Sang Penakut

Namines adalah salah satu budak cinta yang begitu penakut terhadap kekasihnya. Selesai membuat kidung dan menjelang tidurnya selalu dihantui tentang kesalahan terhadap kekasihnya selama seharian. Begitu seterusnya yang dirasakan sampai sekarang. Kadang terbawa dalam mimpi dan melemahkan hasrat mengembara keesokan harinya. Dia bukan pemuda yang gagah menunggang kuda seperti Werkudara, pun tak serupawan dan santun seperti Janaka, jauh dari sifat lihai dan cerdas seperti Nakula-Sadewa, apalagi bijaksana seperti Puntadewa. Dia hanya pengembara yang terus berjalan mencari makna dari setiap apa yang dilihatnya.

Karena begitu takutnya kepada kekasihnya, terkadang ia bermaksud memberinya perhiasan untuk membayar hutang kesalahannya. Dan begitulah salah satu di antara besarnya pengorbanan Namines kepada kekasihnya. Namun dalam niatan tersebut, Namines penuh dengan keresahan karena ia hanya pengembala sapi yang tak memliki dana berlimpah untuk melunasi kesalahan terhadap kekasihnya. Memberikan uang bukanlah penghinaan, karena begitulah cara yang menurut Namines mampu menebus kesalahannya.

Seperti beberapa adat suku Bugis atau Dayak. Mereka berbondong membeli anak perempuan untuk dipinang menjadi pasangan hidupnya. Wujud tersebut adalah balasbudi terhadap mertua karena telah merawat calon istri hingga sedemikian rupa. Meski sekarang banyak dikritik karena dianggap terlalu berlebihan atas biaya yang dibebankan.

Karena keterbatasan harta yang dimiliki, seringkali ia pergi ke pasar untuk menjual lidahnya karena bohong, menggunjing, mengadu domba, membual dan perkataan tidak berguna. Tidak bermanfaat dan menyakiti kekasihnya. Namines berharap lidahnya hanya digunakan untuk memuji sang kekasih. Namun tak ada orang di pasar yang berniat membelinya. Kemudian ia tawarkan hati dengan harga di bawah standar. Menjual hati adalah cara agar ketika berhadapan dengan kekasihnya ia melepaskan perasaan iri, dengki, dendam dan sifat buruk yang terlanjur melekat pada diri Namines. Dia ingin mengeluarkan dari dalamnya perasaan bermusuhan, kebohongan, dengki terhadap kekasihnya karena kedengkian yang demikian akan menghapus segala kebaikan. Dan semua penyakit dalam hatinya dimusnahkan dengan ilmu dan amal. Pun tak ada yang berminat.

Kemudian Namines juga ingin menjual matanya, karena ia merasa sudah membuat kesalahan kepada kekasihnya. Atas apa yang dia lihat dengan kesadarannya. Namines tidak memandang yang haram, tidak memandang kepada dunia dengan keinginan, tapi memandanginya dengan mengambil i’tibar dan Namines tidak akan berpaling dengan memandang yang lain selain kekasihnya. Dia juga menjual perutnya, tidak akan menyakiti dirinya dengan tidak memasukan sesuatu yang haram ke dalam perutnya, takut kekasihnya khawatir terhadapnya.

Kemudian ia memajang kaki dan tangannya sambil dilabeli harga “terserah”. Tangan dan kaki siap ia potong karena terlanjur digunakan untuk berbagai hal yang tidak disukai kekasihnya. Sempat ada yang bertanya, mungkin berniat membeli “maaf ini tangan dan kaki bisa bertahan berapa lama?”, tanya seorang wanita paruh baya berdaster kembang-kembang. Belum sempat dijawab wanita tersebut pergi karena melihat ada cacat pada kaki dan tangannya. Namines tidak ingin menggunakan tangannya dengan mengambil sesuatu yang haram, takut membuat dosa dengan kekasihnya. Juga tidak ingin melangkah dalam kemaksiatan, karena takut menyinggung perasaan kekasihnya. Dia hanya ingin melangkah sesuai apa yang direstui dan dikehendaki kekasihnya. Dan terakhir Namines menjual ketaatannya, dijual hanya karena ketakutan atas ketaatan terhadap kekasihnya hilang atau berkurang. Dia takut riya’ dan munafik kepadanya. Dan kesemuanya tidak terjual karena sesuatu yang melekat dalam dirinya adalah tanggungjawab yang mesti diselesaikan kepada kekasihnya dengan lembut dan tanggungjawab.

Bagi Namines, mencintai kekasihnya adalah perasaan yang takut luar biasa. Dan dia mengharuskan diri untuk selalu berada di antara kekhawatiran dan harapan. Mengharap bisa bersanding dengan kekasihnya dan tidak boleh putus asa darinya. Menurutnya perlakuan ketakutan yang demikian akan dibalas dengan kebahagian yang sejati bersama kekasihnya.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!