Categories: opiniSimponi

NU Garis Bijak

Share

Untuk NU yang saya cintai karena kebijaksanaannya,
NU itu diam-diam menghanyutkan. Menjadi air saat kobaran api membakar sekitarnya, menenangkan, meneduhkan. NU itu santai kayak di pantai, selow kayak di pulau. Dihina, memafkan. Dicaci, mendoakan. Difitnah, balas senyum. Disenggol, ngajak silaturahmi. Dipukul, siap perang! NU garis bijak, garis lucu, garis lurus, dan garis lainnya yang penuh toleransi.

Mengidentifikasi orang NU itu ya gampang, tidak spaning! Suka goyon, lucu, imut, dan menggemaskan. Tidak mudah marah, tidak emosian, dan tidak suka teriak-teriak di jalan raya! Jadi kalau ada manusia yang suka ribet dan meribetkan diri dalam sebuah permasalahan (apalagi bersifat keduniaan), mungkin dia baru menjadi bibit NU. Belum berbuah.

Itulah kenapa saya selalu berperasaan lebih nyaman dan santai bila disukusi dengan orang NU daripada selainnya. Selain aura nahdliyin yang benderang, wajah mereka tidak kaku seperti mereka yang berseberangan. Alasannya mungkin simple, orang NU itu kalau beribadah bebas selama tidak ada larangan dari Nabi Muhammad, sebaliknya kubu sebelah berprinsip, “Pada dasarnya, hukum asal ibadah itu haram, sampai ada dalilnya”.

Sebagai santri amatir, kadang saya juga heran. Kok, ulama-ulama NU itu dituduh dan difitnah neko-neko tetap nyantai aja?! Usut punya usut, para kiai dan ulama NU itu fokus pada ibadahnya sendiri. Mengkoreksi perbuatannya sendiri hingga akhirnya menyalahkan diri sendiri dengan memperbanyak istighfar. Tidak sempat menyalahkan dan mengkoreksi amalan orang atau kelompok lain. Kalau Habib Quraish Shihab bilang, “Surga itu teramat luas untuk kita tempati”.

Baca Juga : Estetika sebagai Identitas Keindahan Umat Islam

NU Garis Bijak

Semakin tua seseorang, (biasanya) semakin bijak dalam berperilaku. NU garis bijak ini hanya sebuah judul artikel, bukan sebuah organisasi atau komunitas yang ada Rais Am dan Imam Besar atau ketua umumnya. Juga bukan akun media sosial yang senantiasa istikamah menyajikan hiburan-hiburan lucu seputar ke-NU-an.

Karena penulis juga kurang sempurna berperilaku bijak, jadi harapannya semua bisa membijakkan diri masing-masing dalam menyikapi setiap permasalahan. Anggapan dangkal saya adalah, selain lucu, NU itu juga bijak sesuai asas dan prinsip berke-NU-an. Jadi kalau ada orang NU yang suka menebar kebencian dan suka berprasangka buruk, wabilkhusus kepada para alim ulama. Saya menganggap NU-nya belum tulen.

Bahkan dalam tataran tertentu, misal ada sekelompok provokator memancing keributan di depan mata nahdliyin, maka dia tidak akan tersulut emosi tapi malah melemparkan senyum dan mendoakan kebaikan atasnya. Akhlak kanjeng nabi yang biasa diajarkan ulama-ulama sepuh Nahdlatul Ulama.

Sudah NU kah kita?

Ketika saya begitu bahagia dan bangga melihat Syech Abdul Somad silaturahmi ke Habib Luthfi bin Yahya dan Mbah Yai Maimoen Zubair. Ada saja yang berprasangka buruk, mewaspadainya sebelum ada pernyataan “Anti-Khilafah”. Lha padahal khilafah itu menurut Cak Nun (dan saya menyetujui) adalah gagasan mendasar Allah kepada manusia. Masak iya menolak perintah Allah. Yang jadi perdebatan kan tentang bagaimana konsep khilafah itu dilakukan. Kita menolong sesama, menebar kasih sayang, dan saling membantu juga termasuk konsep khilafah.

Bagi saya, NU juga punya konsep khilafah tersendiri. Pun begitu halnya HTI. Jadi jangan lah kita teriak-teriak anti-khilafah tapi tidak paham makna khilafah. Bahkan kalau ngaji lebih nge-NU lagi, seharusnya semua orang yang bersyahadat itu sudah dijamin masuk surga. Entah HTI, wahabbi, salafi, dan lain sebagainya. Mereka semua adalah keluarga kita di surga. Biarkan kita dituduh menghuni neraka, tapi kita harus tetap setia menuduh mereka masuk surga. Bukankah NU menolak ajaran trilogi tauhid?

