Categories: biografiFolkor

Siapa Sih, Budayawan Itu?

Share

Beliau bernama lengkap Muhammad Ainun Najib, biasa disapa Cak Nun. Ulama yang lahir 65 tahun silam ini merupakan salah satu dari segelintir uswatun hasanah yang tersisa di negeri ini. Di saat banyak ulama yang sudah mendahului untuk berpulang ke istana Allah Swt, Cak Nun masih diberi amanah membimbing anak-anaknya untuk senantiasa bertauhid kepada-Nya. Bukan Mengurangi rasa hormat, di sini saya akan mencoba membahas mengenai kehadiran Cak Nun dari sudut pandang saya sebagai penggagum dan murid beliau. Tulisan ini saya maksudkan untuk membantah beberapa pernyataan negatif mengenai Cak Nun dan stigma sak-sak’e dalam model berdakwah beliau. Namun untuk lebih mendalami karakter beliau bisa membaca tulisan beliau di website resmi Cak Nun.

Siapa sebenarnya Cak Nun? Sastrawan kah? Seniman kah? Ulama kah? Budayawan kah? Atau hanya sosok biasa-biasa saja seperti kita?

Untuk menjawab hal yang demikian Anda tidak akan mengetahui jika tidak mengikuti sejarah panjang dan kajian beliau, entah lewat sinau bareng, seminar, simpul maiyah, atau diskusi lainnya yang menghadirkan sosok beliau. Dan untuk pertanyaan di atas: semuanya benar. Awal mula, beliau merupakan keturunan dari ulama besar Imam Zahid yang merupakan sahabat dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan Muhammad Darwis atau Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Dan karena itulah sampai sekarang beliau tidak mengakui sebagai warga nahdliyin maupun muhammadiyah. Seperti yang dituliskan dalam bukunya “Muhammadiyah itu NU”. Bahkan di beberapa candaan beliau mengatakan bahwa dirinya adalah MuhammadiNu.

Penulis lakon Sengkuni ini sudah memiliki ribuan “anak-cucu” di berbagai daerah bahkan di luar negeri. Dakwahnya yang mudah diterima logika, secara tidak langsung mematahkan kajian falsafat ketuhanan dari barat. Banyak ilmuwan menganggap Cak Nun adalah profesor atau bahkan lebih, karena kecerdasan beliau menyerap semua ilmu yang diterimanya. Sudah banyak hal yang dilakukan Cak Nun untuk negara dan agama. Baktinya yang tiada henti untuk terus membimbing jamaahnya menuju kemandirian beragama dan berkemanusiaan. Serta ragam rahasia pengaruh beliau yang hanya segelintir orang mengetahuinya.

Sebagai negarawan beliau mulai aktif menyeimbangkan goyahnya negara sejak zaman orde baru. Kritik selalu dihadirkan kepada pemerintahan, lewat karya sastra maupun esai di berbagai media masa. Dan tahukah keadaan saat itu? Zaman dimana pemberontak “dihabisi” oleh penguasa. Rezim pak Harto yang begitu mencekam tak berkutik di bawah kendali bapak dari Noe Letto ini, dan mungkin hanya Muhammad Ainun Najib yang mampu “memborbadir” hati pak Harto saat itu. Bahkan setiap apa yang diucapkan selalu diterima pak Harto. Cak Nun sosok slengekan yang tak gentar dengan siapa pun, termasuk berpakaian compang-camping di istana dengan rambut gondrong.

Pada tahun 1980-an Cak Nun juga sempat ditawari jabatan kementrian oleh pak Harto, namun ditolaknya. Meskipun ketika memberikan kritik kepada pak Harto begitu tajam, namun pak Harto sangat menyayanginya karena melihat bahwa Cak Nun memiliki hati yang tulus untuk berkorban demi negara. Dan pengaruhnya semakin terlihat ketika Cak Nun berperan dalam kemunduran Pak Harto sebagai presiden RI dengan slogan yang sangat terkenal, “Ora Dadi Presiden Ora Patheken”. Selain itu masih banyak sifat kenegarawan Cak Nun yang hingga kini masih dipertahankan sebagai pengontrol keseimbangan negara.

