Categories: opiniSimponi

Susahnya Mengaku NU

Share

“Pernah gak sih kalian malu mengaku menjadi NU?”

Ada beberapa hal yang akan coba saya bahas mengenai perasaan kita terhadap NU. Pertama soal: Malu. Ada banyak teman yang sebenarnya paham NU dan beramaliyah juga NU tapi dia malu menujukkan ke-NU-annya kepada dunia. Jangankan bilang, “Aku itu NU”, bahkan hanya sekedar follow atau like akun NU saja malu. Malu ketahuan NU dan malu disebut NU.

Kedua: Takut. Ini ada beberapa hal. Misalkan memang belum begitu paham dengan NU. Takut NU ternyata sesat seperti yang banyak “manusia sunah” tuduhkan kepada NU, takut tidak bisa berargumen kala ditantang debat dengan pembenci NU, takut disuruh menjelaskan panjang lebar tentang kebenaran akidah dan amaliyah yang dibawa para ulama NU.

Ketiga: Cemas. Ini condong kepada perasaan khawatir. Khawatir NU hancur, tapi hanya diam dan menyaksikan perang argumen di media sosial. Ingin toleran dan tidak memihak sana-sini tapi malah terkesan tidak dianggap. Akhirnya bentuk kecemasan diabaikan hanya dengan gelisah melihat keadaan islam jaman sekarang.

Keempat: Sedih. Karena merasa belum melakukan apapun untuk NU. Seakan kutipan para sesepuh NU untuk berjuang dan berkhidmat di NU hanya sebagai pajangan poster di dinding kamar. Lebih sibuk mengurusi dirinya sendiri dan menyadari tidak mau dan mampu untuk mengurus NU. Perasaaan tersebut hanya diekspresikan dengan status di media sosial dan kemarahan ketika ada yang melecehkan atau menghina NU.

Kok, bisa malu dengan NU?

Saya bagi menjadi dua kategori kemaluan, eh, maksudnya jenis malu dalam ber-NU.

Pertama, malu karena menganggap NU sudah keluar dari khittah. “NU yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu disayang, sekarang kok ditendang”. Persepsi ganjil ini harus segara diluruskan tapi juga jangan terlalu lurus, nanti malah kehilangan kelucuannya. Yang penting NU itu harus istikamah menebarkan islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya rahmatan lil muslimin.

Kedua, malu karena lingkungannya tidak berpakaian. Jangan dibayangkan sesosok wanita yang sedang telanjang bulat. Tidak berpakaian itu artinya tidak mengakui identitas kelompok tertentu dalam beragama. “Islam itu satu, kaffah! Tidak ada NU, Muhmmadiyah, MTA, LDII, Wahabbi, Salafi, SNU, dan lain sebagainya. Itu yang membuat Islam menjadi pecah!”

“Mampus!”. Kalau dalam permainan catur, sudah di-skak mat!

Kalau menurut saya, sebagai manusia ciptaan Tuhan yang suka guyon. NU itu ya hanya kendaraan. Bahasa ukhti-nya, NU itu hanya semacam wasilah, sirath, thariq – NU itu ya islam. Tapi islam belum tentu NU. Sudah paham?

Mungkin akan menjadi absurd bagi kalian generasi islam kekinian. Seolah ajakan islam kaffah yang murni 24 karat itu adalah kebenaran. Sedangkan kalau sampean diskusi sama anak yang sudah malang melintang di dunia perislaman, maka sampean juga akan mlongo, “Oh, ternyata selama ini saya juga ikut aliran tertentu to?”, Ujarmu!

Saya sepakat islam itu satu. Ya mestinya harus satu, kalau dua itu sudah poligami atau poliandri. Pun saya setuju jika kita harus menjaga ukhuwah islamiyah. Tidak terpecah belah. Proses penyatuan tersebut bukan berarti memaksa yang lain harus mengikuti hujjah ustaz tertentu. Kemudian menjelekan amalan islam lainnya, itulah yang sejatinya menimbulkan sebuah perpecahan. Karena menurut cerita para leluhur, dulu itu islam damai dan saling tenggang rasa di antara umat muslim dan non-muslim. Ya, baru akhir ini saja, terkesan banyak konflik karena beberapa “ulama” yang sok-sok an menjadi “imam mahdi”.

NU yang saya kenal juga demikian. Tidak suka membuat keruh, kolam yang bening. Tidak ada api, kalau tidak ada asap. Jangan njawil NU, biar tidak dikampleng sama NU. Jadi sekali lagi mamas jelaskan ke ade-ade. Jangan pernah malu mengaku NU, NU saja tidak pernah malu mengakuimu.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU