Categories: SimponiWarganet

Pedoman Hidup Umat Islam

Share

Beberapa poin penting tentang pedoman hidup umat Islam yang disampaikan oleh Habib Luthfi bin Yahya. Dalam acara Tablig Akbar Bank Indonesia dengan tema Syiar Festival Ekonomi Syariah di Masjid Agung Jawa Tengah pada hari Rabu (2/5/18).

1. Persatuan dan Kesatuan Umat

Setiap hari kita berdoa dalam salat kita “Ihdinaa ash-shiroothol mustaqiim“, dhomir yang digunakan di sini adalah dhomir “Mutakallim wahdah ma’al Ghoir” yang berarti “Kami”. Sebuah simbol persatuan dari sekumpulan manusia, dalam hal ini “kami” berarti seluruh kaum muslim. Maka apakah pantas jika kita masih sering berbuat tidak baik kepada sesama muslim, sedangkan jika kita berdoa senantiasa membawa nama kaum muslim itu sendiri?!

Rasulullah pun mencontohkan betapa pentingnya persatuan dalam peristiwa sejarah agung umat Islam, yaitu Mi’raj. dalam peristiwa ini ketika Rasul mendapat ucapan dari Allah “Assalaamu’alaika ayyuhan Nabiyyu…“. Rasul tidak serta merta membanggakan dirinya setelah dipuji oleh Allah. Melainkan membalasnya dengan ungkapan “Assalaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillahisshoolihiin..

Rasul senantiasa menyantumkan umatnya dengan tujuan yang tak lain adalah demi terwujudnya persatuan dan kesatuan umat. Apakah tidak malu, ketika Rasul sudah berbuat sedemikian rupa namun kita malah masih sering menyalahkan golongan lain yang berbeda pendapat dari kita?! Jika poin pertama ini dipahami dengan benar, maka perpecahan antar umat seharusnya tidaklah ada.

2. Keamanan dan kenyamanan dalam berbangsa dan bernegara

Dalam kitab-kitab fikih bab thoharoh, pasti dijumpai urutan pertama air untuk bersuci adalah air laut. Kenapa?! karena air laut menyimpan banyak rahasia kehidupan. Selain kadar garam yang dapat menetralkan sinar UV yang dipancarkan oleh matahari. Ada hal lain yang istimewa dari kadar keasinan air laut tersebut.

Air laut akan tetap asin meskipun mendapat limpahan air tawar yang berasal dari sungai-sungai maupun air hujan. Hal ini menjadi simbol bagi muslim ideal dalam memegang prinsip. Tidak mudah terpengaruh oleh berita-berita hoax, dan lain-lain. Sehingga kehidupan pun akan berjalan dengan nyaman dan aman.

Baca Juga : Pengalaman Berguru Kepada Habib Luthfi bin Yahya

3. Pentingnya peran ekonomi dalam mensejahterakan umat

Aset umat islam sebenarnya sangat besar, terutama dari zakat dan infak. Bayangkan saja, jika infak salat Jumat setiap masjid perminggunya saja bisa mencapai 500 ribu -1 juta, dikali banyaknya masjid yang ada. Dalam waktu satu bulan saja sudah bisa mengumpulkan bahkan sampai milyaran. Belum jika ditambah zakat maal dan fitrah. Jika semuanya dikelola dengan baik, maka dari satu masjid saja seharusnya sudah dapat mensejahterakan umat sekitarnya. Apa kita tidak malu dengan para wali yang sudah wafat namun tetap dapat menghidupkan ekonomi orang-orang di sekitarnya. Seperti contoh Sunan Kalijaga, Kudus, Muria, dan lain sebagainya. Masak kita yang masih hidup kalah dengan mereka yang sudah meninggal?

4. Perlunya pengkaderan generasi muslim intelektual yang diharapkan mampu menjawab tantangan zaman

Jika beberapa point sebelumnya dapat terlaksana, maka umat Islam di masa yang akan datang dapat menjadi generasi emas yang dapat menjawab tantangan yang ada. Ketika sedari dini dididik untuk senantiasa mengutamakan persatuan dam kesatuan. Serta dibekali dengan semangat berbangsa dan bernegara yang baik, maka generasi yang akan datang akan menjadi generasi yang kokoh. Mampu bersaing dengan peradaban lain.

Misalnya ketika pengelolaan infak dan zakat tadi digunakan untuk menyekolahkan pemuda-pemuda muslim berbakat hingga tingkat doktor misalnya. Maka tidak diragukan lagi akan terwujud generasi muslim yang intelek dapat bersaing dengan peradaban barat sekalipun. Namun, ketika poin-poin di atas tidak terlaksana. Maka selamanya generasi muslim akan kalah dengan peradaban lain, baik dari segi keilmuan maupun lainnya.
Semua poin tadi sebenarnya sudah tertera dalam pedoman hidup umat Islam, yaitu Alquran. Jika umat Islam mau mendalami pedomannya itu, maka semuanya akan mudah tercapai. Karena bagaimanapun juga semua akan berjalan sesuai dengan jalur edarnya, sebagaimana Kalam-Nya

Kullun fii falakin yasbahuun“.
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang astronomi saja, melainkan seluruh tatanan yang ada. Baik yang terbesar meliputi seluruh jagat raya, hingga yang terkecil seperti sel-sel dalam tubuh manusia, semua berjalan sesuai dengan garis edarnya masing-masing. Sebagai contoh, makanan yang kita makan akan berjalan sendiri sesuai garis edarnya, yang berupa vitamin akan berjalan ke bagiannya, karbohidrat akan berjalan sesuai bagiannya, mereka berjalan sendiri tanpa kita bisa mengaturnya yang bahkan itu semua terjadi dalam tubuh kita sendiri.

Kullun fii falakin yasbahuun“.
Ketika yang dilakukan oleh manusia itu baik, maka yang akan timbul adalah hal baik pula, begitu juga sebaliknya. Ssetiap hari kita membasuh muka, membasuh badan yang bersifat lahiriyyah, namun sudahkah kita membasuh hati kita, percernaan kita? Hal-hal yang bersifat batiniyah ini bisa dilakukan dengan cara berpuasa. Jadi puasa bukan hanya tirakat rohani saja, karena puasa pun dapat membersihkan sampai ke dalam tubuh yang tak terjangkau oleh tangan sekalipun. “shuumuu tashihhuu..


Miftachul Khawaji