Categories: opiniSimponi

NU – Muhammadiyah: Benteng Kokoh NKRI

Share

Ramai pemberitaan tentang penolakan Harlah NU di Yogyakarta oleh aliansi yang mengatasnamakan pemuda Muhammadiyah. Ditambah bumbu-bumbu pemberitaan media sosial yang mempu menggiring opini untuk terjadinya prasangka dan konflik horizontal di antara kedua organisasi terbesar di Indonesia ini. Media-media sosial NU juga banyak yang mulai geram. Harlah yang sedianya dilaksanakan di Masjid Kauman Yogyakarta, akhirnya dipundah ke kampus UNU Yogyakarta. Merefleksi kembali persahabatan organisasi sayap Islam di Indonesia ini (NU – Muhammadiyah), maka tak elok jika gampang tersulut emosi tanpa melakukan kroscek kejadian atau fakta yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya, indikasi bahwa ada oknum yang sengaja ingin membenturkan kedua organisasi ini dengan mengaku sebagai ketua pemuda Muhammadiyah Kauman.

Berikut kami paparkan kembali kisah romantis Muhammadiyah dan NU menjadi benteng kokoh NKRI sampai sekarang:

Pendiri NU KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan merupakan dua orang sahabat yang belajar agama pada satu guru, yaitu KH. Soleh Darat di Semarang. Bahkan keduanya tinggal di kamar yang sama saat santri. Kedua karib ini selanjutnya pergi ke Mekah untuk melanjutkan pendidikan agama pada ulama yang sama pula, yaitu Syekh Mahfud Tremas. Persahabatan tersebut kini sudah selayaknya ditingkatkan pada aksi-aksi lebih nyata bagi umat Islam di Indonesia.

Para pendiri NU dan Muhammadiyah bukan hanya berdakwah dalam bidang agama, tetapi juga menjadi bagian pendiri Indonesia. Pengakuan tersebut terbukti dari gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada para tokoh kedua organisasi tersebut atas jasa-jasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hingga kini pun, komitmen kedua organisasi ini tetap terjaga saat menghadapi ancaman gerakan-gerakan yang ingin mengubah NKRI. Kesepakatan bersama yang dihasilkan juga meneguhkan apa yang selama ini sudah dijalankan bersama.

Baca Juga: Pancasila sebagai Titik Temu

Hubungan pribadi atau aspek budaya turut mempengaruhi hubungan kedua organisasi ini. Pada era kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi dan Din Syamsuddin, hubungan keduanya yang intens turut berpengaruh terhadap organisasi yang dipimpinnya. Keduanya pernah nyantri di Pesantren Gontor. Din Syamsuddin yang pada masa mudanya pernah aktif menjadi pengurus IPNU di tempat asalnya, membuat dia seringkali diundang dalam acara-acara NU. Hal tersebut membuat kedekatan emosional yang memudahkan komunikasi dalam banyak hal.

Kini, kesadaran bahwa banyak sekali persoalan umat Islam yang harus diselesaikan bersama semakin meningkat. Umat Islam masih menghadapi masalah kualitas sumber daya manusia, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi. NU telah mendirikan dan mengembangkan banyak pesantren sementara Muhammadiyah membangun sekolah-sekolah. Layanan kesehatan Muhammadiyah tersebar luas di seluruh Indonesia, hal yang kini juga sedang dikembangkan oleh NU.

Kerja sama ini akan meningkatkan kapasitas membangun umat Islam di Indonesia terhadap persoalan yang ada. Kedekatan yang muncul karena keterlibatan dalam kerja bersama akan memunculkan hubungan pribadi yang lebih dalam. Hal tersebut akan meningkatkan kesalingpahaman dalam memandang sebuah persoalan atau melakukan tabayyun saat ada suatu hal yang perlu diperjelas.

Langkah awal dalam kerja sama antara Banser NU dan Kokam Muhammadiyah yang sudah disepakati dalam pertemuan antara pimpinan organisasi ini dapat diperluas pada bidang-bidang lainnya. Hubungan kedua organisasi ini sudah selayaknya melalui proses yang terencana bukan hanya menciptakan hubungan dalam menyelenggarakan program, tetapi mampu menciptakan kedekatan pribadi. Kita tidak dapat lagi mengandalkan proses sebagaimana terjadi pada masa sebelumnya ketika para tokohnya secara kebetulan belajar bersama.

Ada hal-hal tertentu di masa kedua organisasi ini saling menghargai perbedaan yang ada, seperti terkait dengan pandangan keagamaan, di samping usaha untuk secara terus-menerus mencari titik temu. Ada bidang-bidang dimana bahkan keduanya dapat bekerja sama sekaligus bersaing memberikan yang terbaik kepada umat seperti dalam bidang usaha yang dimiliki kedua organisasi ini. Ada situasi di mana keduanya harus bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Sinergi dari kedua organisasi ini akan melahirkan kekuatan dahsyat dalam menjadikan Indonesia sebagai tempat bagi umat Islam yang memiliki peradaban tinggi, yang akan memberi kontribusi besar bagi umat Islam di dunia.

Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sedangkan NU dan Muhammadiyah menjadi dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kiprah mereka diakui bisa menjaga Indonesia dari konflik sektarian. Indonesia saat ini bisa terlepas dari konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah. Padahal, konflik tersebut bernuansa agama dan terjadi puluhan tahun. Mengoyak banyak negara seperti Irak, Iran, Suriah, Afghanistan, Yaman, hingga Mesir.

Pada saat ini, banyak terjadi xenophobia, diskriminasi dan kekerasan di seluruh dunia, peran kedua organisasi dalam mempromosikan dialog antar agama, pendidikan untuk toleransi dan perdamaian melalui jaringan mereka yang luas, baik sosial maupun akademik. Pertempuran melawan kelompok garis keras keagamaan baik itu Kristen, Hindu, Budha, atau Islam tidak bisa dimenangkan dengan cara militer. Ini adalah pertempuran ide dan informasi.

Buya Syafii Maarif yang juga pernah menjadi ketua umum PP Muhammadiyah mengaku bahwa NU dan Muhammadiyah memiliki peran besar dalam menyatukan Indonesia. “Hubungan keduanya semakin membaik, semakin produktif. Visinya sama. Keduanya pembela demokrasi, pembela kemanusiaan. Mempertahankan kekuatan sipil di Indonesia itu yang paling pokok, yang di negara lain tidak ada. Kalau tidak ada NU dan Muhammadiyah mungkin saat ini kita sudah seperti Suriah. Karena itu, luar biasa sumbangsihnya,”

Harapannya NU dan Muhammadiyah tetap menjadi “duo sejoli” di Indonesia. Menjaga perayaan Harlah Muhammadiyah di basis Nahdlatul Ulama, pun sebaliknya. Jangan ada perpecahan di antara kita, karena adanya perselisihan disebabkan ketidakcakapan kita menerima informasi dan ketidaksediaan untuk memahami satu sama yang lainnya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU