Terminal Kesadaran

“Sudah berapa kali kamu tersadar?”

“Sepanjang hari setelah tidur pulas”

Setiap hari, manusia selalu tersadarkan atas apa yang menjadi kesalahannya. Sayangnya banyak dari mereka tidak mengakui kesalahan terdahulunya. Jangankan bertobat, malah mereka semakin kian mendebat. Kesalahan demi kesalahan yang disadari setiap hari tersebut mendadak dihilangkan dari benak mereka. Menyusun langkah baru untuk sebuah kebenaran berulang yang sebenarnya adalah kesalahan yang berulang. Beruntunglah mereka yang segera mengakui kesalahan dan segera mencari kebenaran.

Kesalahan bukan untuk dilupakan, akan tetapi sebagai pelajaran untuk perjalanan yang lebih bermakna. Setiap orang selalu menemui terminal persinggahan masing-masing. Tapi setiap orang juga bebas memperlakukan dan berlaku apapun di terminal tersebut. Ada yang memilih balik lagi dari kota pemberangkatan, ada yang tidak menggubris makna terminal, ada pula yang malah menyalahkan karena berhenti di terminal.

Jika Tuhan menurunkan jutaan ayat setiap harinya, harusnya manusia hina seperti aku bisa memaknai setiap kejadian. Tidak begitu fanatik pada kebenaran semu. Seolah bijaksana tapi malah terlena. Yang sebelumnya yakin masuk surga tapi terjebak ke neraka. Surga-neraka, siksa-nikmat itu setipis hati manusia yang sebelumnya cinta menjadi benci, yang sebelumnya benci menjadi cinta, yang sudah kronis membenci lupa mengenali dirinya. Masak agama diajarkan saling membenci?

Semoga kita semua benar berada di terminal kesadaran. Karena jika kita salah masuk terminal kita tidak akan sampai pada tujuan. Misal pun kita salah memilih terminal, hendaklah ganti kendaraan agar bisa menyusul yang lain menuju terminal kesadaran. Syaratnya? Harus mau menyadari setiap perjalanan panjang atas kesalahan dari penumpang.

Manusia adalah gudang kesalahan, tinggal bagaimana manusia itu bisa memperbaiki dan merombak kesalahan menuju kembali ke jalan yang benar. Jangan menjadi manusia yang sudah salah tapi merasa tidak melakukan kesalahan, lebih hina lagi adalah mereka salah tapi malah menyalahkan yang benar. Dan mereka itulah yang salah memilih terminal. Terminal kesadaran.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Satu tanggapan untuk “Terminal Kesadaran

  • 08/07/2019 pada 14:58
    Permalink

    Subhanallah….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!