Kelas Poligami Ala Ala

Iseng-iseng buka internet soal kisah rumah tangga Nabi Muhammad. Bagaimana sih poligami dalam Islam itu? “Belajar dulu, agar siap kalau sudah berumah tangga”, batinku. Beberapa link saya buka dan menyimak satu persatu kisah romantis nan heroik kanjeng nabi kepada istrinya. Sedang asik senyum-senyum sendiri membayangkan kelak saya sudah menikah, e njedul link kelas poligami.

Ebuset, Poligami ternyata ada kelasnya. Tapi tentu itu berlaku untuk mereka yang sudah menikah. Penasaran, saya ikutan buka website dauroh poligami indonesia. Kalau buka website yang lumayan bikin kebelet, biasanya saya langsung buka profilnya. Dan….. “Dauroh Poligami Indonesia (DPI) adalah lembaga non formal yang terbentuk dari beberapa aktifis Islam dan Praktisi Poligami yang berlandaskan Alquran dan Assunnah dengan pemahaman Salafus Shalih Ahlussunnah Waljama’ah”.

Muslim mana yang tidak ngiler dengan pernyataan tersebut. Super Islami, seolah surga bisa ditempuh dengan kita berpoligami. Bagi kaum adam seperti saya, tentu ini menjadi kabar yang melegakan, membahagiakan, dan menggiurkan. Meskipun harus membayar biaya kursus kelas poligami sebesar 3 sampai 5 juta. Lha, masak gak mau nikah sama ukhti-ukhti cantik nan jelita?! Apalagi beberapa diberi teladan oleh ustaz-ustaz selebritis yang bahagia berpoligami (meski beberapa ada yang cerai). Aduh, emang bener petuah-petuah kuno itu, “Godaan terbesar laki-laki itu harta, tahta, wanita”.

Tapi karena wajah saya “pas-pasan”, saya akan coba membela kaum hawa. Karena misalpun saya berniat poligami, tampang saya pasti juga tidak akan menjual untuk para ukhti. Jadi saya akan coba menulis dengan tulisan yang “sok bijak”, untuk membela wanita-wanita feminis yang anti dimadu. Karena sejatinya “madu” itu bahagia untuk pria, sengsara untuk wanita.

Baca Juga : Virus Ideologi

Kisah Poligami Nabi Muhammad

Qatadah ra. Berkata, “Nabi SAW telah menikahi lima belas wanita, sempat berumah tangga dengan tiga belas wanita, dan mengumpuli antara sebelas wanita, dan di saat intiqal, beliau SAW beristeri sembilan wanita”.

Tentu beda kapasitas kita dengan Nabi Muhammad. Apalagi kita juga harus melihat latar belakang Nabi Muhammad berpoligami. Tentang penyebaran agama Islam, keadaan lingkungan sosial, dan alasan lain yang sering dikaji dalam ilmu tarikh. Kalau memang poligami diniatkan untuk mencontoh rasulullah, tentu yang pertama kita harus siap menikah dengan janda, yakni Siti Khadijah binti Khuwailid. Usianya kala itu sekitar 40 tahun.

Setelah Siti Khadijah sebagai istri pertama Nabi Muhammad meninggal, beliau menikah lagi dengan Saudah bintu Zam’ah bin Qois radhiyallahu‘anha. Dia juga janda dari sahabat nabi, Sakran bin Amr Al-Amiry yang wafat di Habasyah. Selanjutnya dengan Siti ‘Aisyah dan menikah lagi dengan beberapa wanita lain.

Namun yang perlu diingat, bahwa Nabi Muhammad melakukan monogami selama 25 tahun lamanya, sedangkan melakukan poligami selama 13 tahun. Selain itu, beberapa pendapat ulama mengatakan bahwa hanya Siti ‘Aisyah yang dinikahi oleh Nabi Muhammad dalam keadaan masih perawan.

Patut direnungkan kembali motif praktek poligami di zaman sekarang. Apakah benar-benar berminat menjalankan sunah rasul, atau hanya menuruti nafsu syahwat suami mesum? Apalagi ada gosip kalau kelas poligami dikaitan dengan bisnis yang dibungkus dengan agama.

