Categories: LiputanSimponi

Nahdliyin “Tertampar” Cak Nun

Share

Karanganyar – Muhammad Ainun Najib alias Cak Nun kembali datang dan bermesraan bersama masyarakat Karanganyar, minggu 3 Februari 2019. Bersama Gamelan Kiai Kanjeng, acara bertajuk Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama – Memperkokoh Ukhuwah Wathoniyah yang diselenggarakan PC NU Kabupaten Karanganyar. Dibuka dengan selawat dari Gamelan Kiai Kanjeng, gerimis menyambut para jamaah yang datang dari beberapa penjuru daerah di Alun-Alun Kabupaten Karanganyar. Penuh sesak dengan jamaah yang duduk bersila mendengarkan dengan hikmat acara malam itu.

Sebelum acara puncak Sinau Bareng Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng, PC NU Kabupaten Karanganyar mengadakan rangkaian acara di pagi hari dengan Istighosah Akbar dan Pelantikan PC Pergunu. Bersama banom seperti IPNU, IPPNU, Pagar Nusa, Ansor – Banser, dan lain sebagainya. Dipimpin oleh ketua Tanfidiyah PC NU Karanganyar, KH. Khusaini Hasan, acara menyambut satu abad Nahdlatul Ulama berjalan lancar hingga akhir jam 12 malam lebih sekian. Selain Cak Nun, di panggung juga dihadiri oleh bupati Kabupaten Karanganyar, Bp. H. Juliatmono, kemudian kapolres, danramil, dan beberapa steakholder lainnya.

Mbah Nun dan NU
Uniknya malam itu, Cak Nun mencoba inovasi baru dalam konsep Sinau Bareng. Karena mengusung tema Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama – Memperkokoh Ukhuwah Wathoniyah, ulama penggagas maiyah ini merangsang jamaah, khususnya nahdliyin untuk kembali belajar tentang ke-NU-an. Pembahasan pertama pun dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu lekat dengan NU. Dengan “iming-iming” imbalan uang untuk memancing jamaah ikut berkontribusi dalam pelajaran dasar ke-NU-an. Menariknya adalah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh mbah Nun gagal dijawab oleh jamaah.

Baca Juga : Siapa sih Budayawan Itu?

Seolah kami (nahdliyin) diajari mulai dari dasar materi yang seharusnya mendarah daging. Sedangkan mbah Nun yang sedari kemunculannya tidak pernah mengaku sebagai NU atau Muhammadiyah (motor MuhammadiNu), menjadi guru yang sabar dan bijak untuk kembali meningkatkan kecintaan jamaah kepada Nahdlatul Ulama.

Beberpa pertanyaan yang cukup menggelitik di antaranya :
“Di mana KH. Hasyim Asy’ari dilahirkan?”
“Siapa penggagas atau yang memberi restu kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Nahdltaul Ulama?”
“Siapa yang mengantarkan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada mbah Hasyim Asy’ari?”
“Kapan resolusi jihad digaungkan?”
“Apa motif seruan untuk resolusi jihad?”

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang seharusnya lekat dangan para nahdliyin. Namun banyak yang gagal menjawab dengan benar, seperti ternyata Hadratussyech Hasyim Asy’ari lahir di Demak 10 April 1875 atau 24 Dzulqaidah 1287 H. Kemudian Syaikhona Kholil Bangkalan menyuruh KH. As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat dan tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari sebagai bentuk restu pendirian Nahdlatul Ulama. Bentuk fundamental NU dalam kemerdekaan adalah diperingatinnya hari santri nasional yang merupakan peringatan resolusi jihad tahun 22 Oktober 1945 di Surabaya.

Selain itu, mbah Nun juga menjelaskan tentang sejarah Muhammadiyah sebagai “saudara” Nahdlatul Ulama. Mengenalkan pengaruh Kiai Ahmad Dahlan dan kisah perjuangan dakwah di keraton Yogyakarta. Ulama yang hampir menginjak usia 66 tahun ini juga mengajak jamaah, khususnya nahdliyin untuk membentengi diri dari sikap provokatif dari pihak luar. NU harus menjadi pondasi penebar benih toleransi. Menciptakan kedamaian dari intervensi yang bertujuan memecah umat beragama dan bernegara. Wujudnya bisa dengan menghilangkan sifat benci atau kebencian terhadap kelompok lain.

