Tafsir Alfatihah (Ayat 2-3)

Setelah pembahasan mengenai basmallah pada tulisan sebelumnya, kali ini insyaallah penulis akan membahas mengenai ayat selanjutnya. Ayat kedua dalam surat Alfatihah berbunyi Alhamdulillahirabbil’alamin, Alhamdu berasal dari kata Al yang artinya segala dan hamd yang berarti puji.

Puji itu disampaikan atas perbuatan baik untuk orang lain atau pun kepada dirinya sendiri. Berbeda dengan yang namanya syukur. Syukur disampaikan kepada dirinya sendiri (saya). Misalnya adalah syukur saya lulus, syukur alhamdulillah saya selamat dari musibah. Sedangkan puji bisa untuk keduanya, alhamdulillah kamu sehat dan lain sebagainya.

Puji diberikan kepada siapa saja yang melakukan suatu pekerjaan yang baik dengan syarat ia melakukannya dengan sadar dan tidak terpaksa. Segala yang telah dilakukan Allah adalah baik, tidak terpaksa, dan sadar (Karena Allah Maha Mengetahui). Oleh karenanya Allah sangat layak untuk mendapatkan pujian. Pembelajaran yang dapat kita ambil adalah sebelum kita memuji makhluk ciptaan-Nya baik karena keindahan maupun kebaikannya, kita haruslah memuji Allah terlebih dahulu sebagai penciptanya.

Contoh ketika kita diberikan pinjaman uang oleh teman kita, maka sebelum kita memuji dan berterima kasih kepada teman kita, sudah selayaknya kita memuji Tuhan terlebih dahulu karena pada hakikatnya, Tuhanlah yang menggerakkan hatinya untuk mau memberi kita pinjaman. Selain itu, dianjurkan untuk memuji Allah dalam segala keadaan bahkan meskipun kita terkena musibah. Hal ini karena bisa saja kita mendapatkan musibah yang lebih besar. Contohnya ketika kecelakaan mobil dengan kerusakan sangat parah namun orangnya selamat. Alhamdulillah hanya mobilnya, orangnya selamat. Misal juga ketika patah kaki, “Alhamdulillah hanya patah kaki, tidak sampai meninggal” dan lain sebagainya.

Rabbil’alamin artinya Rabb (Tuhan) dari seluruh alam. Maksudnya adalah Allah adalah penjaga sekaligus pemelihara alam raya dan segala makhluk. ‘Alamin adalah kata jamak dari ‘alam. Ahli teologi mengartikan alam adalah sesuatu selain Allah sedangkan para ahli Alquran menambahkan bahwa alam adalah segala sesuatu yang hidup dan berakal. Misalnya adalah alam manusia, alam jin, alam tumbuhan, alam binatang. Batu tidak hidup, oleh karenanya tidak ada alam batu. Dalam hal ini ditekankan bahwa segala yang hidup sebenarnya senantiasa dibimbing dan diarahkan oleh Allah swt sebagai Rabb.

Ayat selanjutnya berbunyi Arrahmanirrahiim. Artinya adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ayat ini sudah disebutkan dalam ayat pertama tadi. Akan tetapi, mengapa oleh Allah disebutkan kembali ?

Allah memberikan pemeliharaan kepada seluruh alam raya bukan karena kepentingan Allah melainkan karena besarnya rahmat Allah Swt kepada makhluk ciptaan-Nya. Hal ini berbeda dengan pemeliharaan yang diberikan oleh makhluk. Contohnya adalah ketika seseorang memelihara ayam dengan memberinya makan dan minum, hal ini ia lakukan karena untuk kepentingan dirinya sendiri, bukan untuk kepentingan sang ayam. Yakni jika si ayam sudah besar, ia bisa di jual. Contoh lain adalah ketika sebuah perusahaan menyekolahkan karyawannya, hal ini dilakukan semata-mata adalah kepentingan dari perusahaan tersebut agar sumber daya manusianya menjadi lebih baik dan diharapakan bisa membawa perusahaan menuju arah yang lebih baik. Rahman dan Rahiim berasal dari kata rahmat. Rahmat Allah tak bisa dibandingkan dengan rahmat dari makhluk. Rahmat bisa diartikan sebagai rasa perih yang ada di dalam dada (hati) yang mendorong untuk berbuat baik.

Rahmat manusia datang dari rasa perih tersebut, manusia melakukan rahmat itu pasti karena adanya sebuah kepentingan. Minimal adalah karena rasa perih tadi, ia memberi bantuan untuk menghilangkan rasa perihnya (dalam bahasa sehari-hari rasa tidak enak). Hal ini yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali. Sedangkan Allah tidak mempunyai rasa perih tersebut, rahmat Allah ada karena rahmat-Nya terlampau banyak. Oleh karena itu, semua rahmat Allah diberikan bukan untuk kepentingan-Nya, berbeda dari makhluk tadi.

Dalam sebuah hadits diibaratkan jika rahmat Allah itu ada 100, maka 1 diberikan kepada semua makhluk tanpa terkecuali, bahkan termasuk kuda yang mengangkat kakinya karena takut akan menginjak anaknya. Allah lebih memilih sifat Rahman dan Rahim di dalam Alfatihah dari sekian banyak sifat-Nya, bahkan terjadi pengulangan sebanyak 2 kali. Hal ini dikarenakan sifat Rahman dan Rahiim adalah sifat dominan yang dimiliki oleh Allah swt.

Sampai di sini banyak pembelajaran yang telah diajarkan oleh Allah swt bagi manusia, di antaranya adalah bahwa Allah mengatakan, “Saya memulai kitab suci saya dengan bismillah, maka kamu juga (Mengawali apapun dengan bismillah)” lalu, “Saya mengingatkan bahwa sifat-Ku yang dominan adalah rahmat, maka kamu juga (harus menjadikan rahmat sebagai sifat dominanmu)”. Maka hendaklah manusia menjadikan rahmat untuk mengatasi dan mengalahkan segala sesuatu kepada siapapun tanpa terkecuali. Tidak hanya kepada sesama manusia bahkan kepada binatang, tumbuhan, dan lain sebagainya.

Lantas bagaimana jika seorang muslim masih kurang memiliki rahmat ? Semakin kurang rahmat yang ia miliki, semakin kurang pula keber-agama-an seseorang. Keber-agama-an adalah hubungan harmonis. Semakin banyak rahmat kepada makhluk, semakin tinggi tingkat keber-agama-an seseorang dan begitu pula sebaliknya. Contoh nyatanya dalam beberapa hadits menyatakan bahwa ada seseorang yang banyak sekali memiliki dosa, namun di akhir hidupnya ia menolong seekor anjing yang kehausan maka karena ia memberi rahmat kepada makhluk Allah, Allah mengampuni semua dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Ada pula cerita dimana ada seorang wanita yang mengurung seekor kucing di dalam sebuah kandang dan ia tak diberi makan serta minum, maka wanita ini dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah.

Lantas ada pertanyaan, bagaimana jika menyembelih binatang ? Bukankah dengan hal tersebut kita tidak memberikan rahmat kepada mereka ? Jawabannya adalah manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Tugas dari khalifah adalah memelihara dan membimbing segala sesuatu yang ada di bumi ini untuk mencapai tujuan penciptaan. Binatang yang halal untuk dikonsumsi khususnya binatang ternak memang tujuan penciptaannya adalah untuk dimanfaatkan manusia daging dan tenaganya. Dalam hal ini sebagai manusia, dengan menyembelih dan mempergunakannya justru adalah cara mencapapi tujuan penciptaan mereka. Namun dalam hal ini, tetapla diperlukan rahmat. Contohnya adalah larangan menyembelih binatang yang belum cukup umur, dilarang mencabut bunga yang belum mekar, dan lain sebagainya. Buah yang belum matang pun jangan dipetik karena belum mencapai tujuan penciptaan kecuali ada udzur yakni ada wanita yang “ngidam” mangga yang belum matang.

Dalam ayat ini pula manusia diajarkan mengenai batasan pujian. Allah saja hanya dengan 2 kata, alhamdu dan lillah. Oleh karenanya kita tidak boleh memuji orang secara berlebihan. jangan memuji orang di depannya, karena hal itu akan menjerumuskannya. Pujilah seseorang di belakangnya. Untuk orang yang dipuji sadar diri jangan sampai pujian itu menjerumuskannya, begitu pula orang yang memuji seharusnya paham dan sadar jangan memuji berlebihan. Oleh karenanya, semua harus saling memahami satu sama lain.

wallahua’lam


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!