Menariknya lagi, kalau melihat postingan di grup poligami atau komentar para akhwat itu cukup mengejutkan. Seperti mereka meminta doa restu agar diberikan kekuatan untuk siap dipolgami, berbahagia mempunyai suami sebagai imam yang membimbing 4 istri, dan lain sebagainya. Lampu hijau sudah menyala benderang oleh istri-istri yang juga “tergiur” dan bangga dipoligami. Hah?!

Baca Juga : Wanita Adalah Tiang

Dalil Poligami

Nah, ribetnya nulis seputar agama ya harus siap menyajikan dalil, biar tidak dituduh berdalih. Sebelum saya menulis dalil seputar ketidaksetujuan saya dengan praktek poligami, berikut ini adalah dalil para pecandu poligami yang sering digaungkan.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Artinya :

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Tuh, saya kasih triknya. Baca sebagian ayat dari ayat tersebut, kemudian yakinkan pada istri kalian. Tambah dengan petuah-petuah bijak dan meyakinkan. Insyaallah, istri kalian rela dimadu. Kalau masih belum berhasil, bisa ditambah dengan hadis berikut.

النكاح مستحب لمن يحتاج اليه, ويجوز للحر أن يجمع بين اربع حرائر

Nikah disunnahkan bagi mereka yang membutuhkannya. Seorang laki-laki (merdeka/bukan budak) boleh memiliki empat orang istri.

Pada dasarnya hukum nikah adalah sunnah bagi mereka yang dianggap telah membutuhkannya. Baik secara biologis maupun psikologis. Karena kebutuhan itu selalu mengundang ketamkan, maka seorang laki-laki hanya diperbolehkan menikahi masksimal empat orang istri. Demikian keterangan lengkapnya dalam fathul qarib. Jika masih belum berhasil pula, bisa ditambah dengan hadis bijak berikut.

إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحصنت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها : ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت

Jika seorang wanita menunaikan salat lima waktu, berpuasa (pada bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya, taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu sukai

Mungkin kalau kalian bersedia mengikuti kelas poligami yang katanya akan tour di kota besar Indonesia, kalian akan bisa mendapatkan tips dan trik berpoligami lainnya. Bagaimana? Mau mencoba?

Nah, selanjutnya kita mau bahas dalil yang lumayan kontra dengan dalil di atas. Minimal bisa menjadi bantahan para istri-istri penggiat monogami di seluruh semesta. Perihal praktik poligami, para ulama berbeda pendapat setidaknya terbelah menjadi dua. Pertama, kalangan Syafiiyah dan Hanbaliyah yang tampak menutup pintu poligami karena rawan dengan ketidakadilan sehingga keduanya tidak menganjurkan praktik poligami. Sementara kalangan Hanafiyah menyatakan kemubahan praktik poligami dengan catatan calon pelakunya memastikan keadilan di antara sekian istrinya.

ذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ لاَ يَزِيدَ الرَّجُل فِي النِّكَاحِ عَلَى امْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ ظَاهِرَةٍ ، إِنْ حَصَل بِهَا الإِعْفَافُ لِمَا فِي الزِّيَادَةِ عَلَى الْوَاحِدَةِ مِنَ التَّعَرُّضِ لِلْمُحَرَّمِ ، قَال اللَّهُ تَعَالَى وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ، وَقَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ يَمِيل إِلَى إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَدُ شِقَّيْهِ مَائِلٌ”… وَيَرَى الْحَنَفِيَّةُ إِبَاحَةَ تَعَدُّدِ الزَّوْجَاتِ إِلَى أَرْبَعٍ إِذَا أَمِنَ عَدَمَ الْجَوْرِ بَيْنَهُنَّ فَإِنْ لَمْ يَأْمَنِ اقْتَصَرَ عَلَى مَا يُمْكِنُهُ الْعَدْل بَيْنَهُنَّ ، فَإِنْ لَمْ  يَأمَنْ اقْتَصَرَ عَلَى وَاحِدَةٍ لِقَولِه تَعَالَى فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

