Categories: opiniSimponi

Ngaji Jawatimuran; Benteng Keimanan Kaum Pedesaan

Share

Jawa Timur sebagai tanah kelahiran NU dan terdapat ribuan pesantren yang berdiri kokoh, menjadi basis NU terbesar se-alam semesta. Dari kaum petani hingga pejabat tinggi, NU selalu eksis. Jikalau terdapat aliran macam-macam di Jatim, mereka masihlah pendatang baru. Faktanya, aliran aneh-aneh tersebut hanya bisa hidup di kota besar. Kaum pedesaan bisa jadi kalah dalam intelektual dan ndeso, tapi jangan salah, justru di pedesaan inilah benteng terkuat berdiri. NU terlanjur mengakar kuat di sini.

Semacam menjadi adat bagi masyarakat desa di Jatim, terutama di Regional Kebudayaan Arek (Surabaya, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Mojokerto, Malang) dan Regional Kebudayaan Mataraman (Madiun, Magetan, Ngawi, Kediri, Blitar dan rumahku, Tuban. Lihat Koentjaraningrat thn. 1994) untuk leyeh-leyeh (istirahat) setelah pulang dari sawah, ngetem (menyimak) radio sambil menikmati senja. Di Pantura khususnya, masyarakat biasanya populer dengan dua pengajian. Pertama adalah Mbah Ghofur (KH. Abd. Ghofur), pengasuh PP. Sunan Drajat Lamongan di Persada FM, 97.2 FM, dengan kajian kitab Ihya’ Ulumuddin. Kedua adalah Mbah Jamal (KH. Moh. Jamaluddin Ahmad), pengasuh PP. Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang di Pradya Suara FM, 94.6 FM, dengan kajian kitab Hikam. Tentu masih banyak pengajian di radio seperti KH. Anwar Zahid Bojonegoro, KH. Marzuki Mustamar Malang, KH. Syairozi Lamongan, banyak sekali. Hanya saja kedua pengajian di atas diputar rutin, dan masyarakat seolah paham jika waktunya ngaji, mereka akan langsung memutar radio.

Bukan main. Kajian kitab tasawuf tingkat tinggi tersebut begitu populer. Penyampaian yang ala-pesantren (utawi iki iku) dengan penjelasan yang sederhana, mudah dimengerti kaum awam menjadikan beliau berdua menjadi kiai panutan. Mbah Ghofur menyampaikan Ihya’ dengan gaya beliau yang khas; kalem, mengalun, menyejukkan hati. Begitu banyak orang berkomentar jika hanya dengan mendengarkan radio ngajinya Mbah Ghofur, hati menjadi tenteram dan hidup menjadi lebih semangat. Mbah Ghofur tidak jarang membagi ijazah tertentu seperti untuk hati tenang, untuk rezeki lancar, hingga mengusir jin. Kalimat beliau yang selalu terngiang dalam pikiran di antaranya adalah, “Bahwa kita harus berdakwah berdasarkan cara Walisongo; oleh iwak’e gak buthek banyune (dapat ikannya tanpa memperkeruh airnya)”.

Baca Juga: Jalmo tan Keno Kiniro #1

Konsep Tasawuf

Mbah Jamal dengan Hikam juga menyampaikan dengan lembut dan penuh makna. Konsep tasawuf dalam kitab Hikam mampu disampaikan dengan sangat sederhana. “Kenapa kita itu kok doa tidak terkabul? Karena kita berdoa untuk penekanan, pengingat. Seolah Allah itu lupa, seolah Allah itu perlu diperingatkan. Hal itulah yang menjadikan doa kita tidak terkabul. Allah kok didekte. Kita berdoa itu dengan pengabdian, penghambaan. Syariat dulu, baru ijabah”, demikian sedikit kutipan ngaji beliau sore ini.

Asupan tasawuf dari beliau berdua seolah menyelesaikan dahaga kalangan awam. Kaum pedesaan secara syariat tidak terlalu butuh penjelasan yang dalam. Cukup syarat rukun salat, zakat, dan sebagainya. Namun faktanya, secara tasawuf, mereka cukup memahami secara jernih.

Selain itu, kiai di Jatim sangat memahami bahwa orang kaum pedesaan itu akan kabur jika ngajinya membosankan, penjelasan yang rumit dan tidak ada guyonan. Dengan bahasa Jawa, kiai cerdas menyampaikan dengan baik. Baik Mbah Ghofur dan Mbah Jamal di radio maupun kiai-kiai lain di pengajian umum, semuanya menyampaikan dengan bahasa yang sederhana, guyon, dan menarik. Orang desa tidak butuh contoh jauh-jauh, mereka cukup diberikan contoh di kehidupan sehari-hari.

Pak, nek njenengan sangking sawah, ampun supe sholate! Njenengan kedah ngertos nek rejeki niku Allah seng ngatur. Nek njenengan sholat 5 waktune sregep, insyaallah rejeki lancar. Syukur-syukur saget tahajud, poso sunnah. Nek mboten saget nggeh mboten nopo-nopo seng penting ampun supe sholat limang waktune, nggeh…?”,

demikian salah satu pesan yang disampaikan Abah ketika pengajian. Sangat simple, padat, jelas.

Dengan adanya penjelasan sederhana dari para kiai, orang desa terbentengi dari paham-paham aneh yang kini mencoba masuk di semua lini. Untungnya, masyarakat desa juga masih memegang teguh prinsip “almamater” seperti mereka hanya menganggap kiai jika beliau adalah lulusan pondok yang sudah terkenal NU. Orang desa tidak peduli dengan alumni Mesir apalagi kampus-kampus, mereka tetap mengikuti para kiai yang jelas keilmuannya. Selain itu, masyarakat desa juga cenderung kurang menyukai pengajian berbahasa Indonesia dan penjelasan yang terlalu ilmiah sehingga hal inilah kenapa hingga saat ini, masyarakat pedesaan tidak kenal dengan ustaz-ustaz baru. Mereka tidak segan mengusir ustaz atau orang baru yang mencoba menyalahkan tahlilan dan ziarah kubur. Bagaimanapun, orang desa selamanya mengikuti apa yang diarahkan pada ulama. Ulama yang benar-benar ulama.

Semoga kita selalu menjadi pihak yang selalu ada di barisan para kiai…


D. Amrullah – Seni tablig Seniman NU