Peradaban Sungai

Peradaban manusia pertama kali dibangun dari sungai. Sejarah kehidupan manusia pertama dimulai di sungai Mesopotamia, Indus, Nil, Gangga, dan sebagainya. Di Indonesia kehidupan para manusia purba juga terdapat di sungai, seperti sungai bengawan solo. Bahkan kerajaan-kerajaan di Indonesia berpusat di dekat sungai. Seperti kerajaan Sriwijaya dekat sungai Musi, kerajaan Kediri dan Majapahit dekat dengan sungai Brantas.

Sungai sampai sekarang pun menjadi pusat peradaban bagi kehidupan manusia. Seperti halnya sungai “Dam Dewan”. Sungai ini memiliki fungsi yang vital bagi masyarakat Dewan dan sekitarnya. Sungai ini terletak di barat kampung. Fungsi utama dari sungai Dam Dewan sebagai penopang perekonomian masyarakat Dewan dan sekitarnya.

Sungai Dam Dewan setiap tahunya dapat mengaliri ke berbagai aliran irigasi pertanian. Jangkauan wilayah yang dapat di aliri yaitu wilayah Dewan, Bibrik, Klagen Serut, Gersapi, Bakur, dan Ngronggo. Semua wilayah tersebut dalam mengaliri sawahnya menggantungkan pada sungai Dam Dewan.

Beragam tanaman para petani di aliri air yang berasal dari sungai ini. Macam-macam tanaman petani antara lain: tanaman padi, semangka, bawang, melon, timun, kacang, dan kedelai.

Tidak hanya untuk mengaliri ke sawah-sawah saja, sungai ini mempunyai banyak fungsi lain. Sungai Dam sebagai tempat para pemancing untuk menyalurkan hobi macing. Banyak ikan yang terdapat di sungai ini, di antaranya: lele, nila, wader, gabus, udang. Para pemancing ikan di sungai Dam berasal dari berbagai daerah. Sungai ini sebagai tempat menjala ikan, sebagai pekerjaan untuk meningkatkan perekonomian. Dam Dewan berfungsi untuk bermain anak-anak sekitar sungai. Sungai ini menjadi pusat permainan air bagi anak-anak dusun Dewan dan Bibrik.

Baca Juga: Islam, Proyek Konstruksi yang Mandeg

Sejarahnya sungai Dam Dewan sudah ada sejak zaman sebelum Indonesia merdeka. Sungai ini mengalami tiga kali renovasi dengan tempat yang berbeda. Dari waktu ke waktu sungai ini mengalami peningkatan secara fisik bangunannya. Dam Dewan dikelola oleh warga dusun Dewan, sebagai juru kuncinya adalah Maridi. Kehidupan pertanian di daerah ini ditopang oleh sungai Dam Dewan. Masyarakat hidup dari hasil aliran sungai Dam dalam menjalankan kehidupannya.

Atas kelimpahan sumber daya alam yang berupa air sungai, masyarakat di kampung Dewan tidak lupa mensyukurinya. Setiap tahunnya masyarakat ini melaksanakan tradisi labuhan ketika pertama kali hujan turun di musim hujan dengan waktu yang telah ditentukan. Pelaksanaan labuhan dilaksanakan di embong (jalan di sawah). Labuhan biasanya dipinpin oleh sesepuh di kampung tersebut. Dalam tradisi ini masyarakat membawa berkat masing-masing dari rumahnya untuk dikumpulkan di embong. Setelah kumpul semua, di lakukan doa bersama dengan cara Islam. Konon tradisi ini merupakan peninggalan agama sebelum Islam. Namun, setelah datangnya Islam isinya diganti dengan cara Islam, memakai doa-doa islami. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur karena Tuhan memberikan nikmat yang berupa air hujan.

Air merupakan kebutuhan pokok bagi penduduk kampung ini. Dengan datangnya hujan para petani di dusun Dewan dapat memulai menanam kembali setelah musim kemarau.

Menanam juga merupakan bentuk bersyukur atas nikmat Tuhan berupa diturunkannya air hujan. Bersyukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah dan mengadakan tradisi labuhan. Namun, besyukur yang sesungguhnya yaitu memanfaatkan nikmat dari Tuhan semaksimal mungkin. Dengan mensyukuri nikmat dari Tuhan, pasti Tuhan akan menambah nikmat yang lebih.

Atas izin Allah tanah yang dimiliki penduduk kampung ini semakin mengalami kesuburan. Sebagaimana fiman Allah:

 وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. al-A’raaf: 58)

Tidak hanya tanah yang subur, hasil dari menanam petani di kampung ini juga mengalami peningkatan. Sarana pertanian pun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Baik sarana dari pemerintah maupun sarana dari para petani sendiri.

Semoga Allah memberi kesejahteraan bagi penduduk kampung ini dan menambah rasa syukur atas nikmat yang melimbah.


Bayu Bintoro –  Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!