Categories: FolkorMakam

Raden Rahmat (Sunan Ampel)

Share

Kawasan Makam Ampel menjadi tengara bagi kehidupan salah satu tokoh Walisongo yang berperan besar dalam mengembangkan agama Islam di tanah Jawa. Beliau adalah Raden Rahmat, yang biasa dipanggil Sayyid Rahmatullah. Beliau lahir pada 1401 di Champa. Sebuah sumber yang disebutkan oleh Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh dan kini bernama Jeumpa.

Asal Mula Nama Ampel

Dalam catatan sejarah, diceritakan awal mula Raden Rahmat datang ke tanah Jawa atas undangan dari istri Raja Brawijaya yang berasal dari Champa. Raden Rahmat ditugaskan untuk memperbaiki situasi masyarakat Majapahit yang saat itu sedang terjadi degradasi moral. Sesampainya di tanah Jawa, Raden Rahmat meminta izin kepada raja Brawijaya yang saat itu menjadi penguasa Majapahit untuk menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Hindu. Raja Brawijaya pun mengizinkan serta memberi “ampilan” tanah sebagai rasa terimakasih atas ketersediaan Raden Rahmat menghadiri undangannya. Ampilan tanah yang terletak di sisi utara Jawa Timur tersebut digunakan oleh Raden Rahmat untuk menyebarkan agama Islam.

Hal pertama yang dilakukan Raden Rahmat dalam mengawali dakwahnya adalah membangun tempat ibadah. Beliau membangun musala kecil di daerah Kembang Kuning, Surabaya. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan dan membangun tempat ibadah di kampung Peneleh, Surabaya. Barulah pada tahun 1412 M Beliau membangun masjid di Ampel Denta yang kini dikenal dengan nama masjid Agung Sunan Ampel. Sejak saat itu, Ampel Denta menjadi tempat tinggal sekaligus tempat berdakwah Raden Rahmat. Selain mendirikan masjid, beliau juga mendirikan pesantren yang digunakan sebagai tempat belajar para santrinya. Raden Rahmat mendakwahkan Islam dengan telaten dan ikhlas tanpa kekerasan, sehingga semakin banyak masyarakat sekitar yang memeluk agama Islam. Karena Raden Rahmat berdawah dengan sarana tanah ampilan, oleh warga sekitar beliau dijuluki Sunan Ampel.

Baca Juga : Syekh Bela Belu

Masjid Agung Sunan Ampel

Masjid Agung Sunan Ampel yang dibangun oleh Sunan Ampel terletak di jalan KH. Mas Mansyur Surabaya Utara yang menjadi masjid terbesar kedua di Surabaya dan terbesar ketiga di Indonesia. Masjid megah ini dibangun dengan arsitektur bergaya Jawa kuno dan nuansa Arab. Arsitektur bangunannya memiliki keunikan dan filosofi tersendiri. Atap masjid berbentuk piramida bertumpuk tiga. Tiga tumpukan merefleksikan tiga hal yang menjadi pokok ajaran Islam yaitu Islam, Iman, dan Ihsan sebagaimana ajaran yang dibawa oleh Rosulullah SAW.

Masjid ditopang oleh tiang penyangga berupa 16 kayu jati masing-masing berukuran 17 meter tanpa sambungan. Tiang-tiang ini sampai sekarang masih kokoh berdiri menyangga masjid Ampel. Menurut salah satu cerita, umur kayu penyangga masjid tersebut diperkirakan sudah lebih dari 600 tahun. Pada setiap tiang masjid, terdapat ukiran kuno peninggalan kerajaan Majapahit yang memiliki makna Keesaan Tuhan. Masjid Ampel memiliki kurang lebih 48 pintu yang masih asli sebagaimana awal masjid ini dibangun. Masing-masing pintu setinggi 2 meter dan berdiameter 1,3 meter.

Ciri khas lain pada masjid Ampel adalah adanya menara setinggi 50 meter. Di sebelah menara terdapat kubah berbentuk pendopo Jawa dengan lambang ukiran mahkota berbentuk matahari sebagai lambang kejayaan zaman kerajaan Majapahit. Sejak awal pembangunannya, hingga kini masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah, kajian keislaman, serta wisata religi yang banyak dikunjungi warga dari berbagai daerah di Indonesia atau luar Negeri. Selain masjid Agung Sunan Ampel, salah satu yang menjadi daya tarik pengunjung adalah adanya kampung Arab di sekitar kompleks Makam Sunan Ampel.

Lokasi Makam Sunan Ampel

Sunan Ampel wafat di Ampel pada tahun 1481 M. Beliau dimakamkan di sebelah Barat masjid Ampel, bersebelahan dengan makam istri pertama Beliau yaitu Nyai Condrowati. Area pemakaman ini kemudian disebut kompleks Pemakaman Ampel. Selain beliau dan istri, di area ini juga dimakamkan keturunan, santri-santri beliau, serta makam beberapa orang saleh seperti Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong, Mbah Shaleh, KH. Hasan Gipo, Sultan Agung. Pahlawan nasional yang dimakamkan di area ini adalah KH. Mas Mansur. Terdapat juga 182 makam lain dari para syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Colombo pada tahun 1974.

Baca Juga : Sunan Bungkul

Makam Sunan Ampel ramai dikunjungi masyarakat berbagai daerah. Akan semakin ramai di hari Jumat Legi. Kemudian oleh warga sekitar, masjid dan area pemakaman Sunan Ampel dibangun sedemikian rupa agar masyarakat yang berziarah merasa nyaman sekaligus sebagai sarana dakwah Islam. Salah satunya dengan dibangunnya limo gapuro (lima pintu gerbang) sebelum menuju makam Sunan Ampel. Angka lima dalam pembangunan gapura ini sebagai simbol Rukun Islam yaitu Syahadat, Salat, Zakat, Puasa, dan Haji bagi yang mampu.

Pada setiap gapura memiliki corak ukiran dan makna yang berbeda. Dari arah Selatan terdapat gapura bernama Gapuro Munggah, gapuro ini menghubungkan Masjid Agung Sunan Ampel dengan Jalan Sasak. Setelah melewati gapura ini, akan memasuki lorong perkampungan yang menjadi area pertokoan yang menyediakan berbagai perlengkapan muslim mulai dari kitab-kitab klasik atau buku-buku agama Islam, busana muslim, assesoris muslim, kurma dan makanan Timur Tengah lainnya. Di sini juga menyediakan perlengkapan ibadah haji dan umroh.

Filosofi Gapura Makam Sunan Ampel

Di ujung lorong, akan menemui gapura kedua yaitu Gapuro Poso di sebalah Selatan Masjid Ampel. Area Gapuro Poso dibuat seperti suasana Ramadhan. Gapuro Poso menggambarkan pentingnya berpuasa. Gapura ini membawa pengunjung ke halaman masjid. Setelah melewatinya, nampak masjid Ampel yang berdiri megah.

Setelah melewati masjid, akan menemui Gapuro Ngamal. Gapura ini merepresentasikan rukun Islam ketiga yaitu zakat. Memasuki Gapura Ngamal, nampak kotak amal berjajar rapi dimana disediakan bagi pengunjung yang berkenan bersedekah untuk perawatan dan kebersihan makam dan masjid. Di dekat gapura ini terdapat beberapa gentong berisi air dari sumur sumber air peninggalan Sunan Ampel. Air ini di yakini memiliki banyak kelebihan, khasiat dan dapat dijadikan obat. Pengunjung dapat mengambil air ini untuk oleh-oleh atau diminum ditempat.

Tak jauh dari Gapuro Ngamal, ada Gapuro Madep. Letaknya di sebelah Barat masjid utama. Di sebelah kanan gapuro ini terdapat makam mbah Sonhaji yang dalam cerita beliaulah yang menentukan arah kiblat masjid Ampel. Gapuro Ngamal merepresentasikan rukun Islam kedua yaitu salat yang menghadap kibat. Di area setelah gapura ini nampak sangat dijaga kebersihannya yang mencerminkan salah satu syarat sah salat adalah suci atas tempat, busana, maupun hadas besar dan kecil.

Gapura terakhir sebelum masuk ke makam Sunan Ampel adalah Gapuro Paneksen. Gapura ini merepresentasikan rukun Islam pertama yaitu Syahadat yang artinya. “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Gapuro Paneksen bertuliskan “Sunan Ampel, Raden Rahmatullah). Setelah melewati Gapuro Paneksen, nampak area makam berbentuk persegi yang dikelilingi besi tak berkarat. Itulah makam Sunan Ampel bersama beberapa keluarganya.

*Jika ingin berziarah ke makam Sunan Ampel bisa menghubungi koordinator Seniman NU Regional Jawa Timur


Rina Nur Cahyani – Seni tablig Seniman NU