Pesan KH. Ahmad Muzammil
Terakhir adalah pesan KH. Ahmad Muzammil yang merupakan pengasur Pondok Pesantren Rohmatul Umam Kretek, Bantul, Yogyakarta. Beliau juga pernah menduduki jabatan di bahtsul masail NU di Provinsi Yogyakarta. Selain itu, beliau adalah salah satu santri KH. As’ad Syamsul Arifin yang merupakan santri dari Hadratussyech Hasyim Asy’ari. Pria yang berasal dari Bangkalan, Madura ini begitu dekat dengan Nahdlatul Ulama, sehingga beliau memberikan pesan-pesan kepada para jamaah tentang empat prinsip dasar Nahdlatul Ulama.

Pertama adalah Tawassuth yang artinya tengah-tengah atau tidak ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Kedua adalah Tawazun, sebagai penyeimbang. Ketiga Tasamuh atau toleran yang kemudian ditafsirkan sebagai sikap empati. Terakhir adalah amar ma’ruh nahi mungkar atau sikap al-i’tidal atau adil dan bersikap lurus.

Baca Juga : Barakalluh fi Umrik Nahdlatul Ulama

Tak lupa KH. Ahmad Muzammil juga menjelaskan tentang pengarus Cak Nun dalam belantika perjalanan Nahdlatul Ulama. Di mulai dari santri seperjuangan KH. Hasyim As’ari dan KH. Ahmad Dahlan, yakni Kiai Imam Zahid yang merupakan kakek dari Muhammad Ainun Najib. Pesan pemberian simbol cincin oleh Syaikhona Kholil Bangkalan yang bertujuan untuk “mengawinkan” Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah agar tidak mudah diadu domba untuk senantiasa menjaga NKRI. Selain itu juga paman beliau menjadi penengah saat terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama NU tahun 80-an. Cak Nun, ulama berhati besar yang selalu ingin menjadi jembatan meski diterpa jutaan fitnah dan cacian.

Terakhir, penulis mengucapkan selamat hari lahir Nahdlatul Ulama ke-93.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments

  • Meski cak nun enggan disebut sebagai ulama', kyai atau apapun. Tapi pesan dan cara beliau berinteraksi kepada yang tau maupun muda, menunjukkan kalo beliau itu ulama.

  • Sebagai muslim sejak lahir yg dibesarkan dlm lingkungan yg sangat Islami, dimana bamyak sekali para alim di lingkugan tsb. Saya baru akhur2 inilah mendengar ada istilah bendera tauhid. Janggalnya lagi bendera tauhid sbg istilah yg baru tiba2 bergema dan seolah disejajarkan dg rukun iman. Sehingga bbrp kalangan dr kelompok orang baru sadar ttg Islam dijadikan seolab menjadi rukun Iman ke tujuh. Di sisi lain fakta menunjukkan di bbrp megara Timur Tengah dengan membawa bemdera tauhid (dg khot yg sama atau berbeda) yg bertuliskan kalimat tauhid ini mereka tg mengaku atas nama Islam melakukan pembunuhan terhadap kaum muslimin yg tdk hanya menyebabkan sepuluh, seratus seribu bahkan ratusan ribu jiwa muslinin melayamg. Semiga Allah swt senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan menyelamatkan semua kaum muslimin dari fitnah yg luar biasa ini.
    Walllahu a'lam.

  • Sebagai muslim sejak lahir yg dibesarkan dlm lingkungan yg sangat Islami, dimana bamyak sekali para alim di lingkugan tsb. Saya baru akhur2 inilah mendengar ada istilah bendera tauhid. Janggalnya lagi bendera tauhid sbg istilah yg baru tiba2 bergema dan seolah disejajarkan dg rukun iman. Sehingga bbrp kalangan dr kelompok orang baru sadar ttg Islam dijadikan seolab menjadi rukun Iman ke tujuh. Di sisi lain fakta menunjukkan di bbrp megara Timur Tengah dengan membawa bemdera tauhid (dg khot yg sama atau berbeda) yg bertuliskan kalimat tauhid ini mereka tg mengaku atas nama Islam melakukan pembunuhan terhadap kaum muslimin yg tdk hanya menyebabkan sepuluh, seratus seribu bahkan ratusan ribu jiwa muslinin melayamg. Semiga Allah swt senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan menyelamatkan semua kaum muslimin dari fitnah yg luar biasa ini.
    Walllahu a'lam.