Di sisi kemanusiaan lebih hebat lagi, namun anehnya beliau tidak pernah mem-publish kerendahan hatinya kepada umat. Ditawari berbagai program televisi beliau tolak dengan dalih ingin “berpuasa”. Beliau tidak ingin dikenal dan lebih bahagia menjadi orang biasa, namun Tuhan berkehendak beliau untuk selalu berdakwah membimbing jamaahnya yang semakin amburadul di negara ini.

Masih ingat kasus Lapindo? Cak Nun turun tangan dengan langsung menelfon Ibu Rosmiyah Bakrie untuk meminta anaknya Aburizal Bakrie, menyantuni korban lumpur lapindo, meskipun dalam pengadilan menyatakan perusahaannya tidak bersalah. Kemudian bentrokan perusahaan udang di Tulangbawang yang pada akhirnya beliau yang menengahi dan lagi konflik berkepanjangan perang sampit, Cak Nun pun turut mendamaikan kedua suku. Dalam bidang pendidikan, bahkan sampai saat ini beliau masih menyantuni anak-anak yatim untuk sekolah dan kuliah, memberikan beasiswa dan bantuan sosial lainnya. Beliau sudi bergaul dengan siapa pun, tak pandang bulu, petani atau direktur, pedagang atau pengusaha, pengemis atau pimpinan daerah, bahkan orang gila yang dengan haru ia peluk saat sinau bareng di Demak.

Dalam bidang sastra dan kesenian sudah ia tekuni saat remaja, saat hijrah ke Jogja beliau berguru kepada Umbu Landu Paranggi. Sebelumnya ia sempat menjadi santri di Pondok Darussalam Gontor kemudian melanjutkan pendidikan di SMA 1 Muhammadiyah Jogja. Dan dilanjutkan kuliah di UGM namun tidak dilanjutkan hingga lulus. Peran dalam sastra dituangkan dalam ribuan puisi dan cerpen, ratusan buku dan puluhan drama entah berwujud naskah maupun pertunjukan. Sastra yang diangkat beliau begitu beragam dari mulai ketuhanan hingga kritik sosial. Jiwa seni dari Emha cukup kental dengan diksi yang disampaikan. Pesan yang lugas dan tajam. Sehingga banyak para seniman dari berbagai aliran berguru kepadanya.

Terakhir sisi agama. Bagi saya Muhammad Ainun Najib sudah melampaui tingkatan syariat, tarekat, bahkan hakekat. Beliau adalah salah satu makrifatul yang tersisa di dunia. Berbagai kejadian besar pernah dirasakan Cak Nun selama perjalanan hidupnya. Selama 20 tahun lebih bermaiyah bersama kiai kanjeng ke berbagai pelosok daerah tanpa mengharapkan imbalan apapun. Pedoman beliau yang ingin melihat orang lain bahagia adalah kebahagiannya, menjadikan ketulusan yang tiada batas. Beliau adalah cahaya dalam pekatnya dunia. Beliau adalah berlian dalam tumpukan pasir. “Kalau tidak bisa mempebaiki, jangan menambah kerusakan. Menghindari mudharat lebih diutamakan daripada mengharapkan manfaat.”

Banyak petuah yang disampaikan cak Nun baik secara langsung maupun melalui tulisan. Secara tersirat maupun tersurat. Peran yang sangat mengaggumkan bagi saya adalah gerakan Lauatan Berjilbab yang diorasikan saat kaum wanita yang memakai jilbab satu berbanding seribu. Dan sekarang terlihat nyata. Perbandingan berbalik, dimana setiap kaum hawa memakai jilbab merupakan kewajiban seorang muslim. Perjuangan “menjilbabi nusantara” dilakukan dengan berbagai cara, baik lewat esai, puisi, antalogi puisi, naskah drama, hingga pertunjukan teater di beberapa kampus dan daerah di Indonesia.

