Papan Panah

Hampir sedekade ini, NU bak papan panah yang saya tidak tahu sampai kapan bertahan dihujam ribuan anak panah. Saat era itu (teknologi dan informasi) merambah kawula muda dengan ideologi menggolara di bawah kibaran panji Islam. Nostalgia kedamaian kami bersama Muhammadiyah perlahan luntur, sikap gotong royong terhadap non-muslim mulai berjarak, adat-budaya mulai terkikis perlahan, menyayat beberapa tubuh papan panah.

Para penyangga papan panah juga mulai meninggalkan, tatkala semakin membabi butanya segala intrik, fitnah, dan kekacauan pola pikir untuk menghabisi/ menghancurkannya. Pemanah membidik tepat pada pusatnya, busur ditarik ke belakang dengan kuat, anak panah melesat satu-persatu ke tubuh papan panah.

“Satu lawan seribu”, seru penonton di pinggir lapangan.

Isu pun diolah sebegitu renyahnya, sampai sesama bagian papan panah tidak ingat siapa kawan, siapa lawan. Beda pandangan politik, tubuhnya semakin digerogoti. Beda cara dakwah, memar semakin nyata terlihat. Beda masalah pandangan hukum syariat, semakin memnecar ke berbagai arah. Mereka kehilangan arah karena tidak kuat dengan tarik ulur doktrin.

Semula bergairah menghidupi, hanya menjadi buih saat ada ketidakcocokan sikap tokoh ulama. Ideologi goyah karena lingkungan yang lebih nyaman. “Untung hanya ideologi, bukan keyakinan”. Ditambah bumbu media sosial dan internet yang serba manja menyajikan hidangan anak panah untuk membantu dihujamkan ke papan panah.

Para pembimbang dan penggalau agama sudah tidak punya pondasi kebijaksanaan. Bahkan hanya sekedar membedakan konservatif-progresif, radikal-liberal, nasionalis-agamis. Anak-anak panah itu tidak membawa sebuah identitas, busur panah juga hanya mengatasnamakan Islam, pemanah adalah kunci radikalisme penjajahan idelogi papan panah.

Baca Juga : Kita Lupa Visi Agama

Sang abu-abu akhirnya berlabuh menjadi anak panah. Selain karena pemahaman dan keyakinan akan papan panah yang kurang, awam pun melihat papan panah banyak salah dan kekurangan karena ribuan informasi dari pemanah. Bahkan yang semula menjadi bagian papan panah ikut tercecer untuk balik menghabisi keluarganya (papan panah).

Basis semakin bertambah dari elemen yang tidak terlibat dalam sebuah pertandingan. Sehingga yang terhilat, papan panah bukan hanya dihujam oleh anak panah, melainkan celurit, tombak, pistol, cangkul, hingga ketapel dari anak-anak yang baru menginjak baligh.

Prinsip papan panah ya harus siap menjadi sasaran tembak. Kalau ada kesan marah dan membalas. Persepsi kontradiksi akan kembali dikembangkan di media sosial. Mencari kelemahan. Tujuannya masih tetap sama, DITUMBANGKAN!!!

Cap anti-Islam, liberal, syiah, komunis, sesat, kafir, dan sebagainya. Mana adek yang mau menjadi bagian seperti yang dituduhkan. “Mending menjadi Islam biasa saja.” ajak salah satu pemanah kepada pengguna baru media sosial itu.

Lucunya adalah ketika ada papan panah yang memaksa menjadi anak panah. Ikut-ikutan menyerang pemanah. Selain hanya menjadi bahan lelucon, papan panah itu juga akan kewalahan sendiri. Walhasil, papan panah hanya menulisi diri, “Cacilah, makilah, siksalah aku. Aku akan tetap akan mencintaimu dan mendoakan kebahagian atasmu”

Adakah yang lebih indah daripada saling mengasihi?

Kok NU yang menjadi papan panah?!
Selain sebagai organisasi terbesar di dunia, NU juga yang paling getol menghalangi tujuan utama sang pemanah. Kewalahan menghadapi papan panah, mereka menggandeng (koalisi) dengan beberapa organisasi lain. Seperti dalam slentingan Buya Syafi’i Ma’arif, Prof. Haidar Nasir, dan tokoh berpengaruh Muhammadiyah lainnya. Bahkan kecemasan masyarakat juga menjadi acuan bagaimana keterlibatan doktrin mereka sampai kepelosok-pelosok.

Paling utama adalah wadah pendidikan formal dan informal. Masuk secara perlahan dan halus melalui organisasi dan lembaga dakwah kampus, mengadakan kajian di masjid-masjid SMA, hingga pembagian gratis buku dan bacaan untuk membimbing menjadi pemanah yang handal.

Sampai pada bab atau halaman terakhir, mereka tidak lagi bisa membedakan warna-warni kehidupan. Pemikiran dan pola pikrinya dituntun menjadi hitam-putih, benar-salah, surga-neraka. Papan panah kalah eksistensi dan merebut hati para pecandu agama milenial.

Semoga gambaran tersebut bisa dipahami dan menumbuhkan gairah untuk yang paham agama semakin berani tampil di publik. Menunjukkan bahwa setiap detik papan panah selalu berganti dengan yang baru. Dengan pemikiran-pemikiran yang progresif, tanpa melalaikan pemahaman-pemahaman yang konservatif. Islam itu satu, menjadi banyak karena cara sudut pandang kita melihat diri benar dan yang lain salah!

 


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!