Categories: opiniSimponi

Obesitas Amal

Share

Sebuah tulisan untuk direnungkan.

Saya adalah orang yang senang bersosialisasi dan bergaul dengan siapapun. Dari itu, saya mengetahui bahwa setiap dari mereka memiliki kekayaan emosi dan karakter. Dan saya selalu tertarik memperhatikan hal tersebut. Mendalami seseorang dari apa yang dilihat dan dipahami.

Dengan begitu kiranya saya bisa menempatkan diri musti bagaimana jika menghadapi teman dengan karatker yang A sampai Z. Sehingga jika diajak berbincang bisa mengalir dengan berbagai topik bahasan tanpa merasa canggung. Meski ada beberapa karakter dan emosi pribadi yang kadang keluar dari yang sudah direncanakan. Menurut beberapa penelitian psikologi, hal tersebut wajar. Karena manusia mempunyai banyak anak karakter yang terus ada bersama manusia tersebut.

Anak karakter itu yang mengatur manusia tanpa kesadarannya. Sehingga hampir tingkah laku manusia yang benar-benar direncanakan hanya kurang dari 5%, selebihnya adalah naluri dan kebiasaan yang tanpa disadari sebelumnya. Karakter akan sangat erat hubungannya dengan watak. Berbeda dengan kepribadian. Kepribadian adalah karakteristik individu yang sudah menetap dalam diri manusia dan ditunjukan melalui perilaku. Sedangkan karakter adalah kualitas atau sifat yang kekal dan dapat dijadikan untuk mengidentifikasi individu. Dan watak adalah karakter yang lama dimiliki seseorang yang sampai sekarang belum berubah.

Baca Juga : Menawar Tuhan

Dalam kesehariannya, banyak manusia yang tidak menyadari bagaimana kepribadian, karakter, watak, dan sifatnya. Sehingga jika menemui karakter atau watak yang berbeda dari orang lain tidak bisa menerimanya. Egois pada karakter pribadi membuat seseorang merasa kesepian dan kurang bersosialisasi. Merasa perfect. Dan menolak kritik saran. Perjalanan panjang hidupnya hanya dihabiskan dengan kesendirian dan selalu merasa dijauhi oleh orang di sekitarnya.

Maaf jika terlalu panjang lebar membahas tentang karakter. Sebenarnya ini sangat erat hubungannya dengan tingkah laku manusia kepada manusia dan Tuhannya. Saya bukan berasal dari jurusan psikologi, namun saya tertarik mempelajari ilmu psikologi – memahami karakter manusia. Tentang daya magnet alam bawah sadar dan kondisi manusia ketika sedang menghadapi beberapa emosi.

Selanjutnya saya akan mencoba menulis sebuah kritik terhadap pola perilaku manusia di sekitar. Tulisan ini bukan lantas sebuah acuan tentang sebuah kebenaran. Karena kebanaran selalu mengalir dan itu yang harus selalu dicari, termasuk melalui sebuah tulisan ini. Semua tulisan yang pernah saya tulis hanya sudut pandang dari saya, bukan kami atau kita. Jika disetujui mari dijadikan rujukan, jika tidak berkenan saya mohon maaf.

Obesitas amal

Kenapa saya perumpamakan obesitas?

Seperti tulisan saya sebelumnya mengenai phobia Tuhan. Judul ini hanya sebuah kiasan yang menurut saya menarik untuk dituliskan. Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi dalam tubuh manusia, sehingga membuat berat badan keluar dari batas ideal. Keadaan yang selalu dikhawatirkan kaum hawa, masalah berat badan. Meski tidak semua, namun mayoritas dari mereka tidak merasa nyaman jika memiliki berat bdan yang tidak ideal.

Baca Juga : Phobia Tuhan

Lalu apa sangkut-pautnya dengan amal? Nanti saya akan memberikan dua sudut padang obesitas amal, yakni dari manusia dan Tuhan. Sehingga seseorang bisa menempatkan dirinya sebagai manusia yang memanusiakan manusia dan manusia yang menuhankan Tuhan.