Kecerdasan beliau dalam menangkap setiap informasi adalah hidayah yang luar biasa. Dan yang membuat saya merenung hebat adalah kerendahan hati beliau. Beliau rela dicaci, dimaki, dihina, dicerca dengan berbagai hujatan karena metode dakwah beliau. Namun yang selalu saya pikirkan adalah, “Mungkin memang Cak Nun melakukan demikian dengan sadar”. Karena beliau enggan dipanggil kiai atau ustaz atau gus yang harusnya tersemat karena garis keturunan beliau. Dan begitulah orang baik. Berhati murni meski di luar tampak buruk.

Seperti pepatah dalam tembang dolanan Dondong opo salak dan beliau memilih menjadi salak. Ucapan yang ceplas ceplos saat berdakwah seakan disengaja untuk menutupi keulamaan beliau. Seperti yang sering beliau sampaikan saat dakwah. “Lebih baik membimbing orang yang tidak jelas seperti ini daripada mengajari santri. Lha sudah santri kok masih ngaji. Itu ibarat minuman manis ditambah gula. Ya jadi kemanisan!”. itu adalah ungkapan karena melihat banyak jamaah maiyah yang terdiri dari berbagai latar belakang dan semua bisa menerima dan diterima oleh suami dari artis Novia Kolpaking ini.

Masih teramat banyak jika saya ingin membahas kewalian Muhammad Ainun Najib. Jika ada yang mengatakan Cak Nun berfaham liberal, berarti maaf, otak kalian teramat dangkal. Karena kajian Cak Nun bisa diterima dengan logika normal, pun dengan landasan fikih yang kuat. Beliau ketika berdakwah jarang ber-qiro’ah seperti ulama lainnya meskipun beliau sudah akrab dengan muratal saat di Gontor dengan suara yang sangat merdu, beliau jarang berdalil meski menguasai banyak ushul fikih dan hadits, beliau jarang membenci kelompok lain karena prinsipnya yang menyayangi semua manusia. Cinta kasihnya kepada sesama membuat dirinya bisa diterima oleh berbagai aliran bahkan agama.

Salah satu tokoh pluralisme ini selalu bersembunyi karena mengakui bahwa memegang amanah menjadi ulama itu berat. Meski beliau menolak disebut ustaz atau kiai, atau ulama namun bagi saya, beliau lebih dari itu. Terakhir yang membuat saya sangat nyaman adalah prinsipnya yang tidak ingin mengekang orang lain untuk mengikutinya (baiat), menolak dikultuskan.

Karena maiyah hanya diterima bagi mereka yang menginginkan kajian yang bernuansa kemandirian dalam menghadapi kehidupan beragama, bernegara, dan mengurusi pribadinya sendiri. Ajaran tauhid dan tasawuf yang sering disampaikan hanya akan mampu diterima oleh mereka yang memang sudah siap untuk menerima. Jadi jika ada yang menghina beliau, saya menganggap mereka masih tahap TK dan belum siap menerima agama yang lebih luas. Seperti yang disampaikan pada sinau bareng terakhir di Sukoharjo, bahwa Islam itu lahir sejak Allah bilang “Kun” bukan ketika rasulullah menerima kata “Iqro”.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments

  • Assalamualaikum,saya suka sekali dengan tulisan anda.....saya sedang ada masalah faktor ekonomi,saya hanya seorang guru honorer dan istri saya seorang PNS saya mempunyai dua orang anak kata istri saya keuangan kurang dan menuntut saya mencukupi.....kalau boleh minta saran apa saya harus tinggalkan pekerjaan guru demi materi??? Dan saya harap doa anda untuk saya supaya diberi jalan rizki allah yang mencukupi kebutuhan anak dan istri saya,tanpa meninggalkan pekerjaan mulia yaitu guru atau pengajar.....sekian terima kasih....wasalamualaikum