Pencak Silat Ki Ageng Pandan Alas

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya yang sangat beragam. Salah satu budaya Indonesia yaitu pencak silat. Pencak silat adalah hasil budaya Bangsa Indonesia untuk mempertahankan eksistensi dan integrasi terhadap lingkungan hidup atau alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna peningkatan iman dan takwa kepada Tuhan.

Pencak silat mempunyai berbagai aspek, di antaranya: aspek mental spiritual,  budaya, bela diri, dan olah raga. Aspek mental spiritual dari pencak silat yaitu pengembangan kepribadian seorang pesilat melalui spiritual, seperti diajarkan doa-doa ketika melakukan praktik silat. Sisi budaya dari pencak silat yaitu menggambarkan silat melalui seni tari. Aspek bela diri dari pencak silat yaitu cenderung menekankan pada penghayatan dari gerakan-gerakan silat. Adapun sisi olah raga dari pencak silat yaitu bertujuan sebagai peningkat kesegaran jasmani.

Pencak silat pada tingkat kolektif berfungsi sebagai kekuatan kohesi yang dapat merangkul individu-individu dan mengikat mereka dalam suatu hubungan sosial yang menyeluruh. Di dalam masyarakat, pencak silat juga berfungsi sebagai alat mempertahankan persatuan dan kesatuan.

Jumlah perguruan pencak silat di Indonesia sangat banyak, baik pencak silat yang asli dari Indonesia maupun pencak silat yang bukan dari Indonesia. PB IPSI (Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia) mencatat sampai dengan tahun 1993 bahwa jumlah perguruan pencak silat di Indonesia berjumlah 840. Perguruan tersebut dihimpun dalam satu organisasi induk, yaitu IPSI.

Madiun sebagai kota pendekar mempunyai banyak perguruan pencak silat. Pencak silat yang ada di Madiun antara lain: Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo (PSHW), Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), IKS PI (Ikatan Kera Sakti Putra Indonesia), Ki Ageng Pandan Alas, Merpati Putih, Pagar Nusa, Cempaka Putih, Persinas Asad, Tapak Suci, Persaudaraan Setia Hati Tuhu Tekad, dan lainnya. Adapun perguruan pencak silat terbesar di Madiun yaitu: Persaudaraan Setia Hati Terate, Persaudaraan Setia Hati Winongo, Ki Ageng Pandan Alas, IKS PI, dan Cempaka Putih. Perguruan pencak silat yang pertama kali lahir di Madiun yaitu STK (Sedulur Tunggal Kecer-Langen Mardi Hardjo) pada 1903. Periode selanjutnya banyak perguruan pencak silat yang bermunculan, salah satunya yaitu perguruan pencak silat Ki Ageng Pandan Alas.

Pencak Silat Ki Ageng Pandan Alas lahir di Madiun 10 November 1972. Perguruan ini didirikan oleh bapak Koestari Ady Andaya. Beliau merupakan seorang purnawirawan TNI AU yang bertugas di Lanud Iswahjudi Maospati. Pada awal berdirinya, perguruan ini melakukan latihan pencak silat di halaman Kodim Madiun. Perkembangan berikutnya perguruan ini berpusat di Kare, Kabupaten Madiun.

Baca Juga: Malati (Bagian 1)

Pada umumnya perguruan pencak silat di Madiun memiliki padepokan, tetapi berbeda dengan perguruan Ki Ageng Pandan Alas yang pada awal berdirinya tidak memiliki padepokan. Selain itu, yang membedakan perguruan ini dengan perguruan lain yaitu: perguruan ini tidak menamakan para anggotanya sebagai pendekar, tidak mempunyai tugu lambang perguruan karena menurut pendirinya tugu lambang perguruan merupakan bentuk kesombongan, dan dalam latihan perguruan ini hanya menggunakan tangan kosong, tidak menggunakan alat apapun. Walaupun demikian, perguruan Ki Ageng Pandan Alas mengalami perkembangan yang signifikan. Berkembang sampai ke berbagai daerah, bahkan sampai ke luar negeri seperti: Brunei, Malaysia, dan Singapura.

Ajaran-ajaran di perguruan Pandan Alas yaitu mendidik anggotanya menjadi orang yang beriman dan bertakwa, dan diajarkan untuk berpegang teguh pada hamblum minallah wa hamblum minannas (hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Allah). Ajaran-ajaran tersebut diberikan kepada para anggotanya. Tujuan ajaran dari perguruan ini untuk mempersiapkan diri ketika mendapatkan panggilan Tuhan yang terakhir, yaitu sebuah kematian yang indah (khusnul khatimah).

Keunikan dari perguruan Ki Ageng Pandan Alas yaitu perguruan ini banyak mengambil pelajaran sejarah. Setiap pengesahan calon warga perguruan dilakukan acara kungkum (berendam) di sungai, kungkum tersebut mengambil pelajaran dari Sunan Kalijaga. Nama perguruan Ki Ageng Pandan Alas terdiri dari 17 kata yang selaras dengan tanggal kemerdekaan Indonesia dan 17 merupakan jumlah rakaat salat wajib bagi orang Islam. Tanggal berdirinya perguruan Ki Ageng Pandan Alas yaitu 10 November yang selaras dengan hari pahlawan.


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!