Presiden Namines!

Malam ini Namines bergulat dengan dirinya sendiri. Mengatur peran bagian dari dirinya. Menjadi otentik tanpa campur tangan urusan politik dan informasi hoax di sekililingnya. Kesunyian adalah bekal menjadi diri sendiri sebelum tercemari oleh opini dan pola pikir peniruan terhadap kondisi atau keadaan.

“Hati, aku menjadikanmu sekarang sebagai presiden”. Pernyataan pertama Namines yang seolah bertindak sebagai sutradara.

“Pikiran, aku jadikan kamu sebagai menteri dan tubuh, aku ingin kamu memerankan sebagai perangkat daerah yang membantu tugas hati dan pikiran”

Sandiwara dimulai!

Dalam sebuah negara yang bernama Namines. Dipimpin oleh sang presiden, bernama Hati yang dibantu oleh para menteri (Otak/ pikiran). Sedangkan program akan dilaksanakan oleh tubuh yang begitu dekat dengan rakyat (jiwa). Seandainya sistem organisasi negara ini berjalan begitu baik, pastilah tidak akan ada demo dan isu sara yang malah saling tinju sesama tubuh. Kaki menendang kepala, tangan menampar punggung, pantat menyenggol bahu, saling baku hantam.

“Pikiran, bukankah aku perintahkan kamu untuk tidak bermaksiat?”. Hati begitu marah melihat kebijakan otak yang tidak sesuai dengan UUD yang sudah disepakati oleh jiwa. Setiap hari pikiran memaksakan keegoisannya untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai titah dari Hati. Kadang beberapa kali menentukan keputusan konyol dan ceroboh yang malah mencemarkan nama baik negara Namines.

“Dasar, presiden yang tidak bisa berfikiran maju!”, umpat Pikiran. Menilai Hati begitu tradisionil dalam mengambil keputusan. Kuno dan tidak mengikuti perkembangan zaman. Ketika semua orang sudah lihai bermain teknologi, Hati malah memerintahkan kembali bermain ‘cublak-cublak suweng’. “Seharusnya Hati itu ngikut sama kebijakan saya, karena lebih ahli dalam bidang yang dikuasai”

Kecongkaan otak juga tidak selaras dengan program yang dilakukan oleh tubuh. Otak memerintahkan olahraga, tubuh malah bersandar nyaman di kasur. Otak menuntut mata membaca buku, tapi mata malah melihat teliti arus media sosial. Otak menyuruh ke tempat dugem, kaki malah melangkah ke masjid. “Aku lebih setia pada presiden daripada menteri yang tamak seperti kalian” gumam kaki kepada para menteri yang dituduhnya begitu otoriter.

Hati menyuruh beribadah, otak menyuruh bekerja, tubuh melakukan kemaksiatan. Hati menyuruh tenang, otak menyuruh demo, tubuh mengekspresikan cacian, makian, dan umpatan. Hati tidak dihormati, otak tidak dipercaya, tubuh berlaku semaunya. Jiwa merasa miskin, kesepian, dan teraniaya. Negara Namines akan segara punah!

Dalam keheningan serupa, Namines berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau ciptakan hati untuk setia mengingatmu. Kenapa Engkau risaukan jiwa ini dengan logika yang menuntut kebahagian pada dirinya sendiri? Hati yang Engkau berikan begitu terang, aku gelapkan dengan pikiran, dan aku hancurkan dengan perilaku tubuhku. Tuhan, aku menyesal menjadi manusia berfikir!”

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!