegas juga menjadi faktor berkembangnya aksi persekusi. Sistem perundang-undangan juga menjadi ambigu jika menilik pada poin “kebebasan berpendapat dan berdemokrasi”. Korban persekusi adalah pelaku demokrasi dengan kebebasan berpendapat mengeluarkan sebuah argumen di depan umum. Pun demikian dengan pelaku persekusi yang merasa mempunyai pendapat tersendiri meilhat kasus yang dihadapi meski dengan tindakan persekusi. Jika ada pembatasan di antara keduannya maka unsur demokrasi bisa hilang.

Yang dibutuhkan sebenarnya adalah kejelasan batasan demokrasi bagi rakyatnya. Sehingga tindakan persekusi bukan lagi menjadi hak. Pengaturan kebijakan dan sosialisasi megenai persekusi ini yang kurang disampaikan kepada masyarakat. Sehingga banyak yang acuh melihat fenomena persekusi bahkan merasa tidak ada yang salah jika melakukan persekusi. Negara indonesia jelas tidak menghendaki adanya persekusi. Selain karena tidak mempercayai penegakan hukum seperti polisi atau LPSK sebagai lembaga yang menaungi tindakan persekusi, tindakan persekusi juga bisa menjatuhkan tujuan dari negara Indonesia yang adil, makmur dan sentosa.

Persekusi Karya

Bagi saya semua pendapat adalah sebuah karya. Ketika pendapat yang tidak bisa diterima, kemudian persekusi sebagai langkah hukuman adalah sebuah pemerkosaan dan pembunuhan hak. Pendapat adalah sebuah karya yang masih bersifat ide dan mungkin disampaikan melalui tulisan atau ucapan. Tidak ada sebuah toleransi menerima kebebasan pendapat orang lain. Bukan tentang benar dan salah, karena nanti semua akan bersifat subjektif darimana sudut pandang diambil. Tindakan persekusi jelas sebuah langkah yang tidak diperkenankan entah dalam wujud apapun.

Persekusi karya yang lebih realistis adalah tindakan penghancuran sebuah karya seni seperti patung, bangunan, ataupun buku. Hanya karena ketidaksepemahaman melihat sebuah gejolak sosial yang kemudian disangkutpautkan dengan ideologi atau agama. Memang karya merupakan benda mati yang tidak akan berdampak langsung terhadap “korban”. Meski sebagai pembuat dan penikmat karya merasa dipersekusi. Yang menjadi kegelisan, tindakan persekusi hanya bersudut pandang sempit kepada kebenaranan diri sendiri dan kelompok. Karya demi karya perlahan hilang seiring tindakan persekusi yang terus menerus oleh seseorang atau segolongan yang tidak menghendaki sebuah karya yang berbeda dengan karyanya sendiri.

Persekusi ini menimbulkan ketakutan seseorang untuk berpendapat atau berkarya. Pembatasan ide dan hak sebagai warga dan manusia yang sama di mata Tuhan. Yang ada hanya beberpa pemberani yang masih mempunyai idealis dalam menyampaikan karya melalui tulisan, perilaku dan paradigma. Dan segelintir dari mereka juga akan menghilang seiring derasnya tindakan persekusi yang bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU