Categories: AransemenKajian

Puasa: Saleh Ritual Saleh Sosial

Share

Bulan Ramadan adalah bulan penuh kemuliaan, setiap ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan akan dilipat gandakan pahalanya. Berbeda dengan ibadah lainnya, karena ibadah ini (puasa) Allah sendiri yang akan membalasnya. Bulan turunnya rahmat, bulan turunnya hidayah, dan bulan turunnya ampunan. Dan pada bulan suci Ramadan ini terdapat peristiwa yang mulia yaitu Nuzulul Qur’an – diperingati setiap tanggal 17 bulan Ramadan.

Nuzulul Qur’an yang secara harfiah berarti turunnya Alquran (kitab suci agama Islam) adalah istilah yang merujuk kepada peristiwa penting penurunan “Alquran secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia (Wikipedia). Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu sekitar 23 tahun.” (HR. Thobari, An Nasai dalam Sunanul Kubro, Al Hakim dalam Mustadroknya, Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hajar pun menyetujui sebagaimana dalam Al Fath, 4: 9).

Baca Juga : Hormati Orang yang Tidak Berpuasa

Dalam memasuki sepuluh akhir Ramadan ini umat dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan ibadah, baik itu ibadah yang wajib maupun sunah. Karena biasanya pada sepuluh akhir Ramadan ini malam Lailatul Qadar datang. Rasulullah pun ketika sudah memasuki sepuluh akhir Ramadan menggiatkan ibadahnya seperti berzikir, mujahadah, salat tasbih, membaca Alquran, iktikaf di masjid, memperbanyak sedekah, dan amalan atau ibadah lainnya.

Sedekah Puasa

Bagi kita yang memiliki rezeki yang banyak, alangkah baiknya jika kita sedekahkan kepada orang yang berpuasa. Karena dalam hadis Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, pahala orang yang menyediakan atau memberikan makanan puasa kepada orang yang puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa. Dalam sebuah hadis Nabi Saw.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barang siapa memberi makan orang puasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang sedang berpuasa itu sedikitpun.’” Tirmizi mengatakan hadis tersebut sebagai hadis hasan sahih.

Momentum saling memberi akan semakin bermakna tatkala orang yang menyantap hidangan buka puasa dari kita mendoakan kita dengan doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Berikut ini:

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku (HR. Muslim)”

Betapa banyak masyarakat di jalan-jalan atau masjid yang memberikan atau membagi-bagikan makanan berupa takjil kepada para pengendara dan pejalan kaki, begitu halnya dengan masjid mereka yang menyediakan menu berbuka puasa bagi siapa saja yang singgah atau para musafir. Inilah salah satu kepedulian sosial kita kepada masyarakat terutama kalangan muslim yang sedang berpuasa. Karena berlomba-lomba dalam kebaikan adalah suatu kewajiban dan keharusan yang harus kita jalankan, terutama di bulan puasa.

Baca Juga : Kenduri Dalam Kacamata Syariat

Puasa Sosial

Sehingga pada hakikatnya puasa bukan hanya sekadar menahan haus dan lapar saja, tapi memupuk rasa kepedulian sosial di antara kalangan masyarakat, puasa akan membuat pribadi yang kuat, serta mengasah hati dan nurani sebagai umat muslimin yang taat. Tepat sekali jika puasa dapat dikatakan saleh ritual saleh sosial. Selain meraih keberkahan atau rida dari Allah, puasa juga melatih untuk berperilaku baik terhadap sosial (muslim yang lain).

Maka dalam kesempatan di bulan suci Ramadan ini, kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt. Dan jangan sia-siakan momentum yang baik ini untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan, karena di dalamnya setiap amalan yang kita lakukan akan dilipat gandakan demi meraih rida-Nya. Semoga kita menjadi hamba yang istikamah dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Wallahu ‘alam…


Kang Galih –  Seni tablig Seniman NU