Categories: opiniSimponi

Tidak Tahu Tapi Ia Tidak Tahu Bahwa Ia Tidak Tahu

Share

Judulnya aneh? Fix, siapkan secangkir kopi dan pastikan badan kamu rileks, senyaman mungkin karena pembahasan kali ini akan sedikit memaksamu mikir.

Tapi sebelum ke sana, saya kutip dulu sedikit mutiara-mutiara benjol karya Gus Mus. Mari kita simak.

Mungkin anda akan menjumpai empat macam orang:
orang yang tahu dan tahu bahwa ia tahu, bertanyalah kepadanya,
orang yang tahu dan tidak tahu bahwa ia tahu, ingatkanlah dia
orang yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu, ajarilah dia
orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu, tinggalkanlah dia

Yang pertama adalah golongan orang alim, para guru, cendekiawan, dan bijaksana. Kita harus menuju ke mereka.

Yang kedua, adalah golongan yang khilaf dan lupa. Sebagimana sifat manusia, mereka bisa diingatkan kembali untuk tidak melenceng terlalu jauh.

Yang ketiga, adalah saya sendiri, yang sangat paham kebodohan diri, dan sadar harus bagaimana, harus kemana.

Yang keempat inilah yang akan kita bahas. Orang Jawatimuran biasa menyebutnya ngeyel” atau keras kepala; mempertahankan argumen yang jelas-jelas keliru tapi ia tidak sadar bahwa ia keliru.

Kita kaji dalam mode filsafat dan psikologi, ya?

Bangsa Yunani memiliki sebuah pandangan bahwa “Pengetahuan itu baik, tapi menyadari bahaya dari akumulasinya yang ceroboh dan sembarangan” dan mereka memiliki ‘ketidaktahuan yang berkilau’ sebagaimana yang disampaikan Socrates, “Satu-satunya kebijakan sejati adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa.”

Sayyidina Umar sepakat dengan berkata, “Ilmu itu ada tiga tahapan; tahap pertama ia akan sombong. Tahap kedua ia akan rendah hati. Tahap ketiga, ia akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya.” Di sini bisa kita tarik pada pesan dari Abdullah ibn Mubarak, ulama sufi yang berkata, “Orang disebut pintar selama ia terus belajar. Begitu ia merasa pintar, saat itulah ia bodoh.”

Pernyataan di atas menjadi bukti bahwa kalimat, “Orang yang paling bahaya adalah yang hanya membaca satu buku” adalah benar. Filsafat menyatakan, ilmu dan pengetahuan adalah dua hal yang berbeda. Ketidaktahuan akan sesuatu merupakan dasar dari sikap berilmu. Semakin luas wawasan, semakin banyak bacaannya, ia semakin tenggelam dan hatinya terbuka, “Ah, aku ternyata hanya butiran debu!”

Lucunya, fenomena saat ini yang terjadi justru berbeda; mereka menganggap bahwa mereka paling pintar, paling paham tentang sesuatu, paling alim hingga berani menafsirkan ayat, berani berkomentar tentang hutang negara, kurs rupiah, bahkan mengkritisi ulama. Mereka merasa cukup dengan bacaan via sosmed, satu dua buku, atau malah gak baca sama-sekali, hanya denger opini dan hoax. Mereka memakan info itu begitu saja. Bagaimana bisa ini terjadi?

Ilmuwan sosial dan psikolog bisa menjawabnya. Ada kelainan namanya anosognosia yaitu kelainan neurologi langka dimana orang menderita cacat, tapi tidak tahu bahwa ia cacat. Hal ini bahkan diteliti oleh David Dunning, Psikolog Cornell university. Hasilnya mengejutkan; mahasiswa yang diteliti menunjukkan bahwa mereka tidak menipu diri mereka, tapi tidak mampu menilai kemampuan kompetensi diri mereka sendiri. Artinya, sebagian besar mahasiswa itu tidak tahu kebodohannya, bahkan berani menilai sesuatu yang sama sekali tidak mereka tahu. Hal ini dikomentari oleh Errol Morris, “Kita tidak begitu pandai dalam mengetahui apa yang tidak kita ketahui.”

Dalam kajian modern, fenomena ini masuk dalam lingkup intelektual dari anosognosia, yang sekarang disebut sebagai efek Dunning-Krunger. Ahli fisika Skotlandia, James Clerk Maxwell berkata, “Lebih mungkin melakukan terobosan kreatif daripada orang yang yakin mereka sudah mengetahui semuanya.”

Ya, negeri kita gaduh karena ini. Bagaimana pemerintah dihujat, Islam Nusantara dikecam, kiai dihina, melahirkan kekerasan, diskriminasi, hoax, perpecahan, dan sebagainya. Apalagi persoalan agama, sangat mudah digoreng. Entah tujuannya politik, ekonomi atau apapun, “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkus lah segala sesuatu yang batil dengan kemasan agama”, Kata Ibn Rusyd, dan ditambah oleh Ibn Khaldun, “Fitnah yang tersembunyi di balik topeng agama adalah dagangan yang sangat laku pada masa kemunduran intelektual.”

Mereka tidak tahu, dan tidak tahu bahwa ia tidak tahu begitu gampang digiring. Hoax, senjata yang lebih berbahaya dari nuklir, bertebaran begitu mudahnya. “Hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat dan disebarkan oleh orang baik yang bodoh”, kata Maman Suherman. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, “Kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan! Sedangkan kebohongan yang sempurna adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja”. Kata Paul Joseph Goebbels. Ah, tunggu, di sini sudah paham?

Hal ini karena kalian tidak mau berpikir, membaca, menggali data valid dan seluas-luasnya. Hanya dengan satu berita sosmed, kamu langsung panas, bergejolak ingin demo, dan merasa harus aksi tanggal cantik! Wah wah…

Ya, kamu bodoh tapi gak sadar kalau kamu bodoh. Kamu males berpikir objektif dan males menerima informasi dari sumber lain. Ah, benar kata Henry Ford, “Berpikir adalah pekerjaan yang paling berat dilakukan. Oleh sebab itu jarang sekali orang mau menggunakan otaknya”. Ya! Teruslah seperti itu, karena kamu adalah penyebab kehancuran bangsa ini. Hal ini sudah diperingatkan oleh Sayyidina Ali, “Andai orang bodoh itu diam, niscaya tidak ada perpecahan di antara kalian.”

Kembali ke Socrates, ia berkata, “Cobalah dulu, baru cerita. Pahamilah dulu, baru menjawab. Pikirkan dulu, baru berkata. Dengarkan dulu, baru beri penilaian. Bekerjalah dulu, baru berharap”. Silahkan berkomentar apapun, asal kamu benar-benar sudah paham isinya. Kemampuan melihat kapasitas diri sendiri adalah awal tugasmu sebagai manusia. Jika tidak paham tentang agama, mendekatlah ke kiai. Jika ingin tau sistem ekonomi global, pelajar ilmunya seluas mungkin. Jika kamu tidak tahu apapun tentang Islam Nusantara, jangan sekali-kali sok berkomentar tentang itu. Negeri ini tidak kekurangan kaum cerdik pandai, presiden, menteri, ulama, dan para guru kita adalah ahli di bidangnya. Kamu sebagai pelajar ya belajar yang giat. Kamu pekerja, ya bekerjalah yang rajin. Ingat posisi kita dimana, kemampuan ilmumu seberapa, karena Ibn ‘Athaillah mengingatkan, “Manusia menjadi stres, bingung, gelap gulita, karena memikirkan hal yang bukan wilayahnya”.

Seperti Cak Nun juga berpesan, “Kalau kamu jadi pohon, jadilah pohon yang sejati” Di mana kamu, jadilah kamu. Tugasmu apa, ya itu! Kita punya Tuhan yang Maha Kuasa, gak perlu khawatir!


D. Amrullah – Seni tablig Seniman NU

View Comments