Pertama dari sudut pandang manusia. Jika saya menyimpulkan persetujuan manusia mengenai obesitas, maka mereka akan mengatakan sesuatu yang buruk dan ingin dihindari. Sehingga banyak manusia yang obesitas berlomba melakukan terapi diet dengan berbagai cara yang bahkan menyakiti dirinya sendiri. Obesitas amal, saya analogikan seseorang yang merasa kelebihan amal. Ingat, obesitas adalah ketakutkan yang terjadi pada diri sendiri yang sebenarnya orang lain tidak melihat keganjilan tersebut. Atau dengan kata lain, sebenarnya orang lain biasa mengapresiasi orang yang obesitas, sedangkan yang obesitas itu sendiri merasa minder.

Sudut pandang yang pertama ini akan saya bagi menjadi dua lagi. Yang pertama adalah sudut pandang obesitas amal dari diri sendiri, sedangkan yang kedua adalah sudut pandang obesitas amal dari orang lain (yang melihat/ pemerhati). seharusnya jika seseorang merasa kelebihan amal dari batas ideal akan merasa minder. Namun yang saya perhatikan malah sebaliknya. Berlomba menunjukan obesitas amalnya kepada semua orang. Percaya diri. Jangan terlalu jauh berfikir mengenai makna amal. Mungkin saya akan sempitkan paradigma amal kepada sebuah agama, karena nanti akan ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Ini adalah sebuah sudut pandang. Orang berhak mengambil sudut pandang dari sisi mana pun. Termasuk melihat pola perilaku dari yang menyandang obesitas amal.

Sehingga jika saya menarik pada sudut pandang orang yang melihat obesitas amal akan cenderung memiliki berbagai tanggapan. Misal saya agak merasa risau jika seseorang berjalan pelan, berpakaian rapi dan wangi, melirik ke kanan-ke kiri menuju pelataran masjid. Jika kita berprasangka baik, maka kita akan mengatakan seorang yang begitu alim. Namun pasti ada juga yang berprasangka buruk, mengatakan bahwa dia tidak ikhlas beribadah karena selalu ditampakan (dipamerkan) kepada yang lain.

Kalau saya bahas lebih jauh nanti mungkin pada tingkat zuhud. Namun saya tidak akan membahas hal tersebut karena nanti akan malah jauh melebar dari topik bahasan.

Pada pola perilaku seorang yang berjalan ke masjid tadi akan ada dua kemungkinan tujuan dari orang yang melakukan hal tersebut. Maaf saya menganalogikan obesitas amal bisa banyak perumpamaan, yang pada intinya semua menyimpulkan bahwa si A memiliki ilmu agama dan akidah yang berlebihan dari manusia normal lainnya.

Kembali kepada kejadian tadi, maka kemungkinan pertama dari dirinya adalah ia ingin memberikan contoh kepada yang lain untuk bersama melakukan kebaikan (ibadah), sedangkan kemungkinan lain adalah ia hanya ingin dilihat alim oleh orang lain. Karena hampir semuanya sepakat orang alim lebih berharga dibanding orang bejat di sekelilingnya. Kemungkinan-kemungkinan ini hanya dirasakan oleh yang dirasa dan merasa obesitas amal.

Yang kedua adalah pandangan Tuhan kepada orang yang obesitas amal. Menurut pandangan saya, Tuhan akan mencintai orang yang obesitas amal. Namun obesitas yang alami (keturunan), bukan obesitas yang sengaja dibuat atau akibat kesalahan pola hidup orang itu sendiri. Amal ibadah adalah perjanjian manusia dengan Tuhan sejak awal ditiupnya ruh ke dalam kandungan. Sehingga jika manusia menempati janji tersebut di hadapan Tuhan, maka Tuhan akan merasa senang. Bukan pura-pura menepati janji di hadapan Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan maha mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui.

Demikian tulisan singkat saya. Terakhir saya ingin mengajak dan berpesan. Jangan takut untuk melakukan obesitas amal, selama mengetahui tujuan yang suci dan tidak berpura-pura. Sedangkan untuk orang yang lain, jangan pernah berprasangka negatif kepada orang yang disangka melakukan obesitas amal. Hati manusia terlalu dalam untuk dianalisis dan disimpulkan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU