Ngaji Pasan #3

Kitab Maulid Al Barzanjiy (Madarijus Su’ud)
KH Abdul Karim (Gus Karim) – Solo
# Bagian 3
————————————————–
“PERANGAI FISIK SYAIKH JA’FAR AL BARZANJIY”

Di antara manaqibnya lagi, sifat sosok fisik Syaikh Ja’far Al Barzanjiy. Beliau memiliki wajah yang tampan sekali, berbicaranya pelan, lambat, dan jelas. Bila berbicara siapapun orangnya, latar belakangnya apapun, kelasnya apapun semuanya bisa menerima. Terkadang ada guru atau mubalig yang menerangkan, sebagian senang dan sebagiannya pusing, kadang ada yang muda cocok dan senang namun kaum sepuh (tua) malah tidak paham dan begitu juga sebaliknya. Warnanya kulit tidak putih, tidak hitam, dan tidak kuning, warna kulitnya menyenangkan untuk dilihat, tidak seperti kulit londo (Belanda) yang bila diperhatikan dengan seksama sebenarnya seperti itu, tidak juga seperti kulitnya orang Jawa yang hitam namun hitam seperti sawo matang. Bila ingin bertemu orang yang hitamnya luar biasa, coba pergi umrah atau haji, insyaAllah di sana akan menemukan orang hitam yang masya Allah yang hitamnya seperti songkoknya santri. Kedua alis Syaikh Ja’far itu hampir bersambung (gandeng).

Coba kamu membayangkan saja sudah pingsan, seakan-akan malam ini duduk dengan kita, mungkin malah di depanmu. Tingginya sedengan, standar, tidak tinggi dan tidak pendek. Cita–citanya tinggi, tidak pernah putus asa, himmah-nya tinggi. Kedua matanya lebar, tidak sipit, mata sipit itu Cina, singkek-singkek, barang-barang saya ya “singkek” tambahin “i”, jadi “sing kek i” (barang pemberian; Jawa). Gigi beliau miji timun, rapi, rata, tidak The Prong (The Prongos). Saya dulu mondok di Krapyak ada warung makan paling murah dan enak, ciri–ciri warung pondok yang murah dan enak itu yang penting banyak porsinya. Penjualnya namanya Pak Wiryo, panggilanya ya The Prong. Hidung Syaikh Ja’far itu mancung, tidak terlalu panjang, menyenangkan, tidak seperti orang Londo (Belanda). Jenggotnya tebal, sekarang banyak orang jenggotan namun cuma dua helai. Pokoknya sifat-sifatnya bagus semua, itu beliau Syaikh Ja’far Al Barzanjiy.

Karangan–karangan beliau yang tercatat dalam tulisan yang saya baca ada 8 karangan, yang masih sampai sekarang di pesantren – pesantren. Yang tidak dibaca masih banyak sekali, yang sampai sekarang masih abadi dalam dunia Islam itu yang tercatat ada 8 buah; Mukhtashor Ad Du’ul Wahhad Fi Qisshatil Isra’ wal Mi’raj; Al Ghasnul Waridi Fi Akhbari Sayyidil Mahdi; Jaliyatul Karbi bi Akbari Ashabi Sayyidil ‘Ajmi wal Arabi; itu kitab-kitab tidak perlu kamu catat, di antaranya lagi yang paling terkenal itu Kitab Al Barzanjiy, menunjukkan beliau produktif dalam menulis.

Beliau meninggal tahun 1177 H, dan umurnya 49 tahun, ada riwayat mengatakan 51 tahun, namun yang shahih beliau hanya diberi oleh Allah umur 49 tahun. Dengan umur segitu beliau sudah memiliki karya yang luar biasa, mengukir pribadi yang luar biasa. Aku sekarang yang umur segini tidak punya karya sama sekali, membaca kitab blekak–blekuk, tidak lanyah, Alquran juga tidak lanyah. Kita punya ulama yang semacam beliau itu, kalau kita tidak cinta dengan ulama semacam itu, kita mau mencintai tokoh siapa?! Imam Syafii juga 51 tahun saja usianya. Ulama kita yang tokoh–tokoh besar, juga diberikan usia waktu yang sangat pendek oleh Allah. Ini memberikan pelajaran bagi kita mari kita berkarya yang sungguh–sungguh, sekolah belajar juga dijalankan dengan sungguh–sungguh.

Al Fatihah
Bersambung . . .
————————————————–
Mauidhotul Hasanah :
KH Abdul Karim Ahmad Musthofa (Gus Karim) – Solo
Sumber :
Dokumentasi Rekaman Ponpes Al Qur’aniy Az Zayadiyy Solo


Fadhel Moubharok – IPNU Sukoharjo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!