Categories: opiniSimponi

Lingkungan Mungubah Konsep Diri

Share

Manusia adalah makhluk sosial yang satu sama lain saling membutuhkan. Dalam interaksi sosial dengan sesama manusia dipengaruhi dengan lingkungan dimana manusia membentuk konsep dirinya dan juga kehidupan sosialnya. Studi perilaku manusia sedikit banyak merupakan pendekatan ilmu alam yang secara keilmuan mulai diperkenalkan pada akhir abad ke 19 oleh Wilhelm Wundt.

Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik, dan mencaci lainnya.

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya.

Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai.

Baca Juga: Gaya Komunikasi

Kelenturan Konsep Diri

Berbeda jika kita bicara mengenai idealis. Sebagai sebuah tiang pemuda dalam mengambil sikap. Yang terjadi adalah ketidakaturan konsep diri terhadap lingkungan. Manusia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sosial di sekelilingnya. Pola pikir dan psikologinya akan terus bergerak maju dengan pengaruh-pengaruh lingkungan yang menyertainya. Pembentukan karakter dan konsep diri ini kadang bisa dikuasai, namun kadang pula hanyut dalam doktrin lingkungan sekitarnya.

Anggapan bahwa lingkungan baik atas dasar pilihannya juga menjadi sebuah simbol bahwa manusia tetap akan selalu terikat satu sama lain. Mereka tidak bisa melepaskan diri, menepi dan mencari jati diri. Jika seorang memutuskan bersosial dengan preman, maka cara bertutur dan berpikirnya tentu berbeda dengan mereka yang bergaul dengan para santri atau semacamnya.

Semakin liar pergaulan seseorang, maka pengambilan keputusan baik dan buruk akan semakin lebih titis. Tidak sembrono. Sehingga secara tidak langsung mampu mendidik menjadi manusia yang kuat dan peka kepada lingkungan sosial.

Berbagai opini yang dijadikan perdebatan adalah karena kurangnya wawasan dan pengalaman memahami berbagai lingkungan sosial. Ketidaksukaan, kebencian, dan prasangka buruk selalu menyelimuti oleh mereka yang enggan merasakan dan menjadi objek atau subjek yang dibenci. Pun sebaliknya. Demikian menjadi kodrat manusia yang saling membenci daripada mencintai.

Informasi dari lingkungan sosial (keluarga, pertemanan, organisasi, dll) membentuk pribadi seseorang. Beberapa berbentuk “teks hipnotis” yang secara tidak sadar bisa membalikkan prasangka. Lingkungan sosial ini tidak gampang dipilih berdasarkan kehendak manusia itu sendiri.

Misalkan saya berada dalam sebuah kampus. Tentu saya mempunyai beberapa teman dekat dan dirasa nyaman (tanpa mencoba berteman dengan yang lain). Secara psikologi dia akan mendukung temannya yang sebelumnya berbeda ideologi. Karena prinsip kenyamanan seseorang akan mempengaruhi konsep diri itu sendiri. Mungkin saya akan menjadi pribadi yang toleran, intoleran, liberal, komunis, radikal, dan lain sebagainya.

Semakin lama fase durasi peralihan dalam berprinsip menjadikan mereka pribadi yang tidak sadar terhadap diri sejatinya. Bahkan dia rela memusuhi dan menghina “rumah”-nya sendiri setelah ditinggal merantau. Manusia akan sangat fleksibel untuk berubah dari yang bejat menjadi alim, dari yang disiplin menjadi berantakan, dan lain sebagainya.

Sampel terhadap gagasan dan interpretasi sosial membawa manusia lupa tentang jutaan manusia yang tentunya mempunyai pedoman masing-masing. Misalkan saya orang NU kemudian makan daging anjing dengan sayur kol. Berkat endapan kebencian kepada NU, bisa dengan mudahnya disimpulkan bahwa orang NU menghalalkan anjing. Padahal saya tidak bisa mewakili NU yang dianggotai puluhan ribu orang. Hal seperti ini terjadi di banyak kasus yang dengan mudahnya dilemparkan wacana untuk menggiring sebuah opini.

Jika lingkungan sosial bisa mengubah konsep diri, alangkah indahnya jika masing-masing dari mereka sudi untuk menggauli dan mengenali banyak sisi sesuatu yang mereka benci. Demikian yang sudah sering saya lakukan. Bagaimana saya pernah ngaji semasa kuliah dalam lingkup salafi/ wahhabi/ kajian sunnah, lingkungan daerah saya yang sebelumnya menerapkan tradisi kemuhammadiyahan, waktu SMA mengikuti kajian rohis MTA, dan masih banyak lagi.

Apakah kemudian setelah masuk lingkungan mereka lantas saya mudah menghakimi NU liberal, sesat, kafir, “beda dari NU yang dulu”?

TIDAK! Sebaliknya. Saya malah semangat untuk mengurus NU!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU