Taqlidku karena Cintaku

Beberapa hari yang lalu, aku ditelepon oleh salah seorang kawanku yang kini melanjutkan kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia menanyakan kabar setelah sekian lama tak berjumpa, sebenarnya hari santri kemarin ia pulang ke Jogja, Ia melepas rindu dan berjumpa mesra dengan kawan-kawan dari IPNU dan IPPNU, namun saya sendiri belum bisa bergabung karena memang masih ada urusan kampus pada saat itu. Kawanku ini memang adalah Ketua PAC IPNU di daerahku, kecintaannya pada IPNU tak diragukan lagi.

Begitupun keluarganya, memiliki peran besar dalam perkembangan dakwah Islam ahlu sunnah wal jamaah khususnya an-nahdliyah. Bahkan penulis sendiri menjadi sadar dari paham lama karena sering mengikuti kajian yang diadakan di rumah temanku ini. Ia juga yang dulu mengajakku untuk bisa bergabung bersama keluarga IPNU.Ia menelepon pada sore itu ketika aku sedang menyiapkan acara sumpah pemuda di desaku.

Setelah masing-masing bertanya kabar, ia mulai bertanya sekaligus mengajakku berdiskusi, “Kang, gimana perkembangan sampean? Kok sepertinya tak liat pergerakan sampean masif banget ya, beda banget jika dibandingkan pas zaman dulu awal-awal”.

“Maksudnya beda gimana kang, sepertinya aku tak pernah merasa berubah atau bagaimana, sepertinya aku merasa bahwa aku adalah aku yang dulu”, Jawabku. Ia pun menjelaskan, “Ya status, IG, hampir setiap saat ketika berdakwah sering sekali yang ada logo NU-nya, kalo dibandingkan yang dulu kan beda banget”. Belum sempat ingin menjawab, temanku ini menyambungkan dengan masalah banser dan bendera yang memang masih menjadi topik hangat bahkan hingga sekarang.

“Nggih kang, saya paham sampean ki memperjuangkan NU, tapi tolong nggih jangan taqlid buta, saya ngomong gini karena di sini saya pun dihujati banyak pertanyaan perihal kemarin. Saya sih pengennya kalo cuma masalah begituan jangan sampai merusak pertemanan, tapi ternyata di sini cukup keras. Menurut pendapat sampean gimana kang ?”. Wah, mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan tersebut tergugah kembali semangatku sekaligus membuka semua pemikiranku mengenai diskusi yang pasti akan sangat menarik.

Aku ingin menjawab pertanyaan temanku tersebut dan sekaligus ingin ku bagikan pemikiranku dalam sebuah tulisan, siapa tau bisa memberikan inspirasi sekaligus memberi kepuasan terutama kepada mereka yang masih bingung memilih jalan hidup, bimbang dengan pilihan, sekaligus awam dan baru dalam hal seperti ini. Bukankah sesama orang awam jauh lebih mudah dipahami pola pikirnya?

Alhamdulillah adalah kata pertama yang memang sudah sepatutnya keluar dari mulut ini. Aku tak merasakan adanya perubahan, namun kata temanku justru sebaliknya. Jikalau temanku yang bisa dibilang sangat mumpuni terutama soal ke-NU-an apalagi jika hanya dibandingkan denganku yang hanya butiran debu yang apalah ini saja melihat ke-masif-an ku, bukan tidak mungkin mereka yang masih ragu-ragu tentang NU juga ikut menyadari hal tersebut. Lalu mereka pun akan bertanya, Kok sampeyan seperti itu kenapa? Apa sih sebenarnya latar belakangnya? Semakin banyak pertanyaan semakin baik, karena menurut ku apa yang berasal dari diri sendiri (red:pertanyaan), lalu ia bisa mendapat jawaban yang menurutnya memuaskan, maka itulah yang akan sangat menancap di dalam hati. Semakin saudara-saudaraku ini bertanya, semakin aku ingin berdiskusi bersama, semakin banyak silaturahim, dan semakin banyak kekeluargaan, otomatis semakin banyak cinta dan kasih. Sampai di sini sepertinya sudah terjawab kenapa selalu ku gaungkan dakwah ahlu sunnah wal jamaah khususon an nahdliyah. Agar mari kita semakin banyak menyebar manfaat, kebaikan, dan semua hal baik daripada menyebarkan hoax yang entah datang darimana. Dengan notabene, aku selalu share yang berbau NU bukan untuk mendiskreditkan, ataupun merendahkan, apalagi menghujat yang lain. Semua sebatas dan murni demi mempersatukan secara umum umat Islam, secara khusus nahdliyin.

Kenapa tidak share yang Islam secara umum saja? Pengennya begitu, tapi ternyata setelah saya observasi, teman-teman saya yang mengikuti paham salafy atau pun yang lainnya ternyata juga tidak pernah menyebarkan konsep islam secara umum, apalagi yang berbau NU, hampir semua ya bahannya adalah dari ustadz mereka. Kalo saya mengikuti menyebarkan itu, lalu siapa yang akan menyebarkan video dakwah kiai-kiai NU jika bukan dari NU sendiri? Saya kira tidak masalah, yang jadi masalah adalah ketika saya menyebarkan video/materi dakwah NU lalu saya menyebutkan bahwa ini yang paling benar, kalian yang tidak ikut ini semua salah.

Itu sudah beda cerita namanya. Adil bukan? Dari mana saja kita menyebarkan kebaikan, dakwah, dan lain sebagainya tidak masalah, asalkan dengan cara yang baik dan terpenting tetap mengutamakan persatuan umat dan tidak saling hina. Kita mendukung suatu hal dengan cara memuji yang kita dukung, bukan dengan menghina apa yang tidak kita dukung.

Tanggapan tentang pembakaran bendera, baiklah secara umum aku tidak mempermasalahkan hal tersebut, menurutku itu hal sepele yang harusnya tidak dibesar-besarkan. Memang aku sendiri agak kecewa karena pembakaran tersebut dilakukan di depan umum, apalagi divideokan hingga menjadi viral. Wah, jelas hal ini akan sangat menjadi blunder dan kesempatan emas bagi mereka yang tidak suka dan bahkan sering menghujat NU. Ya sebenarnya mirip dengan pernyataan resmi dari PBNU, seharusnya bendera tersebut disita saja dan diserahkan kepada aparat, kan selesai. Namun, bagaimana lagi kemarin sudah terlanjur. Gus Mus  sudah dawuh, yang khilaf sudah meminta maaf, ya sudah marilah saling menjaga persatuan umat kembali.

Publik menjadi heboh dan riuh karena pembakaran bendera lah yang di gaungkan oleh media, yang jadi pertanyaan terbesar menurut ku adalah, kenapa bendera tersebut ada di acara itu? Lah kan itu acara islam, karena namanya hari santri, ya sudah tidak apa bukan jika memakai bendera tersebut ? Jika pertanyaan seperti ini datang, kenapa tidak membawa bendera arab saudi saja sekalian ? Bukankah itu juga bendera tauhid, yang terpenting ada kalimat tauhid bukan? Namun, pertanyaan seperti ini hanya akan berujung pada panasnya perdebatan. Jika saya lanjutkan, wah nanti tulisan ini tidak selesai, lagipula saya juga ingin menyudahi masalah ini saja, kalau diskusi ayo, kalau debat jangan.

Lalu masalah taqlid buta ya, jikalau dikatakan taqlid ku akui jika sekarang memang taqlid dengan NU. Namun, untuk sampai ke taraf buta, kok menurutku tidak ya. Berdasarkan pemahamanku taqlid buta adalah ketika seseorang mempercayai segala yang dikatakan dari orang lain meskipun hal itu tanpa sumber dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Berdasarkan pengalaman, tak mau aku taqlid termasuk semua amaliah karena memang tidak berdalil. Namun, semakin ke sini, ternyata itu semua hanya berdasarkan ego dan kesombonganku saja. Bukan tidak berdalil, hanya ternyata aku saja yang belum mengetahui dalilnya akibat diriku yang sangat faqir akan ilmu, akan tetapi sangat kaya akan kesombongan. Mulai saat itu aku yakin bahwa apa yang dilakukan oleh NU bukanlah sebuah hal yang main-main dan tak berdalil, justru malah sebaliknya banyak sekali dalil yang melatarbelakangi sebuah perbuatan.

Bukan kapasitasku, tapi para ulama di bidangnya, aku hanya belajar apa yang aku bisa, setidaknya aku mencoba untuk belajar. Ditambah perasaan khusnuzon kepada parai Kiai maupun ulama. Jika pernah menonton film “Sang Kiai” dan “Soekarno” pasti akan paham makna dan pentingnya memiliki sifat khusnuzon kepada orang lain. Bahkan sekelas KH Hasyim Asy’ari pun pernah diduga bekerja sama dengan Belanda oleh sang santri di film itu, pada akhirnya semua yang dituduhkan ternyata salah besar. Sang santri akhirnya menyadari kesalahannya karena telah suudzon dengan sang kiai, begitu pula golongan muda yang mengira bahwa Sukarno telah bekerja sama dengan Jepang dan menghianati rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Mau lebih lengkapnya ? Silahkan tonton sendiri ya.

Mungkin ada sebagian orang yang juga mempertanyakan, kenapa sebegitu besar cintaku kepada NU? Ada apa sebenarnya? Ya yang jelas, pertama kali yang menjadi wasilah hidayah akan islam yang Rahmah sekaligus ramah adalah dari salah satu ulama NU, Beliau adalah KH Ahmad Musthofa Bisri.

Saat dimana aku sudah mulai ragu dengan Islam yang akhir-akhir itu menjadi garang dan sangar, sangat beda dengan kepribadian ku yang tak suka dengan kekerasan. Aku sudah sangat yakin tidak ada lagi manusia yang seperti dalam khayalku, yang paling tidak bisa meniru nabi Muhammad meskipun sedikit saja, tentang kelembutan hatinya, semua cuma dongeng semata.

Dan di saat itulah beliau muncul dan lantas menjadi wasilah ku mendapat hidayah. Setelah saat itu, aku mulai mencari tau tentang NU lebih dalam. Awalnya biasa saja, lantas kembali muncul pertanyaan setelah melihat sebuah postingan. “Nganti koe ra melu NU, koe wis ra tak anggap santriku meneh”(Jika kamu tidak ikut NU, kamu sudah tidak aku anggap sebagai santriku lagi)

Aku agak lupa kiai yang dawuh seperti itu, yang jelas itu membuatku memiliki pertanyaan, sebenarnya kenapa? Apakah sebegitu penting? Usut punya usut setelah ku cari tau, ternyata sejarah pendirian NU tidak sembarangan. Bahkan membuat lambangnya saja membutuhkan sholat Istikharah, tak hanya sekedar kumpul, memberi ide, lantas mana yang terbaik dipilih.

Setelah berdiri pun KH. Hasyim tak lepas dari tirakatnya dengan sholat hajat dua rakaat tiap malam dengan membaca 41 kali surat Al Kahfi dalam satu rakaatnya. Karena aku adalah anak organisasi, jadi sedikit tau biasanya organisasi kalau sudah berdiri ya sudah, yang penting tugas dan proker selesai. Hal ini semakin membuatku menyadari, ternyata ini to, Ini yang membuat organisasi ini begitu istimewa, justru yang tidak pernah “terlihat islam” malah hampir semuanya dilakukan secara islam dan banget. Rasa “pekewuh” (tidak enak) dengan para pendiri dan ulama terdahulu ini lah mungkin yang menjadi alasan para kiai sangat cinta kepada NU dan merasa mempunyai tanggung jawab terhadapnya. Dalam paparan KH Quraish Shihab, ternyata beliau juga menyatakan bahwa Shirath adalah jalan yang lebar dan luas menuju satu tujuan, jalan ini lah yang menampung sabil/jalan kecil, menampung semua perbedaan.

Dari sini aku memahami bahwa dalam menjalankan Islam kita harus memiliki jalan, lantas aku pun memilih NU sebagai jalan ku, aku ingin terus mengabdi dengan jalan NU menuju Shirath yang dimaksud, namun bukan berarti aku mengharuskan temanku maupun orang lain untuk mengikuti jalanku, tidak dan jelas tidak. Terserah mau lewat jalan yang mana, yang terpenting semoga kita dipertemukan di dalam shirath tersebut apapun jalan kita. Namun, apakah salah jika aku mau menunjukkan betapa nikmat jalanku kepada orang lain yang mungkin belum atau masih bingung untuk memilih jalannya? Insyaallah, aku akan terus mendakwahkan jalan yang ku pilih, memberi gambaran, dan lain sebagainya kepada semua manusia, tak peduli dari mana, siapa, beragama apa, dengan tanpa menghina jalan/pilihan orang lain sekaligus menghormati keputusannya.

Sampai di sini aku pun menyadari bahwa masih ada teman yang mencintaiku, ia selalu mengingatkanku agar tidak berada di jalan yang salah. Selalu tabayyun dan meminta klarifikasi serta konfirmasi. bahkan saya pun tidak masalah jika pembaca ingin bertanya, tabayyun, maupun diskusi setelah membaca tulisan ini, saya sangat terbuka. Pada akhirnya pun kami saling mendoakan agar sukses dalam jalan kuliah masing-masing, ia yang di Jakarta dan aku yang di Jogja, bahkan kami pun ingin sekali suatu saat nanti bisa merealisasikan keinginan kami untuk bisa berkolaborasi mendakwahkan islam ramah dengan wasilah bidang kesehatan dan pendidikan. Semoga saja suatu saat nanti kami bisa mewujudkan hal tersebut, kami meminta dukungan berupa doa dari teman-teman pembaca semua nggih..


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!