Categories: opiniSimponi

Semakin Tidak Tahu

Share

Sudah 26 tahun saya mencoba menafsiri setiap kejadian di alam kehidupan ini. Belajar agama untuk memecahkan segala kegelisahan – tentang keyakinan. Belajar sastra dan seni untuk memekakan diri dari ribuan perspektif dan sudut pandang. Belajar apapun yang sebenarnya tidak ingin saya pelajari. Menggauli profesor, seniman, ulama, pencuri, PSK, filsuf, sampai penjual angkringan di sepanjang jalan. Diskusi, bercanda, dan bertukar cerita sedemikian ringan dan riang untuk jiwa kepenasaran setiap saatnya.

Sampai pada tataran tertentu. Hakekat ilmu adalah kosong. Informasi-informasi itu hanya media untuk perilaku yang membahagiakan diri dan orang lain. Sampai perkara agama, kesederhanaan kakbah adalah gambaran makhluk di hadapan khalik. Bukan strata, tapi kelapangan dengan bentuk kubusnya. Semua punya hak yang sama untuk mencintai dan dicintai Allah.

Seperti kisah Nu’aiman bin Amr, sahabat Nabi yang mematahkan logika syariat agama. Manusia yang setiap harinya mabuk di depan Nabi, tapi begitu mencintai dan dicintai Allah dan Muhammad Saw. Kepala terasa pusing ketika tidak minum khamr, pun demikian jika tidak bisa berjumpa dengan Nabi Muhammad. Kisah sahabat yang juga pernah menipu jamaah yang buta, kemudian menuntunnya kencing di mimbar Masjid Riyadh. Dengan segala kekurangajarannya, namun beliau begitu mulia di hadapan Nabi.

Baca Juga : Mari Membaca!

Bahkan, saya menyimak puluhan kisah wali yang melakukan hal di luar kajian syariat. Sebuah kejadian yang nyata, senyata Isra’ Mi’raj-nya kanjeng Nabi. Menyadarkan bahwa ilmu atas ribuan informasi begitu mentahnya dibandingkan samudra ilmu rahasia dari Allah.

Allah begitu kuasa untuk memilih hamba yang dicintai-Nya, memberinya rezeki, mengangkat derajatnya, hingga menciptkan kebahagiaan dunia dan akhirat kepadanya. Bukan ditentukan atas ribuan zikir – karena semua adalah rida Allah. Ahli maksiat pun punya hak untuk dijadikan wali oleh Allah. Sehingga tidak layak seorang yang merasa dirinya pandai, alim, kaya, untuk merendahkan makhluk lainnya. Karena dalam sekejap, Allah bisa membalikkan itu semua.

Kealiman seseorang tidak akan memanfaati Allah, pun kemaksiatan seseorang tidak akan mengurangi kedigdayaan Allah. Mereka yang merendahkan, meremehkan, dan mengutuk, tidak akan bisa mengkudeta Allah layaknya presiden atau kepemimpinan di dunia. Tuhan tidak perlu dibela, karena Dia maha kuasa. Demikian pula dengan agama, karena semua perputaran kehidupan ini adalah agama itu sendiri. Penghina Islam tidak akan menghilangkan Islam. Dimusuhi dan diperangi sekali pun, Islam tetap akan ada. Karena Tuhan meridai Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin- semesta alam.

Semakin tua, saya merasa semakin tidak tahu. Belasan jam saya habiskan tanpa bisa memahami hakekat kebenaran. Tak sempat menghitung jumlah daun yang berguguran di depan kos, tidak sempat mengkalkulasi durasi azan, tidak sempat memastikan ukuran pintu kamar -yang katanya- tingginya 2 meter. Puluhan buku bertengger di rak seakan hanya ilusi, bahwa semuanya tidak akan berguna jika kelak tanpa rida Illahi. Saya merasa kalah ilmu dengan pengamen yang setiap hari bisa fasih menghitung receh dan mengukur kebiasaannya berjalan berkilo meter. Menghibur dan bermanfaat – minimal bagi penjajan makanan di pinggir jalan.

Gelisahnya bukan tentang seberapa tahu, tapi seberapa bermanfaat kita kepada sesama. Menyesalnya adalah perasaan tidak berguna – meskipun Allah akan menegur. Memanfaati adalah menghargai orang lain, membantu, dan mengasihi. Allah mengajarkan semuanya. Pelarangan penerkaan Allah yang dibentuk imajinasi. Sejatinya Allah ada dalam sifat. Hadirkan Allah dalam sifat kebaikan, perilaku terpuji, dan ucapan yang bermanfaat serta menyenangkan. Allah itu pengasih, penyayang, pemurah, lembut, dan lain sebagainya.

Baca Juga : Tidak Tahu Tapi Ia Tidak Tahu Bahwa Ia Tidak Tahu

Karena ketidaktahuan saya, seharusnya bisa lebih berprasangka sempurna kepada siapapun. Menganggap semua adalah wali Allah. Karena Dia kuasa atas segala sesuatu. Jangan-jangan yang saya anggap hina adalah yang sebenarnya dicintai Allah. Jangan-jangan yang saya pikir penuh maksiat, mereka yang benar-benar mencintai Allah. Jangan-jangan saya ini tidak dicintai dan mencintai Allah – Naudzubillah….

Penekun ilmu hakikat tentu akan akrab dengan kisah seperti ini. Melenturkan logika, tanpa mengurangi intensitas kerjakeras pemahaman. Kandungan Alquran di semesta raya. Perilaku, penampakan, dan sifat indah yang mengubur benih-benih kebencian terhadap sesama, bahkan diri sendiri. Belajar meniadakan diri, karena dalam kajian tasawuf – pengakuan dirimu di dunia adalah bentuk ujub yang menyamar. Itulah yang membuat saya merasa semakin tidak tahu dengan yang saya kira tahu.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU