Categories: FolkorMakam

Sunan Bungkul

Share

Ketika di Surabaya, tak lengkap rasanya jika belum berkunjung ke Taman Bungkul di jalan Dharmo sekaligus berziarah ke makam Sunan Bungkul. Makam terletak tepat di belakang Taman Bungkul. Bangunan makam  dijadikan cagar budaya. Makam ini dikunjungi peziarah dari berbagai daerah dan meningkat ketika hari libur. Sekali pun sering dikunjungi, makam Sunan Bungkul terasa sunyi jika dibandingkan hingar-bingar warga kota yang meramaikan taman Bungkul setiap harinya.

Sebelum memasuki kompleks makam, terdapat sentra kuliner yang ramai. Selanjutnya terdapat area yang teduh oleh pohon beringin besar dengan sulur akar bergelantungan. Tak jauh lagi, ada gerbang Padukarsa ala Majapahit berwarna hijau yang membatasi bagian luar dan bagian tengah makam. Setelah melewati gerbang ini, di sebelah kiri gerbang terdapat makam ulama yang menyebarkan Islam di Surabaya dari daerah Sidosermo Surabaya. Beliau adalah Sayyid Iskandar Basyaiban atau yang biasa dikenal sebagai Mbah Kendar Basyaiban.

Di bagian tengah kompleks makam terdapat sebuah surau dengan gaya bangunan Jawa kuno. Konon, surau ini dibangun oleh Sunan Bungkul bersama Sunan Ampel. Dalam suatu riwayat, disebutkan bahwa Sunan Ampel pernah berguru kepada Mbah Bungkul. Di depan sebelah kiri surau, di bawah pohon besar terdapat beberapa gentong dan kendi berisi air dari sumber air peninggalan Sunan Bungkul.

Salah satu cerita menyebutkan bahwa sumber air berasal dari sumur yang dibuat oleh Mbah Bungkul dan Raden Rahmat dalam semalam. Konon, ketika akan mengambil air wudu untuk salat malam, Raden Rahmat tidak menjumpai air. Kemudian beliau bermunajad. Kemudian Beliau mengajak mbah Bungkul untuk menggali tanah. Dalam sekejap galian itu sudah mengeluarkan air yang bening dan sejuk. Air dari sumur bersejarah ini dipercaya memiliki berbagai kelebihan. Pengunjung dapat mengambil air ini untuk diminum di tempat atau dijadikan oleh-oleh.

Baca Juga : Syarif Husain, Hasyim, dan Alwi bin Ibrahim Al Haddad

Di sebelah kiri surau, terdapat gapura yang memisahkan bagian tengah dan bagian dalam makam. Setelah gapura ini, akan memasuki cungkup makam dimana di sisi kanan dan kirinya berjejer makam tanpa atap yang tertutup kain putih di bawah pohon-pohon tua. Setelah itu barulah sampai ke bangunan beratap dan berlantai keramik. Itulah bangunan tempat dimakamkannya Sunan Bungkul. Terdapat beberapa makam berjejer dengan dan kesemuanya tertutup kain putih. Makam beliau adalah makam yang paling besar dan berada di tengah di antara makam-makam lainnya.

Kisah Sunan Bungkul

Menurut sebuah versi, Sunan Bungkul adalah Empu Supa, seorang tokoh masyarakat dan agama pada masa kerajaan Majapahit di abad 15. Beliau adalah tetua desa Bungkul, yang sekitar 600 tahun silam pernah disinggahi Raden Rahmat atau Sunan Ampel ketika menempuh perjalanan dari Trowulan Majapahit menuju Kalimas di Ampel Denta. Ki Supa kemudian memeluk agama Islam dan dijuluki Ki Ageng Mahmudin. Karena menghuni desa Bungkul, Ki Supa lebih dikenal dengan panggilan Sunan Bungkul.

Beliau juga merupakan mertua Raden Paku atau Sunan Giri setelah Raden Paku tidak sengaja memungut buah delima dari Kalimas. Tanpa diketahuinya, bahwa sebelumnya beliau telah berniat bahwa barangsiapa menemukan buah delima tersebut, maka akan dijodohkan dengan putri Beliau yaitu Dewi Wardah. Padahal saat itu Raden Paku telah dijodohkan dengan putri Sunan Ampel bernama Dewi Murthasiah. Namun karena perjodohannya dengan Dewi Wardah mendapat restu dari Sunan Ampel, Raden Paku menikahi kedua putri tersebut secara bersamaan di hari yang sama.

Dalam penulisan ini, tidak ditemukan kisah yang sahih tentang Sunan Bungkul. Yang bisa dilakukan hanya mengumpulkan dari beberapa catatan lama. Beliau diyakini sebagai wali besar penyebar agama Islam di Surabaya. Anggapan lain meyakini bahwa Mbah Bungkul dapat dikategorikan sebagai wali lokal, seperti konsep sejarawan Sartono Kartodirdjo dengan sebutan tokoh Islamisasi tingkat lokal. Keberadaan Mbah Bungkul sejajar dengan Syech Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Panggung (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), dan wali lokal lainnya yang banyak tersebar di berbagai kota.

* Jika ingin berziarah ke makam Sunan Bungkul bisa menghubungi koordinator Seniman NU regional Jawa Timur



Rina Nur Cahyani – Seni tablig Seniman NU