Pakaian Kita

Sekarang ini ya,

Semua sibuk membicarakan pakaian. Seolah menjadi bahasan yang tiada usai, khususnya di kalangan kaum hawa. Tidak heran kalau banyak usaha atau bisnis yang berkaitan dengan pakaian wanita. Jualan gamis, reseller jilbab, dropshipper mukena, dan lain-lain. Pakaian memang menjadi pasar yang menggiurkan bagi para produsen dan pelaku usaha.

Kalau kita tengok ke belakang, simbah pernah memberi petuah tentang prioritas utama manusia. Sandang-pangan-papan (Pakaian-Makanan-Tempat tinggal). Secara tidak langsung kita diajari bagaimana urutan prioritas kebutuhan setiap manusia. Kalau dalam falsafah Jawa tersebut, pakaian itu sifatnya wajib. Sedangkan makanan dan tempat tinggal mungkin bisa dihukumi sunah atau makruh.

Baca Juga : Obesitas Amal

Ya memang demikian adanya, bahwa pakaian merupakan sarana utama manusia menjaga kehormatanya – harga dirinya. Mending manusia tidak makan, atau tinggal di rumah orang lain daripada tidak berpakaian (baca : telanjang bulat). Itulah kenapa Allah menyuruh kita untuk berpakaian.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Al-A’raf : 26)

Dalam beberapa kajian tafsir, sampai nabi Adam berusaha menutup auratnya dengan daun-daun sebagai pakaian. Kemudian mereka termasuk golongan orang yang bertakwa dan bukan menjadi golongan setan yang tidak sempat atau tak acuh memperhatikan pakaiannya.

Pakaian dan Aurat

Nah sayangnya, banyak yang kurang begitu memahami atau menelisik lebih dalam mengenai makna pakaian. Sehingga pakaian oleh sebagaian orang dimaknai sebagai sebuah identitas. Ketika ada pemikiran untuk memisahkan antara budaya dan agama, malah dituduh yang tidak-tidak.

Jadi kita harus menganalisa pelan-pelan. Membedakan mana agama dan mana budaya. Aneh, kalau budaya mesti dipisahkan dari agama. Sedangkan mereka pasti selalu berkaitan. Kewajiban berpakaian dalam agama, yakni Islam, adalah menutup aurat. Sesuatu yang digunakan untuk menutup aurat itu adalah budaya. Sehingga pakaian itu tidak mempunyai identitas atau agama.

Sebelum kedatangan Islam, di jazirah Arab sudah mempunyai adat atau budaya berpakaian menggunakan gamis atau jubah. Bahkan di beberapa sekte agama Yahudi menggunkan pakain cadar atau burqa. Pun juga dengan Nasrani yang menggunakan jilbab sebagai budaya mereka. Jadi pakaian tidak bisa dilekatkan hanya pada satu agama. Karena memang itu adalah dua entitas yang berbeda.

Nah, yang menjadi perbedaan tafsir adalah batas aurat manusia itu sendiri. Sehingga mereka yang menggunakan cadar mempunyai pandangan sendiri, pun dengan yang hanya menggunakan jilbab kekinian, atau bahkan yang tidak berjilbab sekalipun. Itu pemahaman yang seharusnya menjadi pedoman agar tidak mudah menghukumi seseorang dari cara mereka berpakaian. Apapun jenis pakaiannya, selama tujuannya untuk menutup aurat, maka ia sudah menjalankan perintah agama. Tidak dipaksakan untuk berpakaian berdasarkan adat atau budaya lain yang tujuannya adalah sama – menutup aurat.

Pakaian Multifungsi

Begitu pentingnya peran pakaian dalam hidup kita, akhirnya pakaian bisa dikreasi menjadi beberapa bentuk dan fungsi. Ada pakaian tidur, pakaian kerja, pakaian bermain, pakaian kencan, pakaian ibadah, dan lain sebagainya. Dalam setiap fungsi pakaian juga mempunyai ragam bentuk yang menarik dan unik untuk dipakai seseorang.

Baca Juga : Agama Sesak

Pakaian tersebut sudah menjadi kebutuhan primer manusia. Sehingga dalam sekali peran bisa memiliki lebih dari 3 jenis pakaian. Selera berpakaian tentu berbeda satu dengan yang lain. Dan tidak mungkin seseorang menggunakan jas hujan untuk salat jamaah atau menggunakan gamis untuk berenang. Semua dipakai sesuai situasi dan kondisi masing-masing individu.

Bagi manusia yang bisa memanfaatkan fungsi pakaian ini, mereka bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Jika ingin merasa terhormat, dia bisa pergi dari rumah setiap hari menggunakan jas, meskipun dia bekerja sebagai kuli bangunan. Seseorang bisa terlihat alim dengan mengenakan gamis atau jubah, meskipun hanya hafal 3 surat dan 2 hadis. Bahkan seseorang bisa mendapatkan seorang wanita pujaan hatinya hanya dengan mengubah penampilan dan cara berpakaian. Seperti pepatah Jawa, Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono.

Jadi selain fungsi utama menutup aurat, pakaian juga bisa digunakan untuk mengelabuhi orang lain demi mendapatkan sesuatu. Sedangkan sejatinya pakaian manusia bukan hanya tentang aurat, tapi adalah takwa.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!