Sang Begawan dan Khalwat dar Anjuman

Barangkali, ia adalah yang tertua dalam menyaksikan perang besar Bharatayuda. Kedua belah pihak yang bertikai merupakan getih-nya, sama-sama meminta restu darinya. Dahulu ia adalah orang yang berkecimpung dalam arena kekuasaan, paham tentang kelicikan dan kekejaman. Setelah merasa usai kewajibannya, ia pun memutuskan untuk menjadi seorang Begawan, kembali seperti sedia kala, di saat sebelum keadaan memaksanya untuk ambyur ing kahanan menyambung dan menjaga arah lajunya zaman supaya tetap on the track.

Ibarat orang yang sudah mencapai titik-titik yang tinggi kemudian keadaan memaksanya untuk turun, tentu kondisi seperti itu menyakitkan dan membuat gela. Tapi ia paham tentang panggilan untuk tapa ngrame (khalwat dar anjuman). Wawasan, ketokohan, dan keteguhannya masih dibutuhkan zaman. Dunia bukanlah untuk ditampik atau bahkan disesalkan. Ia ibarat jalan yang mesti dititi, dilewati. Terkadang kita berhenti sejenak untuk sekedar bercengkerama dengan sesama sebelum meneruskan perjalanan.

Tapi dalam perjalanan itu, ia tak semata melewatinya. Ia juga tergores, merasakan pilu dan cacian. Ia—atas nama jejer-nya sebagai seorang begawan—mesti menentukan pilihan, memihak. Ketika tata kehidupan terancam rusak, ia terpanggil untuk mengingatkan dan mencoba untuk melawan, tersebab ia ingat sebuah pesan: tak akan ada perubahan selama kau tak menginginkan. Maka ia taburkan restu, wedarkan wejangan, tunjukkan jalan, ingatkan kebenaran pada yang benar-benar menginginkan tegaknya kebenaran.

Vyasa, Wyasa atau Abiyasa (Jawa) adalah salah satu karakter yang unik. Di India ia dipercaya sebagai penulis sekaligus pelaku dalam epos besar Mahabharata. Oleh pujangga Jawa ia digubah menjadi penyambung darah Bharata yang terputus, sebab Bhisma memilih wadat atau tak menikah demi baktinya pada ayah, Prabu Santanu, dan negaranya.

Wyasa akhirnya menjadi raja sementara Hastinapura. Ia memiliki tiga orang anak: Dhestarastra, Pandhu Dewanata, dan Yama Widura. Setelah menyerahkan kekuasaannya pada satu-satunya anaknya yang dipandang mendekati sempurna, ia tetirah dan kembali menjadi seorang Begawan di pertapaan Sapta Arga yang terletak di gunung Retawu.

Karakter Wyasa terkenal sangatlah hati-hati dan tawadhu’ (rendah hati). Sebagai seorang Begawan ia berusaha untuk senantiasa bersikap adil. Ia, sebagai penulis cerita, tahu tentang alurnya. Ketika kedua belah pihak yang sama-sama menjadi keturunannya berebut kekuasaan, ia tak serta-merta memihak salah satunya—meski kita tahu bahwa batinnya ada pada Pandawa. Wyasa, ketika dibutuhkan bantuannya, kerap memberikan semacam sayembara demi jejer-nya sebagai seorang Begawan. Dan ia selalu tahu siapa yang menjadi pemenang.

Baca Juga : Selamat Hari Teater Dunia

Selalu saja yang mampu menakhlukkan hati seorang Wyasa adalah Pandawa. Anak keturunannya yang berasal dari Pandhu tersebut tak pernah sedikit pun meremehkan atau bahkan mencacinya (ta’dzim). Maka ketika pathet sanga tiba, seusai gara-gara, ia selalu di-sowani salah satu utusan Pandawa sekaligus cucu kinasih-nya untuk dimintai petunjuk dan restu.

Wyasa, tak sebagaimana Kresna yang mampu menyiasati takdir, tahu tentang takdir yang ditulisnya sendiri. Apa yang menarik darinya adalah bahwa sepanjang hayatnya hidupnya dihabiskan untuk tapa ngrame atau yang dalam sufisme dikenal sebagai khalwat dar anjuman.

Salah satu prinsip peninggalan tarekat naqsyabandiyah itu menyiratkan untuk tak menjadi seorang fatalis dan eskapis. Bahwa, untuk berakrab ria dengan-Nya, tak perlu risih dan menyisih dari dunia yang selama ini dicitrakan rendah dan bobrok. Barangkali, Tuhan justru hadir di tangis bocah-bocah kelaparan, mata suwung orang-orang bingung, atau kebungkaman kaum pinggiran. Atas segala laku-nya tersebut, maka Wyasa pun diangkat ke langit beserta raganya seusai merestui Parikesit menjadi raja Hastinapura.


Heru Harjo Hutomo – penulis, peneliti lepas, mengembangkan cross-cultural journalism, menggambar dan bermusik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!