Categories: LiputanSimponi

Lembar Maiyah: Halaman 5

Share

Sebelum menulis halaman berikutnya, sudilah saya mohon doa dari semuanya yang membaca artikel ini untuk mengirimkan Al-Fatihah bagi guru kami, Muhammad Ainun Najib, yang beberapa hari yang lalu dikabarkan sedang sakit. Meskipun kemudian dikonfirmasi Bapak Toto Rahardjo beliau masih sehat dan udad-udud di teras rumah.

****

Kali ini saya mau membahas seputar radikalisme. Kembali menjadi perbincangan ramai saat terjadinya Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan. Tersangka dan atau korban yang masih berusia 24 tahun menjadi pemberitaan hangat yang akhirnya menyangkut pada sebuah ajaran agama yang disebutnya radikal atau intoleran. Menariknya adalah bagaimana perngaruh tersebut bermula dari istrinya sendiri yang dikabarkan juga akan melakukan pem-bom-an di Bali. Wallahu’alam.

Sematan radikal pun semakin menjamur di kalangan masyarakat. Intoleran – radikalisme – terorisme. Lalu apa sebenarnya radikalisme itu?

Bagi jamaah maiyah tentu tidak akan asing atau kaget dengan istilah-istilah yang sudah menjadi kebiasaan untuk dikonotasikan. Padahal dalam beberapa kali pembedahan Cak Nun, bahwa radikal itu dari kata radic yang artinya dasar – mendasar. Ada juga yang menyebutnya radix yang artinya akar. Sesuatu yang fundamental dalam kehidupan bagaimana manusia diajari untuk berpikir mandiri dan mempunyai otoritas mempelajari sesuatu.

Istilah konotatif bukan hanya dalam istilah radikal, kasus lain adalah paham liberal. Belum juga kita mengetahui atau ingin tahu tentang makna dan konsep liberalisme tapi sudah dipersepsikan nagetif oleh komunal. Kembali pada kasus radikalisme yang kebetulan banyak disematkan oleh mereka yang melakukan tindakan kekerasan atau membabi buta ketika melihat perbedaan.

Degradasi makna yang semula akar menjadi kekerasan sudah terjadi beberapa puluh tahun ke belakang. Tujuannya tentu untuk melawan sebuah kelompok agar tidak bisa lagi bersaing dengan kelompoknya saat ini. Misalpun makna radikal ditujukan kepada sikap “menang sendiri”, maka kita semua juga tidak luput dari identitas radikalisme. Memaksakan kehendak untuk kebenaran diri sendiri, sehingga sikap persuasif hingga kekerasan bisa dilakukan. Maka sebulum mengira, menyangka, menuduh, dan mendakwa orang atau kelompok lain radikal, hendaklah introspeksi diri – sudahkah kita bersikap tidak radikal?

Baca Juga: Lembar Maiyah: Halaman 3

Sejauh pemahaman saya. Radikal adalah kehausan manusia mencari segala bentuk pengetahuan. Sarananya adalah filsafat dan pengalaman. Proses pencarian kebenaran absolut ini adalah perjalanan menuju sikap radikalisme. Kalau dalam khasanah NU ada istilah tasawuf. Kemudian muncul istilah syariat – tarekat – hakekat – makrifat. Semuanya adalah hak masing-masing manusia. Sehingga tidak bisa manusia satu menilai manusia lainnya hanya dari segi perilaku, ucapan, apalagi busananya.

Jika kita menyepakati makna radikal adalah sesuatu yang berbau kekerasan, peperangan, dan penghancuran. Maka istilah radikal harusnya dimaknai tentang sebuah metodologi cara berpikir. Tidak bisa ditentukan dari bagaimana cara mereka berpakaian – sebut saja cadar atau cingkrang – meskipun beberapa literasi naskah atau kitab kuno yang mencontohkan sikap konservatif yang secara psikologis mengarahkan seseorang bersikap radikal.

Menjadi rancu kalau sikap radikal yang dimaknai dengan kekerasan malah dilawan dengan sikap radikal pula. Sehingga akhir ini muncul sikap baru yakni deradikalisasi. Itu pun masih susah diinterprestasikan dalam menanggulangi wabah terorisme di Indonesia atau dunia. Jika maindset tentang radikal hanya berkutat pada pakaian dan kelompok tertentu, usaha deradikalisasi juga hanya akan menjadi omong kosong. Karena kalau kita berkaca pada kejadian lain, tersangka terorisme bukan hanya mereka yang bercadar atau cingkrang. Bahkan non-muslim pun bisa menjadi terorisme (kasus penembakan di masjid Asutralia).

Di Maiyah, eksplorasi ilmu yang meluas dan mendalam, semakin menegaskan bahwa Maiyah adalah forum yang penuh dengan radikalitas. Pandangan-pandangan yang lahir di Maiyah adalah sesuatu yang sangat berbeda, bahkan bertentangan dengan peradaban yang sedang berlangsung hari ini. Tidak berlebihan kiranya jika Maiyah kita sebut sebagai proses menggali, mencari, menghimpun dan merumuskan kembali pengetahuan yang kita perlukan untuk mencapai kebaikan, kebenaran, dan keindahan dalam hidup.

Akhirnya bahwa dalam kita bermaiyah akan selalu diajarkan sikap kontradiksi dari pemahaman umum yang sudah melakat di masyarakat. Mencoba melawan atas kekolotan manusia yang susah menyadari kesalahannya. Bahwa ada yang lebih indah daripada hanya memperdebatkan sebuah klaim kebenaran. Yakni, kebijaksanaan untuk menerima segala bentuk perbedaan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU