Seumur Hidup Tetap Santri

Kaum santri memiliki ciri dalam bertindak dan berpikir. Ciri tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya pendidikan pesantren yang menjadi sarana ditempanya para santri agar menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan berkarakter. Gemar gotong royong misalnya, diajarkan melalui kerja bakti (baca: ro`an). Sikap kritis dan konsisten para santri dalam berargumen ditanamkan melalui kegiatan syawir dan bahtsul masail. Dan masih banyak lagi.

Menjadi seorang santri juga berarti menjadi pribadi-pribadi yang sederhana, baik dalam tutur kata, beretika, berpegang teguh pada prinsip ahlussunnah wal jamaah, tak pernah kenyang dengan ilmu, mencintai negeri, serta patuh pada kiai.

Gus Mus pernah mengatakan bahwa santri bukan hanya mereka yang mencari ilmu dengan mengenyam pendidikan di pesantren. Tapi siapa pun yang memiliki karakter santri, dia adalah santri.

Karakter dalam diri seorang santri tak akan bisa dilepaskan dari figur seorang kiai yang senantiasa membimbing, mendoakan, dan memberi teladan. Kita bisa belajar dari beliau sekalipun dari diamnya, tanpa beliau berkata. Yakni dari akhlak dan cara beliau bertindak dan berperilaku.

Contohnya saja kita bisa belajar dari menteri Agama, bapak Luqman Hakim. Dimuat di kolom wawancara pada majalah tempo beberapa bulan lalu, bapak menteri sedang memberikan pelajaran kepada kita melalui sebuah akhlak. Kalimat pertama menyatakan sang menteri menolak berpose menggunakan sorban yang akan digunakan untuk sampul halaman. Alasannya karna beliau merasa tidak pantas menggunakan sorban yang biasa dikenakan oleh ulama.

Di paragraf selanjutnya, ketika beliau di mintai pendapat mengenai seseorang yang bergelar habib namun yang bersangkutan suka marah-marah, beliau dengan tegas menjawab, “Dengan segala keterbatasan saya belajar agama, tidak pantas kiranya mengomentari perilaku seorang habib”.

Selain itu, saat beliau sowan ke ndalem Gus Mus, beliau juga tak segan menuangkan minuman ke gelas gus Mus, sekalipun beliau datang sebagai tamu.

Dari yang demikian dapat kita jadikan teladan.  Bahwa sang menteri tetap tawadhu dan rendah hati sekalipun telah memiliki jabatan tinggi sebagai seorang menteri agama sekaligus merupakan seorang putra kiai (gus).

Cerita lainnya, kita bisa belajar dari Alm. Gus Dur. Pada tahun 1999 ketika gus Dur menjadi Presiden, beliau sowan ke ndalem mbah kiai Abdullah Salam, Kajen. Tanpa sungkan, sang presiden masuk melalui pintu samping yang biasa digunakan santri untuk masuk ke ndalem kiai.

Sekali lagi kita dapat bisa mengambil pelajaran, setinggi apapun jabatan yang dimiliki tidak menjadi alasan yang menjadikannya bukan lagi santri. Meski santri telah memiliki pondok pesantren, menjadi kiai dan memiliki ribuan santri. Seperti KH. Abdullah Kafabihi Makrus, salah satu pengasuh ponpes Lirboyo yang dengan takdim mencium tangan guru beliau, KH. Dimyati Rois Kaliwungu yang ketika itu berkunjung ke ponpes Lirboyo, Kediri.

Begitu pula sebuah nasihat yang disampaikan oleh K.H Maimun Zubair Sarang, Jawa Tengah bahwa, “Aku ini santri, meskipun aku kiai, aku presiden yang selalu dimuliakan orang dimana-mana tapi di hadapan kiai aku tetap santri, aku hanya seorang santri yang hina dan tunduk pada kiaiku”.

Status santri tidak akan pernah selesai dengan wisuda. Hal inilah yang seharusnya menjadi pengingat bahwa siapapun aku, di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun aku ini selamanya adalah santri. Yang harus tetap berkarakter santri dan patuh kepada kiai. Kiai yang selamanya jasanya tak akan terbalas. Beliau lah yang memperkenalkan kita kepada Allah, Rosulullah dan agama-Nya. Beliau lah yang siang malam berdoa untuk keberhasilan santri-santrinya.

(RNC – Seniman NU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!