Setan vs Malaikat

Sore itu aku duduk di bangku rumah simbah. Sedang romantis membaca, tetiba muncul dua orang menghampiriku. Satunya berwajah hitam dan berpakaian serba merah, yang lain berperawakan halus dan berpakaian serba putih. Kami berdiskusi.

“Kenapa aku hitam dan merah?”. Dia menjelaskan bahwa hitam atau merah hanyalah simbol perlawanan. Iblis dan setan adalah simbol atas pengingkarannya terhadap Tuhan. Putih adalah pralambang bahwa dia suci dan menjalankan setiap perintah-Nya. Dari mereka berdua sebenarnya bisa diaplikasikan tujuan manusia ke depannya. Hitam akan menghuni neraka, putih akan menghuni surga. Kemudian keduanya bercerita panjang-lebar tentang apa yang sudah dilakukan sehingga simbol tersebut bisa melekat pada dirinya. “Bukankah hitam juga suatu saat berharap masuk surga? Kenapa mereka malah bangga kelak menghuni neraka?”

Sejam berikutnya mereka kemudian menghilang. Melebur bersama angin. Aku memejamkan mata dan merenung. Mengitung setiap apa yang telah aku lakukan dari cerita yang disampaikan oleh si hitam dan putih. Mengejutkan! “Aku lebih pantas menghuni neraka”

Aku merasa banyak melakukan kesirikan. Aku bekerja dengan menuhankan uang, aku olahraga menuhankan hobi, aku berumahtangga menuhankan keluarga, aku sekolah menuhankan otak, dan lain sebagainya. Betapa waktu yang dijatah 24 jam sehari untukku hanya nol koma sekian aku gunakan untuk benar-benar beribadah kepada Tuhan. Itu belum semua aturan yang seharusnya dianggap larangan tapi malah aku terjal. Dimana aku duduk tidak sesuai cara nabi, aku makan lupa cara nabi, aku berinteraksi dengan saudara lupa cara nabi, hingga aku bermain media sosial abai mengingat santunnya dakwah para nabi.

Aku memang layak menjadi setan daripada malaikat. Sangat amat tidak pantas aku menghuni surga. Mungkin mereka yang mengklaim diri penghuni surga sejati adalah yang sudah melakukan segalanya demi Tuhan, bukan nafsu. Karena hitam tadi juga berujar bahwa dia selalu mengelabuhi manusia dengan nafsunya. Dan bagi mereka yang suka menerakakan aku. Ternyata baru aku menyadari, bahwasanya mereka jauh lebih mengingat Tuhan dan menjalankan semua perintah serta menjauhi larangn-Nya dari pada aku. Maka pantaslah mereka menghuni surga, sedangkan aku tetap akan lebih pantas masuk neraka, kecuali pengaharapan ampun dan ridha dari Tuhan itu sendiri.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!