Categories: opiniSimponi

Tanpa Pluralisme Nilai Keberagaman Tidak Ada Indonesia

Share

Masyarakat Nusantara sejatinya telah memahami dalam menerima nilai-nilai keberagaman sebagai keniscayaan dalam kehidupannya. Setidaknya telah terekam saat semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dalam Kakawin Sutasoma yang tercatat sejarah bangsa ini.

Kakawin sendiri berarti syair dengan bahasa Jawa kuno. Dituliskan menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan Aksara Bali. Diketahui, Kakawin Sutasoma dikarang pada abad ke-14 jauh sebelum bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Kemudian bersepakat mendirikan sebuah negara berbangsa.

Pluralisme haruslah dilihat dari prespektif sosiologis, bukan teologis. Karena yang dimaksud pluralisme bukanlah menyamakan semua agama adalah sama. Tentu hal tersebut malah menghilangkan keunikan dan kesakralan yang juga malah merugikan tiap-tiap kepercayaan agama seperti yang selama ini sering disalahartikan oleh sebagian kalangan di negeri ber-follower ini.

Baca Juga : Mengulik Makna Toleransi

Tentu pluralisme – nilai keberagaman -, toleransi, dan multikulturalisme merupakan penopang realitas keberagaman yang selama ini juga merupakan esensi dari ajaran tiap agama. Terlebih dalam Islam. Penolakan dan penyimpangan akan keberagaman sebagai keniscayaan dalam kehidupan merupakan bentuk penghianatan terhadap eksistensi manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial yang diberi amanah dalam mengelola kehidupan.

Islam hadir sejak awal dimulai dari jazirah Arab tepatnya di Makkah, menunjukkan sikap-sikap yang merangkul dan mengayomi. Rasulullah awal-awal dalam melakukan dakwahnya secara pelan-pelan; mulai dari lingkup paling terdekat keluarga, kawan-kawan, orang-orang tertindas seperti budak, dan seterusnya. Yang perlu diingat, tahapan ini dilalui sama sekali tanpa paksaan, apa lagi kekerasan. Bahkan, beliau sendiri yang justru beberapa kali mendapatkan perlakuan kurang mengenakan hingga percobaan pembunuhan dari para penentangnya. Termasuk dua pamannya, Abu Jahal dan Abu Lahab.

Kita mengetahui, sejak belia Nabi Muhammad mendapat julukan “al-amin” karena karakternya yang jujur dan dapat dipercaya. Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang santun kepada siapapun, gemar menolong, dan pembela kaum lemah. Kepribadian inilah yang menjadi pondasi beliau mengatasi beragam tantangan tersebut hingga sukses mensyiarkan Islam di Tanah Arab. Kemudian terus meluas ke seluruh penjuru dunia termasuk ke kepulauan Nusantara.

Tanpa harus dipungkiri, adanya perbedaan kultur pada masing-masing bangsa di antara belahan dunia. Akan tetapi kita menyadari juga adanya titik-titik temu yang menghubungkan budaya Islam secara universal. Salah satu titik temu itu berupa komitmen masing-masing komunitas akan fakta kewajiban menjalankan setiap usaha untuk menciptakan masyarakat yang sebaik-baiknya di muka bumi ini. Kewajiban itu dinyatakan dalam Firman Allah:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaknya di antara kamu ada umat yang melakukan dakwah ila al-khayr, amar ma’ruf dan nahi munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang bahagia” (QS. Ali ‘Imran [3]:104).

Maksud al-khayr dalam ayat tersebut adalah kebaikan universal; suatu nilai yang menjadi titik temu semua agama yang benar. Yaitu agama Allah yang disampaikan kepada umat manusia lewat wahyu Ilahi.

Pemahaman keberagaman ini perlu mendapat perhatian semua pihak karena upaya membina dan memupuk kerukunan umat beragama seringkali terkendala oleh adanya kenyataan bahwa sosialisasi ajaran keagamaan di tingkat akar rumput lebih banyak dikuasai oleh juru dakwah yang kurang peka terhadap kerukunan umat beragama. Yang malah lebih mengakibatkan disintegrasi sosial. Semangat berdakwah yang tinggi dari para pegiat dakwah ini seringkali dinodai dengan cara-cara menjelek-jelekan milik (agama) orang lain.

Baca Juga : Islam, Katanya

Tentu tantangan dalam merawat nilai keberagaman diperlukan landasan berpikir yang inklusif. Kematangan dalam melihat persolan dengan menjawab sesuai realita kehidupan dewasa ini. Dan kemauan untuk terus berada pada posisi mengambil peran aktif sebagai subjek yang memosisikan diri seperti yang diharapkan dalam Alquran.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia untuk menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat,” (Surat An-Nisa’ ayat 58).

Jadi mari dengan gembira kita banjiri – terutama ruang-ruang publik dan kanal media sosial yang selama ini kurang termanfaatkan dalam menyebarkan gagasan pluralisme, toleransi, dan multikulturalisme. Jangan biarkan medan dakwah ini diambil oleh mereka yang selama ini mengancam keberagaman. Kalau terus diabaikan, bisa jadi lima atau sepuluh tahun yang akan datang dalam perjalanan bangsa ini kita akan menyesal melihat sentimen antar komponen bangsa merajalela di mana-mana dan berakhir pada perpecahan bangsa Indonesia. Inilah waktunya kita berani untuk bersuara menolak segala diskriminasi dan membela mereka-mereka yang terpinggirkan.


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU