Raden Patah

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan merupakan salah satu Kerajaan Islam terbesar di Indonesia. Raden Patah adalah raja pertama dari Kerajaan Demak sekaligus juga merupakan pendiri dari Kesultanan Demak. Beliau adalah seorang keturunan yang memiliki darah campuran Cina dan Jawa. Raden Patah dilahirkan di Palembang pada tahun 1455. Raden Patah atau dalam pelafan arabnya disebut “Fatah” mempunyai maksud pembuka, karena ia adalah Seorang Sultan yang pertama-tama membuka/medirikan Kerajaan Islam di Jawa pada 1479. Nama kecilnya sendiri adalah Jin Bun.

Raden Patah ini menurut catatan sejarah Kerajaan Demak, memiliki banyak nama dan gelar. Beberapa nama lain Raden Patah yang populer adalah Jin Bun, Pate Rodim, Tan Eng Hwa, dan Aryo Timur.

Sifat Raden Patah adalah pejuang, kerja keras, dan tentu saja adalah sikap toleransi Raden Patah yang cukup tinggi pada masa itu. Selain mendirikan Kerajaan Demak, masa pemerintahan Raden Patah juga menjadi lokomotif pendirian Masjid Demak yang masih ada sampai saat ini.

Raden Patah juga masih keturunan dari Raja Majapahit terakhir yaitu Raja Brawijaya. Raden Patah adalah anak dari Raja Brawijaya dengan seorang selir China yang bernama Siu Ban Ci. Perlu juga diketahui bahwa Raja Brawijaya adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Majapahit yaitu mulai dari 1408 sampai dengan 1501. Hubungan Raja Brawijaya dengan istri selirnya dari Cina ini kemudian membuat istrinya menjadi cemburu. Kemudian istri Raja Brawijaya meminta agar selir dari Cina tersebut diasingkan ke Palembang.

Ketika Raja Brawijaya mengungsikan selirnya ke Palembang, keadaan Siu Ban Ci tengah dalam keadaan hamil tua. Siu Ban Ci di Palembang tinggal bersama anak Brawijaya yang menjadi bupati Palembang masa itu yang bernama Arya Damar. Kemudian setelah lama tinggal di Palembang, Siu Ban Ci pun melahirkan seorang putera dari Raja Brawijaya yang diberi nama Raden Patah. Siu Ban Ci pun pada akhirnya menikah dengan anak tirinya sendiri yaitu Aryo Damar dan dikaruniai seorang anak yang bernama Raden Kusen.

Baca Juga: Habib Anis bin Alwi Al Habsyi

Perjalanan hidup Raden Patah ini cukup panjang hingga mencapai posisinya sebagai Raja Demak. Seiring berlalunya waktu, Raden Patah kemudian tumbuh menjadi seorang pemuda yang berbakat dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Melihat kemampuan dan bakatnya tersebut, lantas ayah tirinya yaitu Aryo Damar meminta Raden Patah untuk menggantikan posisinya sebagai Adipati Palembang. Namun demikian Raden Patah menolak permintaan ayah tirinya tersebut dengan berbagai alasan yang ia sampaikan. Raden Patah lebih memilih meninggalkan Palembang dan menuju Pulau Jawa. Kepergian Raden Patah kemudian disusul adik tirinya yang bernama Raden Kusen. Bukan saja Raden Patah yang menolak menjadi bupati Palembang, Raden Kusen ternyata juga menolak.

Alasan keduanya menolak jabatan bupati Palembang adalah karena mereka berdua ingin menuntut ilmu agama Islam di tanah Jawa. Pada masa-masa itu, Islam berkembang begitu pesat di Indonesia termasuk di tanah Jawa. Pada akhirnya mereka berdua sampai di padepokan Sunan Ampel di Surabaya. Setelah dirasa cukup belajar agama pada Sunan Ampel, Raden Kusen memilih kembali ke kerajaan kakeknya Brawijaya di Majapahit sedangkan Raden Patah berkelana ke Jawa Tengah untuk membuka hutan Glagah Wangi dan menjadikan tempat tersebut sebagai pusat penyebaran Islam dan mendirikan pesantren.

Dari perkembangan pesantren Raden Patah inilah kemudian Raja Brawijaya merasa khawatir dengan apa yang dilakukan oleh Raden Patah akan digunakannya untuk melakukan pemberontakan. Untuk menghindari pemberontakan, maka Raja Brawijaya memerintahkan Raden Kusen untuk memanggil Raden Patah agar datang ke Istana.

Raja Brawijaya begitu takjub dengan perilaku, sikap dan sifat Raden Patah yang begitu mulia. Raden Patah adalah sosok yang berwibawa, cerdas, dan memiliki budi yang luhur. Melihat hal ini, Raja Brawijaya begitu bangga melihat putra dari selirnya tersebut memiliki kepribadian yang begitu kuat dan memiliki sifat kepemimpinan yang tinggi. Dan bahkan kemudian Raja Brawijaya mengangkat Raden Patah menjadi adipati di Glagah Wangi. Raden Patah kemudian merubah nama Glagah Wangi menjadi Demak dengan Bintoro menjadi ibukotanya.

Di bawah kepemimpinan Raden Patah ini kemudian Demak menjadi kadipaten yang sangat ramai. Selain menjadi pusat persebaran Islam, Demak Bintoro juga menjadi pusat ekonomi yang sangat ramai dikunjungi banyak masyarakat. Bukan saja masyarakat dari Jawa, namun ada beberapa masyarakat dari luar Jawa yang juga melakukan aktivitas dagang di wilayah Demak Bintoro.

Raden Patah meninggal pada usia 63 tahun. Penyebab kematian Raden Patah adalah karena sakit yang beliau derita yang tak kunjung sembuh. Raden Patah meninggal di Demak dan dimakamkan di Masjid Demak yang sampai saat ini makam beliau ramai dikunjungi para peziarah.

*Jika ingin berziarah ke makam Raden Patah bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau Sub Regional Kota Wali


Maulida Goldy Firdausi – Seniman NU Regional Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!