Peran Akal Dalam Islam Menurut Harits al-Muhasibi

Ada banyak hal yang selalu membuat saya bersyukur, misalnya, karena bisa bertemu dengan buku-buku dan banyak orang hingga saya tak menjadi seorang fanatik. Apa yang salah dengan fanatisme agama? Tentu saja ada, selama fanatisme selalu melakukan perusakan seperti membenci dan memerangi sesama manusia yang mengakibatkan perpecahan.

Fanatisme selalu mengandaikan kemurnian yang pada kenyataannya mustahil, karena sejarah dan realitas terus bergerak, terus berubah. Sehingga golongan fanatisme agama cenderung menganggap dirinya lebih murni atau suci, saleh dan benar, tanpa dibarengi nalar kritis. Mereka adalah sekolompok orang konservatif yang berupaya untuk terus memelihara nilai-nilai terhdahulu yang barangkali tak lagi relevan untuk saat ini dan akhirnya membutuhkan pembacaan yang lebih substansial dan kontekstual agar mampu mendorong setiap potensi perubahan yang adil sejahtera. Maka tak heran jika akhir-akhir ini maraknya jargon “Kembali ke Alquran”. Konyolnya, “Kembali ke Alquran” ini yang tak lain merupakan Alquran terjemahan departemen agama.

Ditambah lagi persoalannya adalah apakah dengan kembali pada kemurnian teks (kembali ke Alquran) ini dapat menjawab permasalahan umat Islam saat ini yang begitu kompleks, yang meliputi berbagai sektor kehidupan hari ini? Bagaimana menafsirkan, menjelaskan, dan mempraktikan nila-nilai dalam ayat-ayat Alquran yang mulia sesuai dengan kondisi realitas yang tak lagi sama pada saat turunnya ayat-ayat Alquran itu? Sehingga bisa saja kemurnian teks yang menjadi pegangan iman barangkali tak lagi memiliki jaminan apapun kecuali delusi, karena tak berelasi dengan realitas zaman yang terus berubah. Maka di situlah pentingnya ilmu agar kita tak terjatuh pada fanatisme yang dangkal.

Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa, “Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya, maka ia dipahamkan dalam ilmu agama, dan sesungguhnya ilmu itu dengan ta’allum (belajar)” (HR. Bukhari).

Hadis ini mengindikasikan bahwa ilmu merupakan sumber kebaikan. Dari ilmu itulah, peradaban Islam menjadi maju, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Namun, barangkali para kelompok fanatisme agama tak menyadari hal ini. Mereka terlalu terburu-buru menganggap bahwa ilmu, khususnya yang dihasilkan oleh orang-orang Eropa, merupakan haram. Padahal, belum tentu hanya dengan mempelajari ilmu agama saja kita bisa mengerti persoalan hidup yang rumit. Ini sesuai dengan perkataan Imam Syafi’i saat menggambarkan tentang dunia dan akhirat, keduanya hanya bisa diraih dengan jalan ilmu. Imam Syafi’i berkata:

“Barang siapa yang menginginkan dunia maka wajib atasnya memperoleh ilmu, dan barang siapa yang menginginkan akhirat maka wajib pula baginya mengetahui ilmunya. Siapa yang tidak menyukai ilmu, maka tidak ada kebaikan baginya, maka antara dirimu dan dirinya tidak ada pengetahuan dan kepercayaan.”

Dari perkataan Imam Syafi’i itu, kita bisa mengetahui bahwa ilmu dibagi menjadi dua, yakni dunia dan akhirat. Terlepas dari pembagian ilmu dalam filsafat ilmu. Dalam hal memperoleh keduanya, kita membutuhkan ilmu. Sehingga ilmu menjadi sangat penting bagi kehidupan kita, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Ilmu pun kita peroleh dengan belajar. Belajar dari mana saja, tak hanya melalui buku-buku, tapi bisa kita dapat melalui alam dan manusianya secara langsung. Namun, yang terpeting, dalam hal menuntut ilmu, kita membutuhkan peran seorang guru agar kita tidak salah kaprah.

Allah menganugrahkan sebagian ilmu kepada mahluk-mahluk-Nya, terutama para kekasih seperti Nabi dan Rasul hingga para wali dan ulama, untuk kita pelajari, mengambil hikmahnya. Maka tak heran, jika wahyu pertama merupakan perintah untuk membaca: Bacalah! Apa yang harus dibaca? Tentu saja, ayat-ayat Tuhan dan hidup itu sendiri. Membaca berkait-kelindan dengan proses kognitif. Dengan membaca kita dituntut untuk memahami objek yang kita baca. Kemudian mempraktikannya atau mengamalkannya. Meski yang terakhir ini sangat tidak mudah. Dibutuhkan kesabaran, kerendah hatian, dan keuletan dalam melakukannya.

