Categories: opiniSimponi

Si Kancil Mencuri Timun

Share

Zaman dahulu kala terdapat sebuah dongeng yang masyhur hingga sekarang. Siapa lagi jika bukan “Kancil Mencuri Timun”. Banyak kisah mengenai binatang yang satu ini. Namun dari semua kisahnya dapat diambil sebuah benang merah tentang betapa cerdas sekaligus liciknya si kancil ini. Mulai dari tokoh Pak Tani yang timunnya ia ambil, macan yang selalu gagal saat ingin memangsanya, kerbau yang dibantunya karena mempunyai masalah dengan sang buaya, dan masih banyak lagi.

Entah karena bosan atau apa, sepertinya kancil sudah mulai enggan jika hanya mencuri satu atau dua buah mentimun. Ia sudah tidak mencuri untuk sekadar memenuhi kebutuhan makannya seperti layaknya cerita dongeng biasanya. Kancil kini sudah menjelma menjadi sebuah momok mengerikan yang mencuri apa saja yang ada di depannya untuk memenuhi hasrat serta nafsu dunianya.

Kancil Mencuri Timun memang hanya dongeng dan fiksi belaka, namun sifat-sifat yang melekat padanya benar adanya. Ia bukanlah sebuah kisah antah berantah yang tak bermakna di dunia nyata. Mulai kita lihat banyak sekali sifat Kancil yang muncul di dunia apalagi sekarang-sekarang ini. Kancil yang merasa menjadi makhluk terpintar dan terhebat di antara makhluk lain di hutan sudah kelewatan. Ia mengelabui semua penduduk hutan. Mereka semua yang awalnya mengelu-elukannya pun mulai juga tak tahan dengan kelakuannya yang sudah melampaui batas. Memang agak membingungkan sebenarnya siapakah dalang di balik sosok Kancil ini?! Kenapa bisa berubah sedemikian besar hingga yang awalnya disebut sebagai pahlawan menjadi seorang buronan bahkan di seluruh penjuru hutan?!

Baca Juga : Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Saya tidak ingin menyebut siapakah tokoh Kancil yang dimaksud, biarlah pembaca bisa memiliki imajinasi sendiri mengenai tokoh tersebut sesuai tafsir pribadi masing-masing. Hanya saja saya hanya ingin menekankan bahwa Kancil sudah ada di dunia kita, ada di antara kita, atau bahkan justru malah kita sendirilah sang Kancil tersebut. Kita harus selalu waspada akan keberadaan Kancil di sekitar kita, meskipun juga tidak boleh suuzon dan melakukan tuduhan tanpa bukti. Siapa tahu, Kancil sudah ada dalam kehidupan kita bahkan melekat bak nadi di dalam tubuh. Siapa tahu, kita ini adalah Pak Tani, macan, maupun buaya yang sudah menjadi korban dari sang kancil.

Belakangan ini sang Kancil muncul bukan sebagai tokoh antagonis. Ia justru muncul bak protagonis yang selalu membela kebaikan, namun bukan Kancil namanya jika tanpa tipu muslihat. Di balik penokohan yang protagonis tersebut justru tersimpan watak sesungguhnya dari kata licik. Ia rela mengorbankan apa saja bahkan siapa saja untuk bisa memenuhi hasratnya. Barangkali dia sudah menguasai sendi-sendi pemerintahan kita, atasan kita, bahkan juga teman dekat kita. Kancil sudah menjelma menjadi makhluk tak kasat mata yang sudah merasuki jiwa-jiwa serakah dan tamak akan harta dunia.

Bagaimana ia melakukan peran dan drama demi memberi keyakinan pada warga bahwa ia tidak bersalah?! Seakan memberikan pencitraan dan menarik simpati para penduduk hutan untuk iba kepadanya. Entah sudah jadi apa Kancil sekarang. Sudahkah menjadi tersangka, sudahkah menjadi narapidana, ataukah masih menjadi saksi belaka dalam sebuah peristiwa? Tidak ada yang tahu pasti, semua hanya berdasar dugaan dan sangkaan belaka karena saking lihainya sang Kancil dalam memberikan sebuah stigma baik di masyarakat.

Mungkin inilah saatnya para penduduk hutan untuk bersatu padu melawan sang Kancil. Bukan malah memujinya setinggi langit bak robin hood yang membantu rakyatnya. Saatnya untuk macan, buaya, dan pak tani untuk menyatukan hati dan melawan wabah sekaligus fenomena sang kancil yang belakangan mulai marak terjadi. Lantas bagaimana jika memang benar bahwa sang kancil sudah menduduki kursi pemerintahan, anggota dewan, dan jabatan strategis lainnya ? Berdoa dan percaya saja bahwa hal itu hanya sangkaan kita belaka tanpa bukti nyata. Namun jika memang bukti dan fakta sudah berkata, apa boleh buat lagi. Kita hendak meyakini bahwa orang tersebut merupakan “salah satu” dari sang kancil yang selama ini dicari oleh para penduduk hutan.

Daripada terlalu memikirkan tentang siapa sang kancil mencuri timun ini, akan lebih bijak jika kita mulai membenahi diri sendiri dan melihat ke dalam diri. Apakah ada sifat dari sang kancil dalam diri kita? Jangan-jangan kita terlalu sering menilai dan menuduh orang dan melupakan bahwa ternyata kita sendiri lah sang kancil tersebut. Sebagai penutup, saya hanya ingin mengingatkan sekali lagi. Kancil mencuri ketimun sudah basi, ia tak hanya mengincar ketimun saja, namun di mana dan kapan ada kesempatan, dan barang apa saja yang ada di depan matanya di situlah sang kancil bisa muncul dan mencari korban lainnya.


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU