Penafian Guru: Pemutusan Sanad ke Rasulullah

Jargon kembali ke Alquran dan hadis begitu mempesona, menakjubkan. Siapa pun akan langsung ngangguk-ngangguk tanda setuju. Namun, kita perlu kritis. Jargon tersebut bisa sangat dalam maknanya. Jika berbahasa Arab, Alquran hanya beda penulisan saja (mushaf) tanpa menyentuh arti. Lanjut ke terjemahan, mungkin akan sedikit perbedaan mendasar antara terjemahan Departemen Agama dengan milik instansi keagamaan lainnya. Lebih jauh, tafsir, barulah muncul berbagai perbedaan yang sangat beragam. Sebenarnya tafsir inilah yang seharusnya dikaji untuk mendalami makna setiap ayat. Namun, seringkali kita baru sampai ke terjemahan. Parahnya, banyak temanku yang menganggap jika terjemahan ya tafsir. Membaca Alquran terjemahan di pojokan kamar sudah seperti mengkaji Alquran, dan menelan mentah-mentah terjemahan tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahpahaman fatal dalam beragama.

Hadis? Justru lebih rumit. Di pondok pesantren, ngaji Shohih Bukhori lebih tinggi dari Tafsir Jalalain. Bukan tanpa sebab; untuk menuju kitab hadis yang utama, perlu banyak kitab dasar yang harus lebih dulu dikhatamkan. Ini karena hadis bersifat global sekaligus konkrit. Pengaplikasiannya juga kadang bisa relevan di satu waktu, bisa tidak. Sama seperti Alquran, hadis juga perlu penjelasan atau tafsir apalagi yang bersifat ketauhidan dan hukum. Kadangkala hadis shohih berstatus “haram” dilakukan, kadang dhoif menjadi “harus” dikerjakan. Rumit, dan baik Alquran dan hadis, tidak akan sampai pemahaman setinggi dan setepat itu tanpa guru.

Sekarang menjadi tren, tidak perlu guru, tidak perlu mondok, ah, ngapain juga ruwet! Cukup klik YouTube, Google, beli buku terjemahan, selesai! Zaman semakin canggih, semua di internet tersedia lengkap, buku juga semakin mudah dicari. Hasilnya? Kita tidak lupa dengan salah satu oknum (ngakunya) ustaz tapi menafsirkan ayat ووجدك ضالافهدى yang akhirnya ia mengakui dengan bangga, “Saya berguru kepada Rasulullah” dan akhirnya mengakui bahwa semua ilmunya berasal dari buku terjemahan. Hebat sekali.

Kebenaran agama diciptakan satu sekaligus banyak. Seperti gaya qiraat Alquran yang berjumlah tujuh, semuanya berbeda tetapi semuanya benar, dan ini memang disengaja. Keberagaman itu demi kemaslahatan umat. Lahirnya berbagai macam madzhab yang berhasil digali oleh ulama mujtahid mutlaq tidak lain untuk kepentingan seluruh umat muslim. Namun, semua hasil tersebut bukan hasil otodidak atau instan. Semuanya memiliki tali yang saling berhubung. Jika kita menelusuri sejarah, akan jelas bahwa semua ulama kita berguru kepada ulama sebelumnya, ulama sebelumnya terus berguru hingga ke salafussalih, lalu ke tabi’ at-tabi’in, tabi’ at-tabi’in berguru ke tabi’in, tabi’in berguru ke sahabat, sahabat langsung mendapatkan ilmu dari Rasulullah, Rasulullah langsung dari Allah melalui Jibril.

Logikanya, mereka yang tidak mengakui kiai, guru dan pesantren tetapi menggunakan buku terjemahan dan streaming, dan mengaku langsung ke Rasul, adalah oknum perusak agama yang sebenarnya. Mereka mengkaji Alquran, tetapi terjemahan, bukan tafsir. Pun tafsir, juga terjemahan. Mereka mengkaji hadis, shohihain, tetapi sekali lagi, terjemahan. Begitu bangganya buku “Terjemah Shohih Bukhori” mereka miliki. Ingat, terjemahan merupakan campur tangan pihak ketiga, dalam arti, kita membaca buku terjemahan adalah membaca versi perspektif si penerjemah, bukan penulis asli. Dengan mudahnya membawa pemahaman bahwa Allah bersemayam di Arsy, Allah bertangan, musik haram, dan sebagainya. Tidak adanya guru mengakibatkan terputusnya pemahaman dari apa yang diajarkan Rasul. Miris.

Hal ini dikritik oleh Kiai kita, Yai Said Aqil Siradj. Beliau menganalogikan orang yang seperti itu sama seperti dokter yang membuka praktek, padahal ia tidak pernah belajar atau lulusan sekolah kedokteran; hanya otodidak. Bisa dibayangkan jika kamu berobat ke sana, ya?

Satu ayat, kita dituntut memahami tafsirnya berdasarkan pemahaman dari guru kita. Agar tetap terjaga pemahaman yang benar. Tugas berat ini menjadi tanggung jawab besar bagi Kiai, karena jika si santri keliru memahami, maka sang Guru harus bertanggungjawab. Karena itulah kedudukan Guru begitu mulia. Ta’limul Muta’alim menjelaskan dengan syair yang sangat indah:

أقدم استاذي على نفس والدى  # وإن نالنى من والدى الفضل و الشرف

“Aku lebih mengutamakan guruku daripada orang tuaku, meskipun aku mendapat keutamaan dan kemuliaan dari orang tuaku”

Dalam konteks keilmuan, seperti yang dijelaskan Ta’lim di atas, Guru didahulukan daripada orang tua kandung kita sendiri. Menandakan tingginya derajat seorang Guru. Kenapa? Jawabannya ada di syair selanjutnya:

فذاك مرب الروح والروح جوهر # وهذا مرب الجسم والجسم كالصدف

“Guruku adalah pengasuh jiwaku, dan jiwa bagaikan mutiara. Sedangkan orang tuaku pengasuh badanku, dan badanku bagaikan kerangnya”

Sehat tidaknya badan, tergantung suplemen gizi orang tua (baca: uang kiriman dari orang tua bagi mahasiswa jauh, misalnya, heu). Dan baik tidaknya perilaku dan kepintaran kita, tergantung Guru. Bisa dipahami betapa beratnya tanggung jawab seorang Guru. Maka aneh sekali jika akhir-akhir ini muncul gerakan menafikan Guru.

Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah dari kesesatan pemahaman dan keilmuan.


(D. Amrullah – Seni tablig Seniman NU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!