Di dalam proses kognitif itu, akal sangat berperan penting. Selain peran guru dalam membantu kita untuk memahami, akal pun membantu kita dalam melakukan penalaran untuk mencerna apa saja yang telah kita pelajari, yang masuk melalui indera penglihatan atau pengalaman kita untuk diproses menjadi pengetahuan. Sehingga dalam Alquran, akal pun mendapat kedudukan yang penting.

Akal merupakan titipan yang berharga dari Allah. Oleh sebab itu banyak ulama yang membahas peran akal manusia dalam proses memahami agama dan kehidupan ini. Salah satunya ialah seorang sufi terbaik, Imam al-Harits al-Muhasibi (w. 243H/855M). Memang, Imam Muhasibi mungkin tidak sepopuler Imam al-Ghazali. Seperti halnya penulis yang pada awalnya asing dengan nama tersebut. Saya baru mengetahuinya setelah mengikuti pengajian yang diadakan Gus Fayyadl (Muhammad Al-Fayyadl). Dari situlah saya mengetahui sosok Imam Muhasibi.

Nama Imam Muhasibi bagi kalangan sufi generasi pertama sudah tak asing lagi. Ia sangat dikenal sekaligus dikagumi oleh mereka yang mengenalnya. Hingga banyak kesaksian yang diberikan tentang dirinya. Al-Qusyairi mengatakan bahwa, “Imam Muhasibi merupakan seseorang yang tidak ada bandingan pada eranya dalam hal keilmuan, wara (sikap hati-hati), hubungannya dengan sesama manusia dan kondisi (‘hal’)-nya”. Sifat wara itu tergambar kuat, sehingga nyaris selalu menjadi catatan para penulis biografinya.

Dalam penjelasan Gus Fayyadl, diceritakan bahwa al-Muhasibi mewarisi 70.000 dirham dari ayahnya, namun karena ayahnya adalah seorang penganut Qadariyyah dan al-Muhasibi kurang berkenan dengan akidah ayahnya yang dianggap keliru, ia menolak warisan itu dan memilih hidup miskin, kuatir memakan harta yang “syubhat”. Abu Ali al-Daqqaq, seorang sufi, menyebutkan: “Setiap kali al-Harits al-Muhasibi mendekatkan tangannya kepada makanan yang “syubhat”, dan jari-jemarinya mengalir keringat sehingga ia tidak jadi mengambilnya”.

Sikap-sikap wara itu yang mungkin membuatnya selalu memiliki pandangan yang proposional, karena bagi para sufi makanan yang “syubhat”, lebih-lebih haram, dapat mempengaruhi jiwa seseorang. Meski seorang yang zuhud, selalu berjarak dengan urusan duniawi, bukan berarti al-Muhasibi meninggalkan pergaulan manusia (mu’amalah) hanya demi menyendiri untuk beribadah. Ia sangat menekankan keterlibatan aktif dalam urusan-urusan duniawi.

Ia berkata: “Sebaik-baiknya umat ini adalah orang-orang yang urusan akhirat mereka tidak menyibukkan mereka dari urusan duniawi, dan urusan duniawi mereka tidak menyibukkan mereka dari akhirat”.

*

Gus Fayyadl menjelaskan pembahasan akal dalam kitab al-Muhasibi ini dengan sangat teliti dan jernih. Pertama, ia memulainya dari bagian “Bab Esensi Akal dan Hakikat Pengertianya: Sub-bab: Akal di dalam bahasa”. Dalam kitabnya itu, al-Muhasibi menulis, “Saya ditanya oleh seseorang mengenai akal. Apakah itu?”.

Sebelum memaparkan apa yang dijelaskan al-Muhasibi, ada baiknya kita melihat lebih dulu penjelasan para ulama yang membaginya dalam tiga pengertian. Salah satunya, pada pengertian esensial (dari akal itu sendiri), tidak ada pengertian lain selainnya di dalam hakikatnya. Dua pengertian yang lain adalah dua istilah (ismani) yang sama-sama dipakai oleh orang Arab. Keduanya merupakan kata kerja, dan keduanya tidak mungkin (dipahami) kecuali bersama (pengertian yang dibawa oleh) kata kerja itu dan berasal dari kata kerja itu. Allah Swt. telah menyebut kedua istilah itu, juga para ulama, dengan “akal”.

Menurut Gus Fayyadl, pada bagian kitabnya itu, al-Muhasibi menguraikan pendapatnya mengenai problem akal, dilihat dari pengertian esensialnya. Ia menggunakan dua parameter metodologis: pengertian leksikal kebahasaan dan pengertian esensial yang tertangkap dari pemahaman dan interpretasi dari al-Quran dan Sunnah. Dari kedua pengertian ini, ia membedakan antara dua hal: pengertian akal ditinjau dari esensi atau hakikatnya, dan penggunaannya sebagai realitas kebahasaan sebagaimana dijumpai dalam al-Quran dan Sunnah, budaya Arab, dan konvensi para ulama.