Bagi kalangan Syafi’iyah dan Hanbaliyah, seseorang tidak dianjurkan untuk berpoligami tanpa keperluan yang jelas (terlebih bila telah terjaga [dari zina] dengan seorang istri) karena praktik poligami berpotensi menjatuhkan seseorang pada yang haram (ketidakadilan). Allah berfirman, Kalian takkan mampu berbuat adil di antara para istrimu sekalipun kamu menginginkan sekali.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang memiliki dua istri, tetapi cenderung pada salah satunya, maka di hari Kiamat ia berjalan miring karena perutnya berat sebelah.’ … Bagi kalangan Hanafiyah, praktik poligami hingga empat istri diperbolehkan dengan catatan aman dari kezaliman (ketidakadilan) terhadap salah satu dari istrinya. Kalau ia tidak dapat memastikan keadilannya, ia harus membatasi diri pada monogami berdasar firman Allah, ‘Jika kalian khawatir ketidakadilan, sebaiknya monogami,” (Lihat Mausu’atul Fiqhiyyah, Kuwait, Wazaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah, cetakan pertama, 2002 M/1423 H, juz 41, halaman 220).

Madzhab Syafi’i dengan jelas tidak menganjurkan praktik poligami. Bahkan Madzhab Syafi’i mempertegas sikapnya bahwa praktik poligami tidak diwajibkan sebagaimana kutipan Syekh M Khatib As-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj berikut ini.

إنَّمَا لَمْ يَجِبْ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنْ النِّسَاءِ إذ الْوَاجِبُ لَا يَتَعَلَّقُ بِالِاسْتِطَابَةِ وَلِقَوْلِهِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ وَلَا يَجِبُ الْعَدَدُ بِالْإِجْمَاعِ

Nikah itu tidak wajib berdasarkan firman Allah (Surat An-Nisa ayat 3) ‘Nikahilah perempuan yang baik menurutmu.’ Pasalnya, kewajiban tidak berkaitan dengan sebuah pilihan yang baik. Nikah juga tidak wajib berdasarkan, ‘Dua, tiga, atau empat perempuan.’ Tidak ada kewajiban poligami berdasarkan ijma‘ ulama,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj, Beirut, Darul Fikr, tanpa keterangan tahun, juz 3, halaman 125).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli memandang bahwa praktik poligami bukan bangunan ideal rumah tangga Muslim. Menurutnya, bangunan ideal rumah tangga Muslim adalah monogami. Praktik poligami adalah sebuah pengecualian dalam praktik rumah tangga. Praktik ini bisa dilakukan dengan sebab-sebab umum dan sebab khusus. Walhasil, hanya kondisi darurat yang membolehkan seseorang menempuh praktik poligami.

إن نظام وحدة الزوجة هو الأفضل وهو الغالب وهو الأصل شرعاً، وأما تعدد الزوجات فهو أمر نادر استثنائي وخلاف الأصل، لا يلجأ إليه إلا عند الحاجة الملحة، ولم توجبه الشريعة على أحد، بل ولم ترغب فيه، وإنما أباحته الشريعة لأسباب عامة وخاصة

“Monogami adalah sistem perkawinan paling utama. Sistem monogami ini lazim dan asal/pokok dalam syara’. Sedangkan poligami adalah sistem yang tidak lazim dan bersifat pengecualian. Sistem poligami menyalahi asal/pokok dalam syara’. Model poligami tidak bisa dijadikan tempat perlindungan (solusi) kecuali keperluan mendesak karenanya syariat Islam tidak mewajibkan bahkan tidak menganjurkan siapapun untuk melakukan praktik poligami. Syariat Islam hanya membolehkan praktik poligami dengan sebab-sebab umum dan sebab khusus,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 7, halaman 169).

Sebab-sebab umum yang dimaksud antara lain, menurut Syekh Wahbah, adalah perang yang menewaskan banyak pria. Sementara sebab khusus adalah penyakit berat yang diderita oleh seorang istri sehingga tidak bisa melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang istri. (Sumber : nu online)

Baca Juga : Antara Benci, Sayang, atau Sangat Sayang

Seni Berpoligami

Lebih menarik kalau saya sedikit mengulas pemahaman poligami dari guru kami – Muhammad Ainun Najib. Menuruk Cak Nun, poligami adalah cara atau metode agar masing-masing orang mesti ikhlas menempatkan diri berposisi sebagai “suami” sekaligus “istri” yang baik bagi setiap orang. Kata “suami” dan “istri” di sini, bukan berarti dalam konsep wadak: fisik semata. Melainkan lebih menonjol pada pemaknaan sifat. Suami dalam koridor ini berarti “ruh jiwa” yang selalu melindungi, mencarikan nafkah dan merancang skenario hidup dengan segala kalkulasi hidup. Setara dengan itu, makna istri adalah ruh jiwa yang sarat dengan belaian kasih sayang, gemar memberi dan melayani serta ikhlas dalam mendidik buah kasih sayang.

Poligami tak serta merta harus beristri dua, tiga atau empat. Bahkan mengharuskan setiap orang, setiap muslim dalam posisi apapun wajib ‘ain menggelorakan poligami. Sangat boleh beristri seribu, dua ribu, sejuta dan entah berapa lagi. Karena -menurut Cak Nun- paling tidak ada tiga batasan poligami.

Satu, bagi pemerintah atau birokrat. Berpoligami teruntuk pemerintah artinya mereka harus berposisi sebagai “suami”. Sementara rakyat berposisi sebagai pihak “istri”. Persuami-istrian antara pemerintah dan rakyat ini mesti terjalin sepenuhnya agar tak terjadi kasus KKN. Tak ada lagi kelaparan, kemiskinan; karena mentalitas pemerintah semisal presiden atau wakilnya memiliki kepekaan sosial sekelas seorang suami yang bersifat melindungi.

Batasan kedua, poligami dalam wilayah konteks ketuhanan. Dalam hidup ini, Tuhan berposisi sebagai “suami” sementara seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia terformat menjadi pihak “istri”.

Merunut pada logika poligami satu dan dua di atas lahirlah batasan poligami yang ketiga yaitu, poligami dalam arti muasal. Yakni, suami yang memiliki istri lebih dari satu atau maksimal empat. Menurut Emha, setiap orang memiliki kebebasan untuk menafsirkan boleh-tidaknya poligami menurut pemikiran dan perhitungan pribadi dengan mendasarkan pada hasil pengamatan dan pendapat orang lain. Dan yang perlu diingat pula, orang lain tak boleh pula memaksakan sekehendak hati atas penafsirannya tentang poligami untuk kemudian memaksakan prinsip penafsirannya tersebut pada orang lain. Karena, apa yang telah ditafsirkan oleh seseorang dan orang lain itu memiliki konsekuensi logis untuk diikuti.

Poligami tak melulu seratus persen berkutat pada masalah boleh-tidaknya kawin dengan istri lebih dari satu atau maksimal empat. Terlalu sempit dan prematur membahas poligami hanya menempatkannya sebagai obyek kajian bidang perseksualitasan yang kerap melibatkan nafsu purba antara pasangan wanita dan pria. Poligami lebih menyangkut masalah kemaslahatan sosial dalam konteks yang lebih luas.

Atau ada pula yang menyetujui poligami karena alasan lebih sosialis, yakni untuk menghindarkan dari tindak perselingkuhan. “Dari pada selingkuh, lebih baik berpoligami”. Ungkap mereka yang pro praktik poligami. Kontras dengan pendapat pertama tadi, pihak penentang poligami berpendapat bahwa memiliki istri lebih dari satu berarti sama artinya menindas pihak perempuan. Para aktivis jender, membela kaum perempuan dengan melancarkan kalimat satir. Ucapan radikal kaum penentang poligami itu menyatakan bila benar pihak laki-laki boleh berpoligami, maka logikanya perempuan juga boleh untuk berpoliandri.

Pada skala lebih makro dan ini lebih kompleks lagi, ada sejumlah negara yang tegas membuat aturan hukum untuk melegalkan poligami. Senada dengan itu, ada pula negara yang secara gamblang melarang poligami melalui undang-undang negara bersangkutan. Di luar itu, ada negara yang tak perlu mengatur masalah poligami, tapi menyerahkan semuanya pada masing-masing individu.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!