Phobia Tuhan

Phobia kok sama Tuhan?!

Sebelumnya saya mohon maaf kepada Tuhan yang Maha Welas dan segenap manusia yang mem-phobia-kan Tuhan. Phobia berasal dari kata yunani phobos yang berarti lari, cemas, dan ketakutan. Phobia adalah keadaan irrasional yang dialami manusia karena cemas dan takut pada makhluk, benda, atau sesuatu tempat yang tiada henti. Kadang manusia yang menderita phobia sering berlebihan saat menghadapi hal yang diphobiakan. Seperti phobia kecoa, badut bahkan balon. Lantas bagaimana bisa phobia sama Tuhan?

Saya akan menganalisis tentang penafsiran manusia terhadap Tuhan yang suka diabaikan. Mereka mengaku takut akan siksaan yang Tuhan janjikan apabila melanggar perintah dari sang Maha. Manusia takut berdosa karena Tuhan. Manusia takut berontak karena Tuhan. Manusia takut akan takdir Tuhan. Tuhan begitu mencekam di mata manusia.

Baca Juga : Hidup Selembar Kertas

Sedikit merasa aneh pada beberapa di antaranya yang mulai menerka Tuhan dengan akal pikiran mereka sendiri. Sehingga menjadikan sama dengannya. Tuhan yang dipersempit maknanya.

Manusia mentaati perintah Tuhan dengan keyakinan masing-masing. Tuhan yang penuh kekuatan ruh nurani dan membungkam segala aspek filsafat dan sains. Dicari dan tak pernah terjangkau oleh akal duri manusia picik yang meraba-Nya. Tuhan dan takdir begitu menakutkan baginya. Padahal itu jelas bukan sifat-Nya yang maha Pemurah dan Welas Asih.

Di lain sisi, welas asih Tuhan malah dijadikan foya-foya segelintir dari mereka untuk menikmati kehidupan yang katanya, “amung mampir ngombe“. Dengan identitas agama di KTP-nya mereka meyakini Tuhan maha baik dan menjaminnya masuk surga. Benarkah? Biarkan Tuhan yang menentukan.

Tuhan Maha Hakim. Saat dipengadilan. Tersangka, terdakwa akan begitu ketakutan kepada hakim. hukuman apa? Seberapa lama? Dan macam sebagainya. Tuhan diphobiakan.

Ketika Tuhan menakdirkan kematian. Manusia menggerong-gerong meminta ditambahkan umurnya karena merasa masih banyak dosa. Sekalinya “kun fayakun” ditambah umur manusia tersebut malah semakin menggila ke naifannya kepada Tuhan. Yang phobia semakin phobia, yang sembuh dari phobia semakin menginjak-injak yang sempat diphobiakan.
Ketika Tuhan menghidangkan surga dan neraka. Manusia phobia pada neraka. Semua menginginkan surga. Sekali lagi, menginginkan surga – bukan Tuhan. Karena mereka phobia Tuhan.

Ketika diberi cobaan manusia sinis pada Tuhan. Cemas. Dan akhirnya phobia sama Tuhan. Bahkan lebih ekstrim lagi mereka menghapus Tuhan dalam kamus otak dan hati mereka.

Semakin diberkahi kematangan pemikiran dan era. Manusia semakin menjanjikan dirinya sendiri. Ilmunya digunakan untuk membunuh Tuhan dalam dirinya. Sampai pada suatu saat mereka hampa dan butuh Tuhan.

Ulama Arif Billah pernah mengatakan bahwa salah satu dari sekian banyak penyebab kekacauan, yang sayangnya sulit diatasi, adalah karena gelar mendahului ilmu. Makin banyak orang dengan ilmu seadanya, belum mengalami berbagai ujian hidup dan kerohanian, mendadak dipanggil ustaz, ulama, dan mengeluarkan pendapat yang diklaim paling sahih. Juga anak-anak muda begitu bersemangat membaca, menggaungkan semangat iqra’ dengan keinginan mengubah dunia, menciptakan peradaban yang agung atas dasar pembacaan dan tafsir mereka tentang apa itu peradaban yang agung.

Tetapi sepertinya ada yang luput. Banyak yang menyerukan iqra tapi tidak dengan menyertakan bismi rabbika, dengan menyertakan Rabb, Allah Yang Maha Mendidik. Banyak yang membaca seolah merasa mampu menelisik sendiri segala ilmu segala pengetahuan, tanpa menelisik ke dalam roh dari apa yang mereka baca – padahal roh dari ayat ilahiah, baik dalam kitab suci maupun kosmos, hanya bisa dipahami jika orang selalu menyertakan Rabb dalam aktivitas belajarnya dengan segala kerendahan hati dan kesucian jiwa.

Tanpa itu, agama lalu menjadi tumpukan doktrin kering, kaku, keras, mencetak jiwa-jiwa yang mudah marah dan merasa selalu benar sendiri. Pada akhirnya, agama yang tujuannya membereskan akhlak dan menghancurkan berhala, justru dijadikan berhala, dan bahkan lebih buruk lagi, sebagian orang menjadikan berhala agama sebagai justifikasi untuk memberhalakan dirinya sendiri, mengaburkan makna rahmatan lil-amiin. Ada yang mencoba memonopoli rahmat Allah hanya untuk kelompok sendiri dan menyerang pihak yang tak sepaham. Dan, jika terhadap sesama saudara seiman tak bisa menjadi manifestasi rahmat, bagaimana kita akan bisa menjadi rahmatan lil-alamin?

Belajar agama dengan menyertakan Rabb berarti berusaha meleburkan kehendak diri ke dalam kehendak Allah, dan itu berarti tazkiyatun nafs, menyucikan jiwa. Tetapi tak semua orang berani masuk ke dalamnya, karena tazkiyatun nafs selalu mengandung unsur membingungkan, tak nyaman dan menyakitkan. Maka Maulana Rumi pun berkata, Banyak orang ingin mengubah dunia, tapi hanya sedikit yang ingin dan berani mengubah dirinya sendiri.

Baca Juga : Semakin Tidak Tahu

Tasawuf, dengan segala kontroversinya, adalah bagian dari ajaran Islam yang berurusan dengan akhlak – sebagian sufi menyebut bahwa tasawuf adalah akhlak al-karimah. Tasawuf, dalam salah satu pengertian, adalah bagaimana berakhlak kepada Allah, Rasul, sesama manusia, alam, dan kepada diri sendiri. Meski tasawuf tak luput dari kritik dan kesalahpahaman, namun sebagian besar ulama mengatakan tasawuf sesungguhnya adalah secara sah bersumber dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Semoga dengan belajar banyak mengenai agama. Entah sejarah, kitab, tauhid, tasawuf dan sebagainya. Manusia terhindar dari phobia Tuhan dan saya berharap semoga Tuhan juga tidak phobia kepada kita.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!