Ditinjau dari pengertian esensialnya (fi al-ma’na wa al-haqiqah), “akal”, menurut al-Muhasibi, adalah suatu “gharizah”. Suatu insting, atau naluri, atau dorongan, atau tabiat. Ia (rahimahullah) menulis:

“Adapun akal, di dalam pengertian esensialnya, adalah “gharizah”, yang diletakan Allah Swt pada sebagian besar ciptaan-Nya, yang tidak diketahui oleh hamba-hamba-Nya dari satu sama lain, dan masing-masing tidak mengetahuinya pada diri mereka, baik dengan jalan penglihatan, penginderaan, intuitif, atau pencecapan. Hanya, akal telah mengenalkan mereka kepada Allah Swt., maka dengan akal itu mereka mengenal-Nya, dan mereka bersaksi atas (eksistensi)-Nya dengan akal yang mereka kenal dari diri mereka, dengan pengenalan (makrifat) apa yang bermanfaat bagi mereka dan apa yang berbahaya terhadap mereka.”

Al-Muhasibi langsung memberikan suatu tesis. Ia mendefinisikan bahwa akal pada dasarnya merupakan suatu “gharizah”. Menurut Gus Fayyadl, konsepsi ini menarik, karena tidak biasa. Untuk itu kita mesti mengetahui apa itu “gharizah”, dan dalam arti apa akal merupakan “gharizah”. Dilihat dari arti leksikalnya, “akal” dalam bahasa Arab berarti “menahan” (al-habs), “mencegah” (al-hijr), “melarang (al-nuhyi), “mengikat” (sebagaimana dalam ungkapan “aqal al-bair”, mengikat unta), dan seterusnya. Suatu istilah yang cenderung didefinisikan dengan fungsinya yang negatif.

Namun, menurut Gus Fayyadl, al-Muhasibi mengajukan suatu definisi yang tak lazim, yaitu akal adalah “gharizah”. Suatu insting, naluri, atau dorongan. Tidak mudah mengartikan “gharizah”. Kamus al-Mawrid mendefinisikannya: insting (instinct), dorongan (pulsion), atau gerakan (move).

Insting atau naluri adalah kurang lebih suatu dorongan yang bergerak dan menggerakan makhluk hidup. Sebagai suatu dorongan, hal ini mengingatkan pada konsepsi psikoanalisis Freudian “Trieb”, yang berarti “dorongan psikis” yang menggerakan manusia dalam bawah sadar. Namun, jika Freud memahami dorongan itu berada pada dimensi sub-rasional atau “irasional’, yang agaknya lebih dekat dengan pengertian “al-hawa” alias hawa nafsu dalam Islam, al-Muhasibi menganggap dorongan itu sebagai ciri dari akal.

Definisi al-Muhasibi ini tidak lazim, dan membuka suatu pembahasan yang luas dan mendalam. Gus Fayyadl menjelaskan, pada pengataman pertama, akal sebagai naluri atau insting bersifat positif: ia bergerak dan menggerakan. Dalam hal ini akal mirip dengan hawa nafsu, seperti dorongan untuk makan ketika lapar.

Namun akal pastinya berbeda dari hawa nafsu, maka di sini naluri tersebut bukan sembarang naluri. Yang kedua, akal tidak eksklusif dimiliki oleh manusia, tetapi juga makhluk non-manusia. Al-Muhasibi menggunakan istilah aktsar khalqihi (sebagian besar ciptaan Allah Swt), yang tidak terbatas pada manusia, tetapi juga binatang, tumbuhan, dll. Karenanya menarik dilihat apakah yang membedakan akal manusia dan akal ciptaan-ciptaan Allah Swt yang lainnya, jika ada, menururt al-Muhasibi.

Akal diletakkan Allah pada sebagian besar ciptaan-Nya, itu berarti bahwa akal merupakan suatu “titipan”, suatu daya yang tidak melekat secara intrinsik pada manusia dan eksistensinya. Menururt Gus Fayyadl, konsepsi al-Muhasibi ini khas konsespsi religius. Membedakannya dengan konsepsi antropologis murni, misalnya yang diperkenalkan oleh filsafat yunani (Aristotelian, misalnya), di mana akal dianggap merupakan ciri imanen dan bawaan dari manusia, tanpa hubungan dengan realitas di luarnya. Akal suatu “titipan”, maka sewaktu-waktu Allah Swt. dapat mencabut dan mengambil titipan itu sehingga seseorang kehilangan kemampuan akliahnya. Fenomena kegilaan, dapat ditafsirkan dari sudut pandang ini, bukan semata-mata human error, tetapi karena faktor tarikan dan intervensi Ilahi. Secara analogis kita dapat mengatakan akal punya status yang sama di sini dengan pengetahuan, yang juga sewaktu-waktu dapat dihilangkan, atau dicabut oleh Allah Swt bila berkehendak.


Dedi Sahara – Seni tablig Seniman NU

Satu tanggapan untuk “Peran Akal Dalam Islam Menurut Harits al-Muhasibi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!