Sayangnya ajaran kebijaksanaan tidak ditemukan di pengajaran-pengajaran formal. Nahdlatul Ulama yang saya kenal itu begitu terbuka menerima setiap perbedaan, bukan memaksakan persamaan. Seyogyanya, bagi saya sebagai nahdliyin kontemporer, NU itu tidak lagi menuduh kelompok Islam radikal, Islam intoleran, Islam anarkis, dan lain sebagainya. Sepakati dalam jiwa kita, bahwa semua Islam itu rahmatan lil’alamin. Entah persepsi individu atau kelompok yang menafsiri rahmatan lil’alamin sesuai madzab masing-masing. NU harus menjadi garda terdepan untuk siap dihina, dicaci, difitnah, tanpa membalas dengan cacian, hinaan, dan fitnahan. Menghilangkan segala bentuk prasangka buruk dan menganggap kita adalah yang paling buruk. “Rendahkanlah dirimu serendah-rendahnya sampai orang lain tidak bisa merendahkanmu”, ujur Romo Yai Mustofa Bisri.

Baca Juga : Biasakan Berislam

Tutorial Menjadi Bijak

Memberikan tutorial bukan berarti saya sudah jadi pembijak yang bijak. Pesan ini adalah rangkuman dari informasi yang kebetulan saya tangkap dan analisa. Jangan dikira juga tutorial ini adalah langkah-langkah menjadi bijak seperti tutorial hijab di salah satu TV swasta. Bijak itu susah diaplikasikan, bahkan kebijaksanaan yang bijaksana, terkadang dianggap tidak bijaksana.

Saya coba bermain analogi. Semoga bisa diambil pesan. Menjadi bijaksana diibaratkan adalah sebagai penonton sepak bola yang tidak memihak salah satu tim yang bertanding. Sehingga kita harus menghilangkan nafsu bermain sebagai pemain, pelatih, wasit, bahkan pendukung fanatik salah satu klub bola. Dari sudut pandang penonton penikmat sepak bola memudahkan kita menganalisa bentuk permainan, konsep pertandingan, dan indahnya seni bermain bola. Tanpa kita terlibat saling jegal, teriak-teriak di lapangan, lempar-lemparan botol, dan saling cemooh.

Penempatan diri di luar keadaan atau permasalahan itu susah. Karena prinsip manusia selalu ingin terlihat lebih daripada yang lain. Kita sering tergiur dengan euforia kemenangan daripada euforia kebaikan. Sedangkan di dunia ini yang dibutuhkan adalah kebaikan, bukan kebenaran. Adanya penyanyi terbaik, pemain terbaik, siswa terbaik, dan lain sebagainya. Tidak pernah ada penyanyi terbenar, pemain terbenar, ataupun siswa terbenar. Sayangnya yang kita ributkan adalah kebenaran, bukan kebaikan.

Output dari kebijaksanaan adalah kebaikan. Bagaimana kita bisa merasa berlaku baik dan dianggap orang lain baik. Kebaikan seseorang terlihat dari caranya berbicara, berprasangka, dan berperilaku. Itulah kenapa para ulama NU lebih mementingkan perilaku yang mencerminkan kebaikan, sehingga “jabatan kiai” pantas disandangnya. Ulama NU tidak mau mengaku dirinya syech atau kiai atau ustaz, tapi santri dan masyarakat yang menyepakati bahwa ia layak disebut sebagai syech atau kiai atau ustaz.

Dalam kasus yang sering kita alami adalah bagaimana kita bisa menempatkan posisi saat bersosialisasi dengan orang lain. Tidak sok pintar jika berdiskusi dengan orang yang kita anggap bodoh, tidak sok alim dengan orang yang kita anggap hobi bermaksiat, dan tidak sok dermawan di hadapan orang yang miskin. Kadang niat memberi ilmu tapi diasumsikan dengan perilaku pamer dan sebagainya. Intinya menjadi bijak itu harus bisa memahami diri sendiri dan orang lain. Dan itu sangat amat susah.

Semoga kebijaksanaan selalu menanungi kita dari prasangka-prasangka ingin menang dan menguasai.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU