Selamat Hari Teater Dunia

27 Maret diperingati sebagai Hari Teater Sedunia. Di beberapa kota besar Indonesia biasanya merayakan rangkaian kegiatan teater, seperti diskusi, seminar, lomba, dan kegiatan kesenian lainnya. Perkembangan dunia teater sangat cepat. Mulai tingkat pelajar hingga teater independen yang diprakasai oleh orang-orang tua.

Semangat berlomba untuk menampilkan keindahan di panggung, melecut kelompok teater untuk tetap menjaga konsistensi dan bentuk perubahan konsep. Apalagi minat teater kalangan muda mulai mendapatkan apresiasi. Para pemangku kebijakan (pemerintah) juga perlahan mulai memperhatikan kesenian teater di berbagai wilayah.

Mengingat kreasi teater di panggung, bisa ditarik ke belakang – bahwa teater tradisi di Indonesia sebenarnya cukup mengagumkan. Misalnya kita lihat kethoprak, tayub, atau wayang orang. Namun karena derasnya ideologi teater barat, “memaksa” para seniman teater mengikuti pasar. Garapan teater konvensional pun menjadi magnet tersendiri untuk mencapai tujuan kelompok teater tersebut.

Pada momen hari teater saat ini semoga bisa menjadi refleksi untuk mengingat kembali jasa para teaterawan nasional seperti WS. Rendra, Arifin C. Noer, Sapardi Djoko Darmono, Putu Wijaya, Cak Nun, Putu Wijaya, dan banyak lainnya. Selain itu semoga teater tradisi bisa kembali mewarnai panggung-panggung akademisi maupun praktisi di Indonesia.

Baca Juga : 2019 Tahun Seni

Teater Kehidupan
-Dunia ini adalah panggung sandiwara-
Sandiwara adalah cikal bakal pembentukan istilah dan konsep teater masa kini. Sejarah yang diawali dari keraton Solo dan berkembang pesat di pelosok daerah dengan warna dan ciri khas masing-masing.

Bagi pengamal kesenian teater. Kehidupan ini penuh dengan drama. Semua orang menjadi aktor dalam kehidupannya. Tokoh protagonis menjadi pilihan bagi dirinya, setelahnya menuding dan mengira bahwa lawan main yang dianggapnya musuh adalah tokoh antagonis. Semua orang merasa dirinya baik, sedangkan yang dianggap buruk juga merasa dirinya juga baik. Mereka adalah golongan yang bangga memberi maaf daripada meminta maaf.

Menjadi aktor/ aktris dalam kehidupan sehari-hari jarang disadari oleh individu manusia. Akting menjadi baik di hadapan orang lain agar mendapat kedudukan atau apresiasi – sehingga jiwa lebih dari yang lain mucul, merasa dikagumi dan lebih baik dari yang lain. Di belakang panggung mereka suka maksiat, zina, mabuk, pendengki, dan lainnya. Saat tampil di atas panggung mereka mendadak menjadi ulama, penyair, filsuf, dermawan, dan karakter indah lainnya.

Bagi perenung seperti saya, Teater adalah rukun iman. Bagaimana semua begitu indahnya diatur sama sang maha Sutradara. Menjadikan saya dan mereka artis di panggung sandiwara (dunia). Memuat sejarah (latar belakang), konsep panggung (alam raya), tata cahaya panggung (matahari dan bulan), sesekali diberikan konflik personal dan lawan main untuk memperindah alur cerita.

Sayangnya, setiap dari kita tidak tahu dan paham isi naskah yang dituliskan oleh Sutradara. Apakah nanti bermuara pada sad atau happy ending?! kita sebagai artis hanya menjalankan setiap cerita dari waktu ke waktu, tempat ke tempat, dan masalah satu ke masalah yang lain, sampai naskah setiap artis ditutup.

Kita hanya bisa berharap menjadi tokoh protagonis, tapi tidak bisa mengklaim tokoh tersebut – karena kita bukan Sutradara. Misalpun ditakdirkan menjadi tokoh antagonis sekali pun, mari kita buat sesuatu yang memukau di hadapan para penonton dan sutradara, agar ketika selesai pementasan mereka semua berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah atas lakon yang sudah kita mainkan.

Jangan sampai kita menjadi artis yang mengecewakan Sutradara dengan merusak setting atau properti (alam), bahkan merusak jalan cerita dengan ketidakistikamahan menjadi artis yang baik di hadapan Sutradara. Lakukanlah yang kita rasa baik, meski sesekali diselingi improvisasi untuk memperindah estetika panggung. Jangan menjadi artis yang disuruh berperan menjadi A, tapi malah memainkan di panggung dengan tokoh B.

Mari perlahan membuka topeng-topeng pada diri kita masing-masing. Misalpun tuntutan harus memakai topeng, jangan pernah menipu lawan mainmu yang sebelumnya mengira kamu protagonis tapi ternyata adalah antagonis. Beraktinglah dengan cara yang berkelas. Karena prinsip saya dalam dunia pertunjukan, bahwa Teater itu mengajarkan kejujuran. Di sana diajarkan tentang cipta, rasa, karsa, dan karya. Seniman bertaraf profesional bisa melihat dengan sekilas, mana aktor yang berpura-pura memainkan peran dan aktor yang jujur memainkan peran.

Sekali lagi, selamat hari teater sedunia. Sutradara selalu menuliskan naskah yang indah, entah bagaimana kita sebagai artis memainkan lakon tersebut.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!