Categories: SimponiWarganet

Menangkal Reklamasi Samudra Kesabaran

Share

Pada puluhan tahun yang lalu, Indonesia hanyalah negeri sebelah mata, cuma sekedar negeri “perahan” Belanda, sebuah negeri tak percaya diri yang tak mampu berdiri sendiri. Tapi, semua itu berada pada sebuah titik puncak kejenuhan dimana api semangat perlawanan mulai dikobarkan. Oleh siapa? Oleh semua elemen manusia pribumi? Secara serempak dan serta merta?
Tentu saja tak sesederhana itu.

Diawali dari beberapa pemuda yang mendamba sebuah kebebasan, membagikan api semangat perlawanan, dari mulai perorangan, suku ke suku, dan pada akhirnya semua elemen manusia terjajah di negeri ini dapat digerakkan. Lalu apa yang terjadi kemudian? Kebebasan yang semula hanya dambaan dapat diraih, diiringi kumandang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang begitu syahdu dan menggelora.

Dulu, leluhurmu mengorbankan satu-satunya nyawa agar dirimu bisa merasakan damai. Bersimbah darah untuk kedamaianmu hari ini, tak pernah mereka perdulikan. Lalu, di zaman ini, manusia yang katanya telah dimerdekakan jutaan nyawa justru malah tak senang hidup dalam ketenangan.

Kata siapa? Mana buktinya? Buktinya, ajang pemilihan pemimpin negara yang seharusnya jadi pesta demokrasi masyarakat, malah menjadi medan perang bagi mereka.

Mungkin benar yang dikatakan Pak Soekarno dahulu, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Baca Juga: Kangen Indonesia

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Al-hujurat : 10)

Saling hina dan merendahkan sudah jadi begitu lumrah, hanya karena beda pandangan, lalu terjadi perpecahan. Padahal, penyatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tak selucu itu.

Lantas apakah harus ada lagi peperangan? Apa dirimu tega, anak cucumu kembali bedarah untuk mendamaikan Indonesia sekali lagi? Apa dirimu rela, anak cucumu tergeletak, bersimbah darah di depan matamu? Dihabisi sesama bangsamu?

Mari berdamai saja.
Berhentilah saling hina.
Hormati pendapat orang lain.
Semua manusia mempunyai pandangan yang berbeda, bukan berarti mereka salah dan kau benar, tapi semua benar dengan sudut pandang masing-masing.

Bukankah meninggikan kesabaran akan membuatmu lebih mulia?
Bukankah melapangkan dada akan membawamu pada puncak kedamaian?
Maka, mari kita pupuk kesabaran, luaskan dada dan perbesar toleransi. Dalam ilmu matematika pun, memperbesar toleransi akan semakin mengecilkan nilai kesalahan.

Perbedaan itu anugrah, dunia ini akan begitu gelap kalau hanya berisi warna hitam. Begitu terasa kosong kalau hanya berisi warna yang monoton. Bahwa pelangi jadi begitu indah karena paduan warnanya, disertai gradasi antara tiap level warna sebagai wujud toleransi penerimaan antar perbedaan sudut pandang mereka.

Mari bersama kita pulang. . .
Pulang ke tempat di mana Indonesia menjadi rumah yang damai bagi semua pemiliknya. Jangan mau diadu domba hanya karena kita berbeda cara pandang, berbeda suku, berbeda letak geografis, berbeda dalam hal budaya atau dalam hal beragama.

Tapi bersatulah, karena kita Indonesia !!!

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-hujurat : 10)


Zada Syauq – Seniman NU Regional Lampung