Ngaji Filsafat Cinta

Hari Santri 2018 tinggal sebentar lagi, ada yang kurang rasanya jika Seniman NU khususnya regional Jogja tidak ikut memeriahkannya, Alhamdulillah agenda pertemuan pada malam hari santri selesai terlaksana, diskusi dan dialog dengan dua pembicara, ustaz Anton dan Maestro Legenda yang namanya tidak atau mungkin hanya belum mendunia, sang Budak Cinta dari Klaten yakni Kang Joko.

Acara tersebut dilaksanakan pada 22 Oktober 2018 lalu dan bertempat di Bjong Kopi di daerah Sleman. Acara ini sekaligus dijadikan momen untuk membantu saudara sebangsa setanah air di Palu dan Donggala yang belum lama ini sedang mendapat cobaan dari Allah berupa bencana alam. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahan muslimin wal muslimat, mukminin wal mukminat khususon para korban dan menerima semua amal kebaikannya,

Kembali ke acara bertajuk Filsafat Cinta, acara dimulai setelah isya sekitar pukul 19.00, akan tetapi aku baru tiba di lokasi pada 19.30 WIB karena masih ada beberapa urusan di kampus. Alhamdulillah belum dimulai, ujarku. Aku langsung melaksanakan sholat Isya dan segera bergabung dengan yang lain. Acara diawali dengan beberapa lagu dari tim akustik untuk menarik perhatian para pengunjung sembari menunggu pemateri yang masih sedang dalam perjalanan. Ustaz Anton datang lantas disambut oleh sang Budak Cinta dan sedulur-sedulur Seniman NU yang lain dengan penuh kehangatan. Acara diskusi pun dimulai dengan di moderatori oleh saudara Kukuh.

Tema yang pertama di bahas adalah pengertian dari Cinta itu sendiri. Pada babak pertama ini, kang Joko selaku pembicara pertama memberikan pemaparan tentang pengertian cinta menurut beliau berdasarkan pengalaman (baca: baca buku, karena beliau belum memiliki pengalaman pribadi hehe). Ya kita doakan saja semua yang terbaik nggih kang hehe. Back to the topic, secara kimia, Cinta adalah dihasilkannya suatu zat kimia di otak yang membuat suatu perasaan bahagia, secara filosofi Cinta itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dijelaskan, namun dapat dirasakan dengan sangat jelas, mirip sekali dengan kentut. Dan Cinta itu dapat “dititeni” atau di tandai dari pandangan/tatapan mata, kata kang Joko.

Ketika para pemuda mengatakan bahwa cinta itu butuh pengorbanan, itu menurutku kurang tepat, karena ya jika kamu sudah merasa berkorban berarti kamu tidak cinta. Misal, saya di Klaten terus kekasih saya dateng dari Jogja tanpa ngomong ke saya agar jadi sebuah kejutan, ternyata di jalan hujan lebat dan tapa membawa jas hujan. Ketika sampai di Klaten, saya sedang pergi bersama teman saya, karena saya tidak tau bahwa dia datang. Lantas saya di telepon, kenapa kamu pergi? Aku sudah berkorban hujan-hujan ke sini mau ketemu, tapi kamu malah pergi. Itu berarti malah belum cinta, tapi cinta sepenuhnya adalah ketika kamu bisa melakukan apa yang kamu bisa kepada orang yang kamu cintai. Itu adalah makna dari cinta. Pemaparan dilanjutkan oleh ustaz Anton, beliau mengatakan bahwa cinta ini sangat unik. Dikiranya bahwa cinta orang terutama ulama zaman dahulu adalah antara cinta Allah/Tuhan kepada hamba-Nya. Sedangkan konteks cinta pada masa kini adalah antar manusia.

Sehingga banyak yang menyatakan bahwa cinta yang zaman dahulu itu sudah ketinggalan zaman dan tidak diminati oleh pemuda masa kini. Namun ternyata, ada salah seorang ulama dari Spanyol bernama Ibnu Hazm yang telah membahas tentang cinta dalam sebuah kitab khusus dan menariknya adalah cinta yang dibahas oleh beliau juga berkaitan dan sangat relevan dengan makna cinta antar manusia. Saya agak lupa secara detail materi yang beliau sampaikan, yang jelas pertama beliau membenarkan apa yang dikatakan kang Joko bahwa cinta itu tidak

dapat dilihat, namun dapat dirasakan. Serta cinta itu tidak butuh pengorbanan karena jika anda merasa sudah berkorban, berarti justru anda belum memiliki cinta. Beliau menambahkan bahwa Cinta itu tidak bisa diberi sebuah definisi secara pasti, karena masing-masing tokoh mempunyai pandangan masing-masing mengenai cinta. Menurut beliau, pemahaman manusia mengenai cinta lebih kepada pemaparan bukan definisi karena definisi itu cenderung membatasi sedangkan paparan adalah menjelaskan suatu hal berdasarkan satu atau beberapa sudut pandang yang dianggap benar, namun juga tidak menutup kemungkinan kebenaran yang lain.

