Pancasila Sebagai Titik Temu

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia sangatlah panjang. Peradaban di Indonesia atau Nusantara dimulai sejak zaman manusia purba. Zaman yang masih sangat sederhana. Kepercayaan keagamaan pada zaman itu masih sederhana, memuja para roh atau kepercayaan animisme dan dinamisme. Zaman ini biasa dikatakan sebagai zaman pra sejarah.

Nusantara memasuki zaman sejarah ketika masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Tulisan pertama kali di temukan di wilayah Nusantara pada sekitar abad ke-5 M. Zaman sejarah di Nusantara dibagi menjadi beberapa era, yakni, era pra kolonial, kolonial, dan era paska kolonial. Era pra kolonial muncul ditandai dengan adanya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha sebelum terjadinya kolonialisme di wilayah Nusantara, di era ini juga sudah ada orang-orang Islam namun pada awal era ini belum terbentuk kerajaan atau kesultanan. Era kolonial merupakan era masuknya kolonial Barat menjajah Nusantara. Sedangkan era pasca kolonial ketika Indonesia merdeka dari penjajahan.

Penjajahan di Nusantara dimulai ketika bangsa Barat melakukan perdagangan ke Nusantara yang diawali ke daerah Malaka dan merebut wilayah ini. Perilaku ingin menguasai daerah ini bertujuan untuk mempermudah bahan dagangan bagi mereka. Perluasan wilayah melebar sampai ke wilayah Aceh yang masa itu sudah ada Kesultanan Aceh. Kesultanan Aceh pada awalnya dapat mengusir mereka, namun akhirnya mereka dapat menguasai wilayah Aceh. Selain untuk menguasai perekonomian dan kekuasaan, mereka juga ingin menyebarkan misi keagamaannya.

Penjajahan yang dilakukan mereka semakin meluas ke daerah lain hingga ke Jawa. Banyak kerajaan Hindu dan kesultanan Islam dimusnahkan. Berbagai cara dilakukan untuk menguasai wilayah ini, dan menguasai perekonomian. Hal itu terjadi juga ke berbagai wilayah Nusantara. Banyak aturan-aturan yang dibuat untuk melemahkan pribumi, utamanya terhadap kaum Islam. Seperti aturan ordonansi guru, ordonansi sekolah liar, dan sebagainya.

Setelah berakhirnya penjajahan bangsa Barat, Nusantara mengalami pendudukan dari bangsa Jepang. Bangsa yang tidak jauh dari Nusantara atau Indonesia saat ini. Pendudukan ini berlangsung dari tahun 1942 hingga 1945. Walaupun pendudukan Jepang tidak selama penjajahan Belanda, tapi perlakuan orang-orang Jepang terhadap pribumi lebih kejam, bahkan para kyai diperlakukan secara kejam. Namun, pada masa pendudukan Jepang pribumi mendapatkan pendidikan militer yang bertujuan untuk membantu Jepang dalam perang, hal itu menjadi ketrampilan bagi pribumi untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui pelatihan militer. Di masa pendudukan Jepang dibuat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) atau Dokuritsu junbi chosa-kai.

Dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, banyak muncul pahlawan-pahlawan di berbagai daerah. Seperti Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Antasari, Pattimura, dan lain-lain.

Baca Juga: Ulama di Balik Kemerdekaan Indonesia

Pada awal abad ke-20 M mulai terbentuk organisasi-organisasi pergerakan di Nusantara untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Organisasi pertama yang berdiri adalah Boedi Oetomo pada 1908. Di susul organisasi-organisasi lain, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Sarekat Islam (SI), Masyumi, dan sebagainya. Organisasi ini turut andil dalam kemerdekaan Indonesia. Perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan sangatlah sulit. Mengorbankan banyak harta dan nyawa.

Perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan anugerah dari Tuhan bagi masyarakat Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari para pejuangnya. Pahlawan perjuangan kemerdekaan terdiri dari berbagai kalangan, baik kalangan muda-tua, nasionalis, agamis. Kalangan agamis pun terdiri dari berbagai agama.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang beragam, majemuk, plural. Melihat hal tersebut, Indonesia harus mempunyai ideologi yang sesuai dengan kemajemukan bangsa ini. Pancasila merupakan ideologi yang sesuai dengan keadaan bangsa ini. Pancasila merupakan subuah titik temu atau kalimatun sawa.

Ideologi pancasila merupakan ideologi final hasil kesepakatan dari berbagai kalangan. Dalam pancasila semua pihak tidak ada yang dirugikan, baik kaum minoritas maupun mayoritas. Semua golongan ditampung aspirasinya, terbukti ketika penghilangan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Sila-sila dalam pancasila pun tidak bertentangan dari ajaran agama. Sila pertama jelas sama dengan ajaran semua agama di Indonesia, sila kedua keadilan merupakan sila yang isinya tidak bertentangan dengan ajaran agama agar berlaku adil, dan sila-sila lainya sesuai dengan ajaran agama. Oleh karena itu, Pancasila tidak perlu diubah-ubah karena sudah menjadi kesepakatan bersama dan sudah final sebagai titik temu.


Bayu Bintoro – Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!