Categories: SimponiWarganet

Estetika sebagai Identitas Keindahan Umat Islam

Share

Setiap bangsa dan setiap negara, selalu berhadapan dengan dinamika kehidupan. Apalagi negara Indonesia yang sangat kaya raya dengan sumber daya alam -sumber daya hayati- tentu banyak negara berkepentingan yang berhubungan dengan Indonesia. Yang kedua, sebagai akibat langsung perkembangan masyarakat Indonesia sendiri, aspek pendidikan, aspek pengetahuan, gaya hidup dan juga rembesan-rembesan pandangan hidup dari negara lain, tentunya membutuhkan penyesuaian-penyesuaian. Jangan sampai orang indonesia pangling dengan ke-Indonesiaan-nya. Ini merupakan modal menebarkan keindahan umat Islam.

Perlu dicermati bahwa hidup manusia itu ada dua ranah, yang pertama adalah habitus dan yang kedua adalah habitat. Habitus adalah hidup yang dikonsepkan dan habitat adalah hidup yang dijalani. Kalau kita mengonsepkan di dalam diri kita sebagai manusia Indonesia. Maka meskipun sedang di luar negeri, kita akan tetap membela Indonesia. Sebaliknya bila kita tidak punya konsep yang mengarah pada ke-Indonesia-an, kita bisa tidak membela Indonesia, meski kita tinggal di Indonesia. Maka dua hal ini harus ketemu, hidup yang kita perjuangkan adalah hidup yang ke-Indonesia-an dan hidup yang kita jalani adalah hidup yang Indonesia. Itu bagus sekali: Ideal.

Habitus itu adalah hidup yang dikonsepkan, habitus juga disebutkan bahwa sebagai orientasi manusia. Habitus ada di dalamnya budaya, ideologi, wawasan, pemahaman, pancasila adalah ideologi negara, termasuk dalam pembicaraan kita masyarakat indonesia. Pancasila itu sebagai ideologi hidup dalam pola pikir kita. Pancasila juga hidup dalam identitas kita. Pancasila juga hidup dalam program negara dan ideologi konstitusional negara. Merawat pancasila, berarti merawat bagian yang pokok sekali dalam kita hidup berbangsa dan bernegara, pandangan kita sama mengarah pada tujuan yang sama pula apabila kita dalam sebuah payung kebesaran yang namanya pancasila itu.

Baca Juga : Islam, Proyek Konstruksi yang Mandeg

Agama dan Pancasila

Pancasila merupakan keseharian kita, orang Indonesia setiap harinya Berketuhanan yang Maha Esa, setiap hari pula berkemanusian yang adil dan beradab, setiap hari pula dalam praktek hidup idealismenya menerapkan persatuan Indonesia sebagai bagian yang terpenting. Setiap hari pula mengikuti kerakyatan dalam mengambil keputusan apapun dalam tingkat baik RT maupun keluarga kita selalu menempatkan aspek kerakyatan sebagai bagian yang penting. Musyawarah untuk mufakat, dan idealisme untuk orang manapun dalam mewujudkan keadilan sosial, itu keseharian kita memang seperti itu.

Kalau kelima hal itu surut dalam diri kita, akan rugi sekali hidup ini. Kita sudah berabad–abad dalam cara berpikir seperti itu sehingga kita menjadi nyaman. Sama–sama mengikuti pandangan hidup yang sama karena merasa menjadi bagian dari sebuah negara yang sama. Pandangan kita juga tidak berbeda jauh, meskipun kita berbeda–beda suku, budaya, dan agama namun kita menikmati perbedaan itu.

Estetika Agama

Tentang estetika, bagaimana konsep estetika dikaitkan dengan agama?! Yang pertama adalah jamalah; keindahan, suara yang indah, warna, komposisi warna, gerak, instalasi yang indah. Sesuatu yang indah itu tidak sekedar beda, tetapi memenuhi betul standar kehalusan yang bersifat universal. Bahwa orang tidak memamahami keindahan, yah itu mungkin terlalu etnik. Semua manusia menyukai keindahan. Keindahan umat islam.

Mengapa sebuah musik tertentu bisa di-klik sampai berjuta kali misalnya?! Ya, karena banyak yang menganggap itu semua indah. Di negara yang maju yang sudah tertata aspek hak ciptanya, pemusik hebat mendapatkan gelar kehormatan dari negaranya, karena mendatangkan keuntungan secara tidak langsung kepeada negara itu, hanya dengan mengolah orasi keindahan. Kita juga termasuk yang setuju kalau aspek–aspek penilaian ini diperhatikan oleh negara, hak atas kesenian misalnya.

Yang kedua adalah jalalah; keagungan. Karena estetika berkaitan dengan keagungan sang pencipta, yang dengan kasih sayangnya menciptakan kehidupan yang dengan penuh kasih sayangnya menciptakan manusia. Luar biasa rahman dan rahim, menghadirkan kehidupan manusia saling sapa saling kumpul dan ternyata dengan keagungan Allah kita jadi belajar dengan baik bagi kebersamaan dan keteraturan. Maka kita bisa mengeksplorasi antara jamalah dan jalalah, titik temu keduanya pada kemaslahatan, baik kemaslahatan kepada negara, pada bangsa, kemaslahatan rakyat, kemaslahatan orang per orang, kemaslahatan keluarga, maka buat kita ada tiga kata kunci yang penting bagi estetika dalam beragama, memilik dimensi jalalah atau keagungan, jamalah atau keindahan, dan maslahah. Apa itu maslahah? yaitu kebaikan yang menjamin adanya lima keberadaan manusia dari segi agama, jiwa raga, akal, keturunan, dan dari segi hartanya.


Fadhel Moubharok – IPNU Sukoharjo