Tema kedua yang disajikan adalah bagaimana cara mencintai. Masih tersambung dengan tema pertama tadi kang Joko menjelaskan secara panjang kali lebar tentang bagaimana cara mencintai atau lebih tepatnya mengekspresikan bentuk cinta itu. Dikembalikan lagi kepada pernyataan beliau yang pertama bahwa jika anda mencintai, maka tidaklah pantas anda merasa telah melakukan pengorbanan. Ya itu semua dilakukan semata-mata karena wujud kecintaan kita terhadap suatu objek.

Seperti salah seorang sufi wanita yang bernama Rabiah Al Adawiyah, beliau pergi pada malam hari dan membawa obor di tangan kanan dan seember penuh air di tangan kiri. Lalu mengatakan kepada seluruh penduduk desa.

“Aku akan memadamkan neraka dengan air ini, agar tak ada lagi yang menyembah Allah karena takut dengan Neraka. Lalu, akan ku bakar Surga dengan api ini, agar tak ada lagi yang menyembah Allah hanya karena menginginkan Surga. Agar semua menyembah Allah hanya karena cinta”.

Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Cak Nun bahwa surga itu adalah bonus yang diberikan Tuhan bagi mereka yang mencintainya. Nikmat terbesar bukanlah surga, melainkan bisa bertemu dengan Allah swt. Meskipun hal ini adalah konsep beribadah tertinggi, yakni sepenuhnya dengan cinta.

Lalu disambung dengan narasumber kedua yakni ust. Anton, beliau mengutip salah satu karangan Ibnu Qoyyim Al Jauzi mengenai cinta. Ada 30 pasal yang ditulis oleh Ibnu Qoyyim yang membahas khusus mengenai cinta. Meskipun tidak dijelaskan satu persatu.  Yang masih saya ingat adalah jika Anda ingin berhubungan dengan Allah, maka beribadahlah. Namun, jika ingin berbicara mesra dan penuh kasih sayang kepada Allah, maka bacalah Alquran.

Sesungguhnya Alquran adalah wujud kecintaan Allah pada makhluk-Nya. Disebutkan kata Allah dari kata al Illah yang artinya “di cintai” hampir 2300 kali, sedangkan Rabb yang berarti mengatur segala sesuatu, menghukum, dll disebutkan dalam Alquran hanya 950-an saja. Berarti jelas bahwa sesungguhnya Allah ingin menegaskan bahwa cinta Allah jauh lebih besar daripada murka Allah.

Dari sekian banyak materi yang disampaikan, saya hanya mengingat sedikit ini karena keterbatasan ingatan saya. Sebenarnya, saya ingin mengulangi materinya dengan melihat siaran ulang live streaming di ig SenimanNu, akan tetapi naas ketika sampai di tengah acara, handphone yang digunakan untuk live streaming telah mati karena kehabisan baterai dan belum sempat untuk disimpan. Ah, sudahlah bagaimana lagi. Saya buat saja semampu saya, agar yang lain ikut merasakan bagaimana serunya kemarin acara Seniman NU Sedikit saja menarik, apalagi ikut dan tau lebih banyak. Bukankah begitu? Semoga acara selanjutnya lebih banyak lagi penikmat acara kita semua ini.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi serta kutipan cerita pendek berjudul Jawaban Alina karangan Seno Gumira yang menurut saya luar biasa indah serta sangat cocok dengan tema pada malam hari ini.

Tak lupa pula, iringan akustik juga turut memeriahkan acara pada malam itu. Dan acara pun diakhiri dengan penggalangan dana untuk saudara-saudara di Palu dan Donggala. Semoga acara SNU ke depan bisa menjadi lebih baik lagi, terus menebar cinta dan kedamaian. Akhir kata dari penulis, maaf jikalau banyak kata yang kurang berkenan dan banyaknya kekurangan karena keterbatasan penulis pribadi


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!