Categories: opiniSimponi

Plagiat Malaikat

Share

“Malaikat kok plagiat?!”

Membodohkan malaikat Roqib. Lha kok? Sudah to, jangan berlagak bingung. Padahal setiap hari kita selalu berusaha mengajari malaikat tersebut. Setiap amal ibadah dilakukan dengan catatan rapi di status dan caption media sosial. Dari niat sampai pulang kembali dari melakukan ibadah. Detail. Kemudian malaikat dituntun menulis kata demi kata setiap ibadah yang terlanjur dibacakan kepada orang lain.

Dalam sebuah obrolan, diselipkan sedikit sisi kebaktian kepada Tuhan. Malaikat harus jeli memperhatikan ucapan manusia tersebut. Tidak boleh kelewat. Beberapa yang kurang puas dengan menceritakan amal ibadahnya kepada orang lain, mereka menulis amalan ibadah dalam secarik buku diary atau note di akun media sosial. Barangkali jika nanti di akhirat ada salah tulis dari malaikat tentang amalan ibadah yang dilakukan. “Masak plagiat lebih benar daripada yang diplagiati”, begitulah batin pembuat peluang jasa diplagiatkan karyanya.

Untuk beberapa tindakan yang tidak berkenan atau dalam bahasa formal, “melanggar komitmen”. Mereka sengaja menyembunyikan atau tidak menulisnya dalam diary masing-masing. Anggap saja itu hanya selingan dari takdir hidup menjadi manusia. Ibadah itu harus mendapat balas jasa. Harus tekun dicatat agar tidak terselip. Sehingga bisa menuntut kepada Tuhan sang Maha Adil, jika terjadi kesalahan dalam penilaian.

Manusia sibuk mencari semua sumber/ dasar tentang amalan yang bisa mendatangkan pahala. Mulai dari memberi makan anjing, hingga menjadi donatur pembangunan masjid di banyak daerah. Mereka hidup hanya untuk mendapatkan pahala, sampai kadang lupa siapa yang berhak memberinya pahala. Tidak mempercayai malaikat karena tuduhan telah berplagiat. Sampai akhirnya malaikat menginggalkan manusia tersebut, tersisa Atid!

Bagaimana mungkin catatan manusia bisa lebih detail daripada malaikat? Kok bisa kredibilitas malaikat masih dipertanyakan? Barangkali manusia sudah harus memikirkan masak-masak, “Pantaskah aku menuliskan ibadahku hari ini?”

Kalau mempelajari beberapa kisah nabi dan alim ulama jaman dahulu, tentu ada hal yang menarik, bahwasanya mereka tidak pernah merasa melakukan amalan ibadah apapun untuk pengharapan sesuatu. Karena sejatinya seluruh ibadah yang dilakukan manusia, tetap akan kalah dengan nikmat yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya.

Kemudian para salafus shaleh, hanya berdoa tentang kezalimannya, tentang kebejatannya, tentang kemunafikannya, dan tentang segala dosanya. Setelahnya mereka memohon dengan sangat kepada Tuhan untuk mengampuni dosanya.

Hidup sebenarnya hanya fase untuk mendapatkan rida dari Tuhan. Tidak lebih. Surga dan neraka hanyalah hadiah bagi setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Jangan pernah meragukan malaikat. Sembunyikanlah ibadahmu, karena Tuhan Maha Tahu, dan malaikat akan selalu mencatat perbuatanmu. Jangan malah dipamerkan kepada khalayak, seolah memang kalian layak sebagai penghuni surga.

Sedangkan Tuhan menjanjikan, amal baik dan amal buruk hanya berjarak satu hasta. Betapa mudahnya Tuhan membalikan iman seseoang yang kemudian di tempatkan ke dalam neraka.

Perbanyak zikir, perbanyak istighfar, semoga kelak kita dan keluarga bisa menulis bersama di surga yang telah dijanjikan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU