Pendengar yang Baik

“Sungguh yang paling aku khawatirkan atas kalian semua sepeninggalku adalah orang munafik yang pintar berbicara”. (HR. Tabrani)

Sudah berapa puluh video yang kalian tonton hari ini?

Sepertinya pertanyaan tersebut bisa menjadi refleksi bahwa menonton dan mendengarkan itu sesuatu yang sangat menyenangkan. Mata tetap terjaga, telinga tetap siaga, dan otak terbata-bata. Tidak heran harga tiket bioskop dijual mahal, beda kelas kalau kita berkunjung ke perpustakaan atau toko buku yang menyediakan bacaan secara gratis – itu pun masih jauh kalah diminati. Paham sendiri, kalau aktivitas membaca itu sangat melelahkan dan menjemukan bagi kebanyakan manusia yang budiman di Indonesia. Demikian pula yang menjadikan website berbasis literasi kurang diminati dibanding para vloger mania.

Adaptasi zaman. Perkembangan yang super duper cepat. Dari pertanian, menuju industri, hingga era teknologi-informasi. Manusia harus selalu dimanjakan. Tidak boleh terlalu jenuh, terlalu lelah, dan terlalu berfikir. Manusia jaman sekarang harus setia untuk menjadi follower. Dalam istilah jawa kekinian “Nek ra kowe ora” (kalau tidak kamu, tidak). Sedangkan dalam istilah pesantren dikenal dengan basa-basi – sami’na wa atho’na. Sendiko dawuh.

Budaya menjadi pendengar yang baik ini sudah turun temurun sejak jaman kolonial. Sejarah banyak yang dibelokkan akibat tidak adanya sumber otentik (tulisan). Beberapa sejarah ditertibkan dalam budaya lisan secara turun-temurun. Alhasil, ketika era globalisasi semacam ini, sejarah dikambinghitamkan. Tidak mau menghargai perjuangan para pahlawan dan ulama terdahulu. Manusia menjadi kaku. Mempercayai informasi abu-abu dan menolak pemahaman dari pembaharu.

Tuhan menciptakan mata untuk membaca ribuan ayat di sekeliling kita. Sedangkan kita hanya menonton, menyimpan, dan melupakan. Mendengar dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri, seolah hati hanya menjadi terminal yang begitu saja dilalui. Tidak ada kebijaksanaan.

Berhujjah via video

Apakah penulis suka melihat ceramah ustaz di youtube?

Sering sekali! Tapi sebelum saya menonton video ceramah ustaz atau kiai tertentu, saya baca biografi atau tulisan beliau. Mungkin juga referensi beliau dalam melakukan kajian. Sehingga rujukan bisa dipertanggungjawabkan. Minimal bisa memilah, mana ustaz yang benar adanya dan juga ustaz yang hanya bermodal pakaian muslim di pasar klewer.

Memang fenomenanya demikian. Percuma memberikan motivasi agar menuntut ilmu pada kiai atau ustaz yang jelas bersanad sampai ke rasulullah. Sehingga jika sudah kadung cinta sama salah seorang ustaz berkat penampilan berkelasnya, maka setiap cermahnya bisa dijadikan hujjah dalam hidupnya. Barang siapa yang melawan atau menentangnya, berarti dia adalah musuh yang nyata untuk siap diperangi. Tidak ada musyawarah. Debat? Ashiap!

 احبب حبيبك هوناما، عسى ان يكون بغيضك يوماما وابغض بغيضك هونا ما، عسى ان يكون حبيبك يوماما

“Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu di suatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari nanti dia akan menjadi kecintaanmu”. (Riwayat Turmidzi)

Menyandarkan semua hal hanya pada sebuah tontonan ceramah agaknya kurang mantul (mantap betul). Belum lagi ada tangan jahil yang suka memotong video untuk kepentingan tertentu. Walhasil, yang cinta makin cinta, yang benci makin benci. Yang bodoh, ngikut saja. Sedangkan acuan yang digunakan dalam berceramah juga bersumber dari tulisan, baik itu dari buku atau kitab. Jadi menjadi sesuatu yang lucu jika manusia modal menonton mengajak debat sama manusia yang modal dan doyan membaca.

Saya pernah menulis buku yang salah satu poinnya adalah tentang teks. Ucapan/ bicara adalah kegiatan memperkosa teks. Dalam artian, kadang kesucian teks semula sudah dialih persepsikan orang yang bicara. Jadi sangat mungkin ada ulama yang menulis kitab A kemudian ditafsirkan B oleh pembaca. Lebih lucu lagi akan ditafsirkan C oleh pendengar. Ditafsirkan D oleh pendengar yang mendengar dari pendengar pertama. Kemudian seterusnya sampai A tidak dihargai lagi sebagai A.

Itulah kenapa saya sangat mengapresiasi kepada manusia yang hobi membaca daripada mendengar. Karena pendengar yang baik hanya disediakan untuk kisah wanita tukang galau daripada tukang hujjah dalam beragama. Silahkan beli buku atau kitab apapun, kemudian dibaca untuk menjadikan diri menjadi dewasa, tidak mudah dibodohi, dan peka bertoleransi. Jangan suka menjadi manusia angel bin ngeyel.

Terakhir, saya kutipan petuah yang sangat melegenda,

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ، فَإِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

(Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU)

4 tanggapan untuk “Pendengar yang Baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!